MEMELIHARA TAKWA PASCA PUASA



[Cermin Hati]

MEMELIHARA TAKWA PASCA PUASA


Oleh: Arief B. Iskandar
(Khadim Majelis an-Nahdhah & Roudhotul Quran)

Berbicara tentang takwa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra. saat beliau mengutus dia ke Yaman:

اتق الله حيثما كنت
“Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun/kapanpun/dalam keadaan bagaimanapun…” (HR at-Tirmidzi).

Terkait dengan frasa "ittaqilLah" (bertakwalah engkau kepada Allah) dalam potongan hadis di atas, banyak sifat yang dilekatkan kepada orang-orang bertakwa (muttaqin). 

Orang bertakwa adalah orang yang mengimani yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian harta, mengimani al-Quran dan kitab-kitab yang Allah SWT turunkan sebelum al-Quran dan meyakini alam akhirat (QS al-Baqarah [2]: 1-4). 

Mereka juga biasa menginfakkan hartanya di saat lapang ataupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya serta tidak meneruskan perbuatan dosanya (QS Ali Imran [3]: 133-135). 

Tentu masih banyak sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam al-Quran maupun as-Sunnnah. 

Adapun terkait frasa "haytsuma kunta", secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa kata haytsu bisa merujuk pada tiga: tempat (makan), waktu (zaman) dan keadaan (hal). Karena itu sabda Baginda Rasul saw. kepada Muadz ra. tersebut sebagai isyarat agar ia bertakwa kepada Allah SWT tidak hanya di Madinah: saat turunnya wahyu-Nya, saat ada bersama beliau, juga saat dekat dengan Masjid Nabi saw. Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT di mana pun, kapan pun dalam keadaan bagaimana pun (Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh al-Arbain an-Nawawiyyah, 42/4-8).

Alhasil, kita pun sejatinya bertakwa tidak hanya saat berada pada bulan Ramadhan saja, yang kebetulan baru kita lalui, tetapi juga di luar Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya. 

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

0 Comments

Posting Komentar