Senin, 30 Juli 2018

Agar Tak Lahir Generasi Alay



[KELUARGA SAKINAH]
Agar Tak Lahir Generasi Alay

Oleh: Kholda Najiyah

Aplikasi Tik Tok dengan platform video musiknya, telah melahirkan seorang remaja belasan tahun sebagai “berhala” baru. Para pemujanya yang kebanyakan remaja putri, melontarkan kata-kata tak pantas sebagai perwujudan rendahnya pendidikan moral mereka. Seperti hasrat untuk mengangkat sang pujaan hati sebagai Tuhan. Persis seperti generasi idiot. Latah tanpa berpikir panjang.

Meski sekadar celoteh alay anak-anak baru gede, patut kita introspeksi, ada apa remaja putri kita? Mengapa begitu memuja seorang anak lelaki yang hanya mereka saksikan di layar handphone mereka? Mengapa begitu agresif tanpa malu-malu mengekspresikan kekagumannya kepada publik? Boleh jadi, beberapa hal berikut ini yang terjadi. Dan ini yang harus kita atasi; agar anak-anak perempuan kita tidak terjerumus:

1. Haus Perhatian

Para remaja putri, demikian histerisnya terhadap idola yang notabene seorang pria. Jika sebelumnya seleb Korea yang dikenal dengan kemerduan suara atau kegantengannya, ini terhadap seorang anak sebayanya. Teman tak dikenal,yang prestasinya sama sekali tak ada. 

Keinginan bertemu, berfoto dan memujanya sedemikian rupa, boleh jadi karena mereka butuh perhatian oleh orang yang mereka anggap hebat. Kebanggaan terhadap orang terkenal, adalah obsesi anak-anak yang terlampau dibuai tontonan di dunia hiburan. Seolah kehebatan orang diukur dengan keterkenalannya. Dan, sedekat apa dia dengan orang terkenal itu adalah ukuran kehebatan dirinya.

Lantas bagaimana pencegahan atau solusinya? Kenalkan pada idola-idola lain yang bukan sosok merusak. Masih banyak tokoh publik yang baik dan bisa menjadi panutan. Seperti para dai, hafidz Quran atau generasi sahabat dan salafus saleh. Tetapi bukan juga untuk “diberhalakan.” Dan terpenting, orangtua, khususnya ayah, harus tampil menjadi idola kebanggan di rumah anak perempuannya.

2. Haus Agama

Anak-anak perempuan yang tidak memiliki tatakrama, juga tidak memiliki rasa malu; sesungguhnya potret kurangnya pendidikan agama. Baik dari orangtua maupun dunia pendidikan. Sebab, anak-anak yang paham agama, cenderung bisa mengerem dirinya agar tidak memalukan harga diri. Maka, dekatkan anak-anak dengan pendidikan agama yang kuat. Budaya masyarakat yang beragama, mengenal anak perempuan sebagai anak yang cenderung pemalu dan tidak agresif. Maka lindungi anak perempuan kita, jangan sampai kehilangan rasa malunya. 

3. Korban Influencer

Anak-anak kita saat ini hidup di zaman influencer. Zaman ketika setiap insan, bisa tiba-tiba meledak menjadi idola. Orang-orang rusak dan merusak pun jadi pujaan. Meracuni pola pikir, memengaruhi perilaku mereka hingga kadang tidak masuk akal. Maka, dampingi anak-anak agar tidak terjerumus dalam budaya selebritas. Jauhkan mereka dari idola-idola. Tanamkan pemahaman, kalaulah mengagumi orang baik, jangan berlebihan. Biasa saja. Sebab mereka toh juga manusia biasa. 

4. Korban Teknologi

Anak-anak adalah juga korban kecanggihan teknologi. Bermunculannya aplikasi, game dan berbagai fitur, memelenakan mereka. Apalagi tidak ada regulasi yang menyeleksi aplikasi mana yang berfaedah, dan mana yang membawa mudharat. Sebab, peradaban sekuler tempat lahirnya teknologi itu tak memperhitungkan halal-haram. Tak menimbang baik-buruk. 

Solusinya, awasi penggunaan gadget di tangan anak-anak. Untuk apa saja pemakaiannya. Jangan sampai mereka menjadi budak teknologi. Cermati perubahan perilaku mereka. Orangtua tidak boleh gaptek. Harus paham dan update dengan teknologi kekinian. Selain, orangtua juga harus memberi contoh untuk tidak menjadi budak teknologi.

5. Korban Sistem

Terakhir, tentu saja mereka adalah korban penerapan sistem sekuler-kapitalis yang memuja kesenangan jasadiyah. Mengutamakan kebahagiaan materi di atas segalanya. Anak-anak ini, secara langsung atau tidak, telah tertancapkan opini tentang kebahagiaan ala tokoh-tokoh pujaan di dunia maya. Hal yang semu tapi dikejar seolah nyata. Nah, tiada lain solusinya selain mencampakkan sistem hidup ini dan diganti dengan sistem Islam.(*)

0 komentar:

Posting Komentar