Mendidik Anak Menerima Ampau Lebaran


[KELUARGA SAKINAH]

/Mendidik Anak Menerima Ampau Lebaran/


Oleh : Usth. Yanti Tanjung

Sudah tradisi tahunan berbagi uang lebaran, bahkan sengaja uangnya baru semua menarik minat anak-anak. Pastinya penuh kebahagiaan dan moment yang ditunggu-tunggu setahun sekali baik yang memberi maupun yang manerima. Berbagi itu sangat dianjurkan dan jika niatnya ikhlas karena semata-mata mencari ridha Allah swt maka pahala baginya.

Anak-anak tentu memiliki sejumlah uang di suasana lebaran karena memang banyak yang ngasih, ada yang mencapai 500 ribu bahkan 1 juta hasil ngumpulin ampau. Biasanya kalau anak balita setiap uangnya terkumpul diberikan ke ibunya untuk disimpan, jadilah ibu menerima penampungan hehe. Ibu juga terkadang punya kesempatan memakainya karena uangnya sudah ludes buat urusan dapur. Asal izin saja ke anaknya silahkan dipakai dengan syarat anak mengizinkannya dan tidak menangis. Jangan lupa ya ibu-ibu kalau akadnya pinjam nanti balikin.

Jika perkara berbagi itu disunnahkan dan merupakan perkara ibadah yang tidak boleh lepas dari dzikrullah dan rasa syukur tentu saat berpikir tentang cara berbagi harus memakai adab jangan asal rame dan ajang kompetisi yang membahayakan dan merusak makna idul fithri.

Cara (uslub) membagikan angpau ada yang melakukan dengan anak-anak antri dengan tertib sambil sungkem dan berterima kasih. Ada juga dengan cara membuat quize dulu, memberikan pertanyaan, siapa yang berani dan bisa menjawab baru diberi. walau pakai cara ini pertanyaan harusnya berbobot, menguji tsaqafah Islam anak misalkan, menguji hafalan Al-qurannya dll. kalau memberi pertanyaan berapa ukuran sepatu ya...kurang bermanfaat saja.

Ada juga tradisi saweran, anak-anak dan orang dewasa rebutan uang 2 ribuan yang baru, 5 ribuan, 10 ribuan ditebar dan hasil berdasarkan nasib keberuntungan. Ada anak kecil yang keinjak, rebutan tapi gak dapat-dapat akhirnya nangis karena orang dewasa lebih piawai. Saya pikir pilihan uslub begini jauh dari adab islami, bahkan bisa jadi untuk perkara tertentu melanggar syari'ah, ikhtilath misalkan.

Sebagai muslim apalagi pengemban dakwah sejatinya tetap di atas landasan aqidah ketika beramal, agar tujuan meraih ridha Allah, senantiasa dalam dzikrullah tetap tersuasanakan, bukan asal bersenang ria dalam merayakan hari raya, tapi tidak mendapatkan pahala.

Bagaimana kita mendidik anak ketika menerima ampau, terimalah dengan tangan kanan tidak meminta, ucapkan jazakumullah khair lalu pergi. Uang yang sudah terkumpul belanjakan kepada hal-hal yang penting dan berguna buat sekolah misalkan tas, buku dll. Boleh jajan namun yang halal dan thoyyib. Jika masih ada sisa baiknya diinfakkan atau ditabung.

Wallaahu a'lambishshowab
 —

0 Comments

Posting Komentar