Fiqh Seputar Zakat Fitrah



[KAJIAN FIQH]

/Fiqh Seputar Zakat Fitrah/


Zakat fitrah disebut juga dengan shadaqah fitrah sebagaimana disebut dalam beberapa hadits. Diberi istilah zakat fitrah (zakat al-fithri) karena berbuka (al-fithr) setelah berpuasa menjadi sebab harus dikeluarkannya zakat ini, atau katakanlah zakat fitrah ini wajib dengan tibanya hari idul fithri.

/Hukum Zakat Fitrah/

Hukum zakat fitrah wajib berdasarkan hadits dari Ibnu Umar ra. Ia berkata,

"Rasulullah saw memfardhukan zakat fithrah: yaitu satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ jewawut (barley), atas budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang tua dari kalangan kaum muslimin dan beliau memerintahkan zakat fitrah itu untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat hari raya" (HR. Bukhari 1503)

Dan juga hadits yang menjadi dilalah (penunjukan) yang jelas terhadap kefardhuannya, 

"Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka termasuk zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu menjadi salah satu sedekah saja."

/Waktu Mengeluarkannya/

Menurut jumhur ulama (Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad ibn Hanbal dll), waktu wajib mengeluarkannya adalah ketika terbenamnya matahari pada hari akhir bulan Ramadhan, atau ketika dimulainya malam idul fithri. Hal ini karena zakat tersebut adalah zakat fitrah (zakaatul fithri) dan idul fitri dimulai ketika selesainya puasa ketika matahari terbenam di hari akhir bulan ramadhan.

Menurut mayoritas ahli fiqh, disunnahkan untuk mendahulukan zakat fitrah sebelum shalat iedul fithri, dan dibolehkan mengeluarkannya hingga penghujung hari idul fithri.

Menurut imam Syafi’i, boleh mengeluarkan zakat fitrah sejak awal Ramadhan.

/Kepada Siapa Diwajibkan?/

Zakat fitrah diwajibkan atas setiap muslim tanpa kecuali, wajib atas orang kaya maupun fakir, tua ataupun bayi, laki-laki ataupun perempuan, merdeka ataupun budak, berpuasa ataupun tidak, dan dalam nash-nash tidak ada pengecualian (al-istitsna), pembatasan (taqyid) apapun untuk hukumnya yang bersifat umum ataupun mutlak. 

Rasulullah saw memfardhukan zakat fithrah. Yaitu satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ jewawut (barley), atas budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang tua dari kalangan kaum muslimin dan beliau memerintahkan zakat fitrah itu untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat hari raya 
(HR. Bukhari 1503)

Dari Abu Sa’id ra, 
"Kami mengeluarkan zakat fitrah dan Rasulullah saw berada di tengah-tengah kami, dari setiap anak kecil dan orang tua, orang merdeka dan hamba…
(HR. Muslim, Bukhari dan Darimi)

Menurut Asy-Syafi’iy, wajib bagi semua muslim yang hidup di bulan Ramadhan (dalam istilah Jawa “menangi” Ramadhan). Jadi jika meninggal di malam satu Ramadhan atau bayi yang lahir di malam syawal, maka orang yang meninggal atau bayi tersebut terkena kewajiban mengeluarkan zakat fitrah.

Sedangkan orang yang tidak memiliki ukuran untuk mengeluarkan zakat fitrah maka ia termasuk orang yang dimaafkan, yang tidak mampu berzakat fitrah, sehingga kewajiban zakat fitrah itu gugur atas dirinya. Dalil pendapat ini adalah As-sunnah. 
Rasulullah saw bersabda,

“Dan jika aku perintahkan kalian melakukan sesuatu, maka penuhilah semampu kalian (HR. Bukhari, Muslim dan selainnya)

/Jenis Makanan Yang Dikeluarkan Untuk Zakat Fitrah/

Didalam nash, bahan makanan yang biasa dikeluarkan dalam zakat fitrah di masa Rasulullah saw, para sahabat dan tabi’in adalah gandum, kurma, jewawut dll. Maka sebagaimana dibolehkannya makanan-makanan tersebut, makanan apapun yang digunakan oleh manusia sebagai makanan pokok, bisa dikeluarkan untuk zakat fitrah. Jumhur ulama berpendapat, yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah makanan pokok saerah setempat.

Adapun mengeluarkan zakat fitrah dengan harga atau nilai, hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Malikiy, makruh. Menurut Asy-Syafiiy : tidak boleh. Sedangkan Syaikh uwaidhah, Imam abu Hanifah, membolehkannya.

/Ukuran Zakat Fitrah/

Terdapat perbedaan pendapat tentang ukuran zakat fitrah. Jumhur ulama menetapkan satu sha’. (1 sha’=4 mud). Penetapan berapakah satu sha’ juga terdapat perbedaan di kalangan ulama.
Menurut para ahli dan para pakar : 2,175 kg
Madzhab Maliki : 2700gr
Madzhab Syafi’I & Hanbali :2,75 kg

/Kepada Siapa Zakat Fitrah Diserahkan?/

Zakat fitrah adalah zakat. Maka diserahkan kepada mustahiq zakat yang 8 ashnaf. Sebagaimana telah disebutkan dalam surah at-Taubah 60.
Sebagian ulama berpendapat, zakat fitrah lebih utama diserahkan pada fakir dan miskin.

**Catatan :

- Zakat fitrah dikeluarkan oleh laki-laki dan dia wajib mengeluarkan zakat orang-orang yang menjadi tanggungan nafkahnya
- Di antara perbedaan zakat fitrah dan zakat maal ialah, zakat mal berfungsi untuk mensucikan harta. Sedangkn zakat fitrah berfungsi untuk mensucikan diri. Terutama bagi sho'im (orang yang berpuasa), zakat fitrah menjdi penyempurna puasanya sebagaimana dalil dari As-Sunnah,

"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai alat bersuci bagi orang yang puasa dari lahw (main-main atau senda gurau) dan rafats." (HR.Abu Dawud)

[Usth. Wardah Abeedah]

Sumber :
الجامع للاحكام الصيام - محمود عبد اللطيف عويضة dan Kitab-kitab Fiqh syafii, dll

0 Comments

Posting Komentar