40 Masjid Dicap Radikal. Isyu yang Menuai Penolakan

Wakapolri Komjen Syafruddin. Sumber Foto : TribunNews

// 40 Masjid Dicap Radikal. Isyu yang Menuai Penolakan //



#InfoMuslimahJember – Monsterisasi simbol Islam sudah seringkali terjadi. Pada peristiwa yang lalu kita bisa mengetahui itu terjadi pada Bendera dan Panji Rasulullah, Al-Liwa’ dan Ar-Roya’. Segelintir orang menuduh dengan masif bahwa itu adalah bendera teroris. Masih belum cukup sampai di situ, Al-Qur’an menjadi salah satu barang bukti tindak terorisme.

Baru-baru ini ada wacana masjid dicap Radikal. Hal ini berawal dari ucapan sejumlah tokoh seperti Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno tentang paparan radikalisme di masjid. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya ada 40 masjid. Daftar itu ada di Biro Pendidikan, Mental, dan Spiritual (Dikmental) dan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (BAZIS) DKI. (republika.com)

BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) juga mengaku bahwa sejak tahun 2012 telah ada laporan mengenai perkembangan pemahaman radikal di masjid sejak tahun 2012. Namun BNPT masih menunggu bantuan dari kementerian agama, karena masjid merupakan ranah yang menjadi tanggung jawab kementerian agama yang dipimpin oleh Lukman Hakim Saifuddin. (TribunNews)

"Kemenag kami minta atensi, (karena masjid) itu kan di bawah naungan Kemenag," kata Suhardi Alius, Kepala BNPT.

Namun, hal ini dibantah oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI). Komisaris Jenderal Polisi Syafurddin selaku wakil ketua DMI membantah isu terkait 40 masjid di DKI Jakarta yang dikabarkan terpapar radikalisme. Menurutnya ucapan tersebut tidak benar.

"Saya bantah ucapan itu," kata Syafruddin menegaskan, Jumat (8/6).

Menurut dia, konteks terpapar radikalisme tidak bisa disematkan pada Masjid. Kerena, masjid adalah benda. "Yang terpapar itu pasti bukan masjid, karena masjid adalah benda bukan orang," kata dia.

Ia juga membantah bila pengurus masjid sudah terpapar radikalisme. "Saya bantah itu tidak benar," kata pria yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini.

Radikal kini dianggap sebagai bagian atau kubu ‘kontra-pemerintah.’ Dan yang dianggap radikal adalah yang dipandang dekat pada simbol-simbol Islam tertentu. Padahal simbol-simbol itu adalah hal biasa bagi umat Islam. Sejatinya ada lebih banyak simbol-simbol yang membahayakan negara, namun tidak mendapat proyek ‘monsterisasi’. Umat Islam yang paham, wajib melakukan penolakan.

(09/06)

Reporter : Helmiyatul Hidayati
Editor : Wardah Abeedah

0 Comments

Posting Komentar