Sabtu, 21 Juli 2018

Ibu Tangguh Itu Bernama Asma’ binti Abu Bakar



[KAJIAN SIROH]

Ibu Tangguh Itu Bernama Asma’ binti Abu Bakar

Oleh: Wardah Abeedah

Asma’ binti Abu Bakar adalah seorang wanita yang namanya harum dalam tinta sejarah Islam. Beliau adalah wanita yang diliputi oleh banyak keberkahan.
Ayahnya adalah kekasih dan sahabat rasulullah yang mendapat jaminan surga, bahkan Rasul SAW mengabarkan bahwa ayahnya bisa memasuki surga melalui pintu manapun. Adiknya, Aisyah RA ditetapkan menjadi istri Rasulullah dunia-akhirat.

Anaknya Abdullah bin Zubair adalah seorang pemimpin hebat, panglima perang besar
sekaligus sahabat yang dikenal sangat kuat ibadahnya. Syahidnya Abdullah bin Zubair di medan perang sebagai panglima telah
membuktikan bahwa Abdullah adalah seorang panglima pemberani, memiliki
karakter kepemimpinan yang kuat. Berani dan kuat. Ini adalah dua karakter yang paling menonjol dari sahabat rasul yang satu ini.
Keberanian dan kepemimpinannya tentu tidak muncul dengan tiba-tiba, tapi
ada peran seorang ibu hebat yang mendidik dan memberikan keteladanan baginya.

Ialah dzatun nithaqain, pemilik dua selendang. Julukan ini disematkan oleh
rasulullah padanya karena keberaniannya menolong rasulullah SAW saat peristiwa
hijrah rasulullah SAW ke Madinah.

“Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak
bertolak ke Madinah untuk berhijrah. 

Aku berkata kepada ayah, ‘aku tidak membawa
sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini’. Ayahku berkata,
‘Belahlah selendangmu menjadi dua’. Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain (HR Bukhari).

Dalam kondisi hamil, beliau mengambil resiko terbunuh karena menolong
lelaki (Muhammad SAW) yang sedang diburu oleh seluruh Quraisy demi mendapat
100 ekor unta. Asma’ tak gentar dan tak takut melakukannya. Karena dia tahu betul
urgensi keselamatan baginda nabi demi dakwah dan agama. Jika rasulullah SAW
selamat dalam hijrahnya ke Madinah, maka masa depan gemilang Islam, ummat dan peradaban dunia akan terwujud. Sehingga kehebatan mukjizat Al-Quran akan benar-
benar terealisasi dalam tatanan dunia yang kehebatannya mencengangkan semua
manusia hingga akhir zaman. Asma’ juga mengikuti perang Yarmuk dan beliau berperang selayaknya
mujahid lainnya.

*Kisah rumah tangganya bersama lelaki ahli surga*

Ketika menjelang dewasa, Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, salah
satu dari 10 sahabat rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Asma’ yang merupakan putri dari saudagar kaya, Abu Bakr Ash-shiddiq menikahi Zubair yang tak berharta. Namun kehidupan yang sulit pasca pernikahan dilaluinya dengan penuh kesabaran, ketaatan pada suami dan senantiasa mengharap ridho-Nya.

Dari pernikahannya, ia memiliki putra dan putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah.

Namun 28 tahun kemudian, Allah mentaqdirkan rumah tangga yang berjalan dalam tuntunan nabawiy itu kandas oleh perceraian.
Disini, sisi manusiawi para sahabat yang mulia bia kita lihat. Meski Zubair bin
Awwam adalah lelaki yang dijamin surga, namun jika Allah berkehendak, dia tak
mampu mempertahankan mahligai rumah tangganya. Pun Asma’ yang terkenal tangguh dan pemberani, tak sanggup menyangga rumah tangga dari keruntuhan.

*Tangguh dalam Kesendirian*

Dalam berbagi kitab siroh dan tarikh, kisah Asma’ binti Abu Bakr pasca perceraiannya dengan Zubair adalah kisah-kisah tentang kehebatannya sebagai ibu, lebih tepatnya, sebagai single mom.

Pasca perceraian, Zubair dengan ketaqwaannya yang tinggi masihlah berperan sebagai ayah yang hebat bagi anak-anaknya. Namun peran Asma’ yang terjun
langsung secara maksimal dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya tetaplah
memiliki porsi yang dominan.

Kesendirian dan kegagalannya tak lantas mebuatnya terpuruk. Asma’
masihlah sang pemberani, masihlah wanita cerdas dan ahli ibadah. Lebih dari itu,
ketangguhannya dalam menjalani kehidupan dan memberikan yang terbaik untuk
agama semakin kuat menancap.

Asma’ membesarkan anaknya dengan tekad mengorbankan mereka di jalan
Allah. Ini terbukti Asma’ melepasnya untuk berjihad pertama kali di usia Abdullah yang baru menginjak 12 tahun. Bersama ayahnya Zubair bin Awwam, juga ibunya,
Abdullah berjihad dengan gagah berani.

Ketangguhan Asma’ dalam mencetak mujahid hebat yang tak gentar menyerahkan nyawa untuk Allah bisa kita ketahui dari percakapan Abdullah bin Zubair dengan ibunya ketika Hajjaj bin Yusuf mengepung Abdullah di Makkah.

Abdullah yang ketika itu menemui ibunya untuk mengharapkan amunisi iman dari
ibunya, mengadukan keadaannya saat itu pada sang ibunda tercinta, Asma binti Abu Bakar.

“Anakku, jika engkau yakin berada di atas kebenaran, janganlah mundur.
Jika engkau menginginkan harta dunia, sesungguhnya engkaulah seburuk-buruknya
manusia ” Jawab Asma memberikan dorongan dan juga semangat kepada anaknya.
Saat itu, Asma telah berumur hampir 100 tahun, namun kebijaksanaannya
masih tetap terpancar.

“Sesungguhnya anakmu ini takut bila nanti mereka berhasil
membunuhku dan menyayati jasadku,” Ucap Abdullah kembali.

“Sesungguhnya kambing yang sudah disembelih tak sedikit pun akan merasakan kesakitan ketika dagingnya disayat-sayat,” ucap ibunya menjawab.
3
Asma’ hendak memeluk putranya tersebut untuk terakhir kali, tetapi tangannya menyentuh baju besi yang dipakai Ibnu Zubair, segera saja ia berkata, 

"Apa-apaan ini Abdullah?!! Orang yang memakai ini, hanyalah mereka yang tidak
menginginkan apa yang sebenarnya engkau inginkan (kesyahidan)!!"

Abdullah bin Zubair segera melepas baju besi tersebut kemudian berpelukan
dengan ibunya. Asma mengucapkan beberapa patah doa sebagai pengiring dan
penyemangat anaknya untuk terakhir kalinya
Abdullah bin Zubair seolah mendapatkan amunisi baru. Kata-kata serta
dorongan sang ibu inilah yang membuat Abdullah bin Zubair bergegas menyongsong
kesyahidan. Hingga membuatnya berhasil ditangkap dan dibunuh. Setelah itu, jasadnya dinaikkan ke tiang gantungan dan disalib di bukit Tsaniyyatul Wada. 

Setelah
berhasil membunuh Abdullah bin Zubair, Hajjaj kemudian mendatangi Asma binti Abu Bakar. 

“Apa pendapatmu dengan apa yang telah aku lakukan pada anakmu,
wahai Asma?” ucap Hajjaj kepada Asma.

“Engkau telah merusak dunianya, namun ia juga telah merusak akhiratmu,”
jawab Asma tegar dan tabah.
Aduhai, kalimat apa ini? 

Bagi para ibu yang memandang bahwa kebahagiaan
adalah dengan melimpahnya harta, kedudukan tinggi di mata manusia, pasti tak akan
sanggup menjangkau sedikitpun bahkan satu hurufpun dari kedahsyatan kalimat-
kalimat yang keluar dari lisan Asma’.

Hanya mereka yang memilih jalan hidup fi sabilillah bagi diri dan anaknya
saja yang mampu memahaminya.

Hanya mereka yang pandangannya sudah
menjangkau surga dan ridho Allah saja yang mampu memaknai kalimat-kalimat
Asma’ dengan rasa yang sama dengannya.

Hanya para wanita yang menyerahkan
cinta tertingginya untuk Allah saja, yang sanggup mengerti setiap huruf dari kalimat-
kalimat Asma’ untuk putranya.
Ya, untuk menghamba pada Allah, dia besarkan Abdullah. Untuk menjadi
khalifah fil ardh, dia mendidik Abdullah. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk
menjemput syahid di jalan kebenaran demi menjaga Islam, Asma’ lah yang menguatkan putranya untuk bergegas menjemputnya, untuk terjun ke medan jihad
dengan maksimal.

Di usia 100 tahun, Asma’ wafat sedangkan sejarah mencatatnya sebagai
politisi cerdas, mujahidah pemberani, dan seorang ibu yang tangguh.

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar