Sabtu, 21 Juli 2018

Badal Haji



[KAJIAN FIQH]
Badal Haji

Tanya: 

Badal haji itu mengganti org tua kita dalam haji ya? Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Kewajiban haji berbeda dengan kewajiban shalat. Kewajiban haji disyaratkan bagi yang memiliki istitha’ah (kemampuan). Istitha’ah dalam haji sebagaimana difatwakan oleh mayoritas shahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam dan para ulama pelanjut mereka adalah kemampuan badan dan bekal selama persiapan, keberangkatan, pelaksanaan haji dan kepulangan (Tafsir al-Qurthubi, 4/147).

Allah Ta'ala berfirman:

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

"Padanya (Baitullah) terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (QS. Ali Imran[3] : 97).

Selanjutnya hadits yang berkenaan masalah itu adalah sebagai berikut :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اِقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam, lalu berkata: “Sesungguhnya ibu saya bernadzar untuk berhaji, tetapi ia tidak berhaji sampai meninggalnya. Apakah saya dapat berhaji atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya, berhajilah kamu menunaikan nadzar ibumu. Apa pandanganmu jika ibumu mempunyai utang, apakah engkau akan membayarnya? Bayarkanlah (utang) kepada Allah, karena (utang) kepada Allah lebih berhak untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari No. 1852)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam beberapa bab, antara lain bab al-haji wan-nudzur ‘anil mayyit war-rajuli ‘anil mar`ah (bab haji dan menunaikan nadzar mayit, dan seorang laki-laki berhaji atas nama perempuan).” 

Dalam hal ini dikhususkan menunaikan nadzar mayyit karena zhahir haditsnya mengenai seorang anak perempuan bertanya mengenai nadzar haji ibunya yang telah wafat. Tentu saja haji yang ditanyakan oleh anak perempuan itu bukan kewajiban haji bagi yang mampu dan belum menunaikan ibadah haji, karena nadzar akan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban itu nadzarnya tidak sah. 

Akan tetapi jika bernadzar menunaikan haji, dan itu adalah haji untuk yang kedua kali atau ketiga, maka nadzar tersebut sah dan hukumnya wajib melaksanakan haji kedua kali tersebut. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam menjawab dengan sabdanya:

نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اِقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“Ya, berhajilah kamu menunaikan nadzar ibumu. Apa pandanganmu jika ibumu mempunyai utang, apakah engkau akan membayarnya? Bayarkanlah (utang) kepada Allah, karena (utang) kepada Allah lebih berhak untuk dipenuhi.”

Di dalam kitab an-nudzur (kumpulan bab tentang nadzar) cukup banyak kejadian pada masa Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam menunjukkan nadzar orang tua dapat dilaksanakan oleh anak jika ia terlanjur wafat. Umpamanya:

Dari Ibn ‘Abbas: “Sa’ad ibn ‘Ubadah al-Anshari meminta fatwa kepada Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam tentang nadzar yang dilakukan ibunya dan ia meninggal sebelum sempat menunaikannya. Maka Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam memberinya fatwa agar ia menunaikannya atas nama ibunya. Dan hal itu menjadi sunnah setelah itu.” (HR. Bukhari No. 6698)

Peristiwa seorang anak perempuan yang bertanya tentang nadzar haji ibunya itu terjadi pada saat haji wada. Berarti, kejadiannya setelah kasus Sa’ad bin Ubadah ini. Maka dapat disimpulkan bahwa menunaikan nadzar orang tua yang belum dilaksanakan menjadi kewajiban ahli warisnya (dan dalam hal ini anak-anaknya).

Kesimpulan:
1. Nadzar #haji yang dilakukan oleh orang yang belum berhaji nadzarnya tidak sah. Karena haji merupakan kewajiban seorang muslim.
2. Nadzar haji untuk berhaji kedua kali dan seterusnya yang hukumnya sunat menjadi wajib dilaksanakan. Bila meninggal sebelum dilaksanakan, maka ahli warisnya wajib melaksanakannya.

Wallaahu a'lam.

Sumber: Channel Telegram Ngaji Fiqh

——————————
Silakan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:




——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar