Menghayati Idul Fitri dari Keluarga Amiirul Mukminin


[Kajian Siroh]

Menghayati Idul Fitri dari Keluarga Amiirul Mukminin


Oleh : Wardah Abeedah

Idul fitri masa itu mendatangkan kegembiraan bagi setiap anak. Namun tidak dengan putri Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Gadis kecil itu memasuki rumahnya yang sederhana sambil menangis. Sang khalifah kemudian bertanya, "Ada apa anakku? apa yang membuatmu menangis?"

Masih tersedu, lisan mungilnya menjawab "Ayahku, semua anak memakai baju baru, kecuali aku. Aku hanya memakai baju lama padahal aku putri Amiirul Mukminin".

Khalifah yang dikenal dengan kezuhudannya ini terenyuh oleh tangis anaknya. Ia kemudian pergi menemui penjaga Baitul Maal.

"Apakah engkau mengizinkanku menggunakan tunjanganku untuk bulan depan?" tanya sang khalifah.

Si penjaga menjawab, "Akan aku izinkan wahai Amiirul Mukminin. Tapi dengan satu syarat".

Umar bertanya kembali, "Apakah syaratnya?"

Si penjaga menjawab, "Berilah aku jaminan bahwa anda akan hidup hingga bulan depan. Sehingga anda bisa bekerja untuk mendapat tunjangan yang telah anda ambil di awal"

Umar kemudian meninggalkan Baitul Maal dan kembali ke rumahnya. Anak-anaknya bertanya, "Apa yang telah kau lakukan wahai ayah kami?"

Sang ayah yang dengan bijaknya menjawab, "Apakah kamu mau bersabar, lalu kita masuk ke surga bersama-sama? Ataukah kamu tidak bersabar lalu memasukkan ayahmu ke neraka?"

Anak-anak hasil didikan orangtua yang hebat ini lalu menjawab, "Kami akan bersabar, wahai ayah kami"

Beliau lalu berkata, "Laysal 'ied liman labisal jadiid. Walakinnal Ied liman najaa yaumal wa'iid.

Bukanlah Idul Fitri itu bagi mereka yang memakai pakaian baru. Tetapi ied, adalah bagi mereka yang selamat di hari akhirat".

Betapa menakjubkannya penggalan kisah dari keluarga pemimpin yang berjuluk Khulafaur Rasyidin kelima ini. 

Beliau mengajarkan kepada putra-putrinya, juga bagi kita yang menjejaki kisah kehidupannya, akan makna hakiki idul fitri. Bahwa sejatinya idul fitri bukan bermakna perayaan yang bersifat duniawi. Dengan pakaian, mukenah, dan benda-benda lainnya yang harus baru. Terlebih jika semua itu dilakukan demi pujian manusia semata, ma'aadzallah.

Akan tetapi, Idul Fitri adalah bagi mereka yang berhasil meraih keutamaan-keutamaan Ramadhan, sehingga selepas Ramadhan mereka meraih ampunan, rahmat, derajat taqwa dan keutamaan lainnya sehingga mendapatkan keselamatan di akhirat.

Sayangnya saat ini, kita hidup di tengah-tengah atmosfir kapitalisme yang pekat. Idul Fitri hanya kita maknai dengan pernak-pernik duniawi. Bahkan kesempatan sepuluh malam terakhir Ramadhan kita lalaikan demi menyibukkan diri dengan perkara yang mubah dan sekedar untuk persiapan semarak Idul Fitri yang dimaknai sempit. 

Jika dahulu Rasulullah SAW dan para sahabat menangis ketika akan ditinggal Ramadhan. Saat ini bisa kita lihat bagaimana ummat Muhammad telah meninggalkan Ramadan, padahal Ramadan masih ada. Betapa banyak keutamaan Ramadan di sepuluh malam terakhir yang kita tinggalkan demi berburu baju lebaran dan kue-kuenya. Atau menyibukkan diri dengan mencat ulang rumah dan mendekor indah rumah kita.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia adalah cucu dari sahabat yang dijamin surga, Umar bin Khattab. Keadilannya di masa kepemimpinannya teramat masyhur karena selepas ia dilantik sebagai Khalifah, ia serahkan sebagian besar kekayaannya untuk Baitul Mal. Di masa kekhalifahannya, tak ada rakyat yang mau menerima zakat. Tapi ia masih mengkhawatirkan Hari Akhir. Lalu bagaimana dengan kita?

Tak jarang kita lalai, akankah kita telah meraih predikat taqwa? yang Allah menjadikannya tujuan disyariatkannya puasa Ramadan?

Akankah selepas kepergian Ramadan Allah lebur semua dosa-dosa kita?

Sudahkah kita termasuk yang disebut Sang Khalifah dengan, "Orang yang selamat di hari akhir"?

Semoga Allah menerima amal-amal kita semua, mengampuni semua dosa-dosa dan menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa. Allahu a'lam bis shawab.

0 Comments

Posting Komentar