Senin, 30 Juli 2018

Imam Bondjol, Seorang ‘Teroris’ di Era Penjajahan Belanda



Imam Bondjol, Seorang ‘Teroris’ di Era Penjajahan Belanda

Imam Bondjol adalah pahlawan nasional Indonesia abad kesembilan belas awal yang sering dianggap berpaham Wahabi, pemimpin paling terkenal dalam Perang Padri. Gerakan ini diawali dengan pulangnya para haji yang menunaikan ibadah haji di Mekah.

Selama beberapa dekade nama Tuanku Imam Bonjol, hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran uang kertas Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia tahun 2001. Tuanku Imam Bonjol (1722-1864), diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973.

Setelah peristiwa 11 September 2001, sempat muncul perdebatan seputar Padri dan Imam Bondjol yang memakai sorban dan berjenggot panjang. Ada yang protes dan menyatakan bahwa, seharusnya pemerintah Indonesia tidak memasukkan teroris sebagai pahlawan Nasional Indonesia. Namum secara umum para ahli sejarah Indonesia tidak mempermasahkan hal itu, toh Soekarno dan Muhammad Hatta menyebut Imam Bonjol sebagai Pahlawan Indonesia.

Di negeri Belanda pada tahun 1928, Mohammad Hatta menyampaikan pidato berbahasa Belanda dengan tema “Free Indonesia.” Dalam sambutannya, Hatta mengkritik kebijakan Pemerintah penjajah Belanda yang memaksa rakyatnya untuk mempelajari legenda heroik William Tell, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William orange, dan lain-lain namun meremehkan tindakan bangsa Indonesia yang menentang Penjajahan Eropa:

“So too must Indonesian youth parrot its masters and call its own heroes, like Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengkoe Oemar and many others, rebels, insurgents, scoundrels, and so on”

“Pemuda Indonesia juga dipaksa menjuluki pahlawan sendiri, seperti Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, teroris dan sebagainya”.

Menariknya dalam terjemahan buku Muhammad Hatta pada tahun 1972 kata scoundrels diterjemahkan sebagai ‘teroris’. Kata yang biasa disematkan oleh pemerintah penjajah Belanda pada para pejuang yang melawan kezaliman dan penjajahan.

Selain Hatta, sejak tahun 1945 Sukarno menyebut Tuanku Imam Bondjol sebagai yang pertama dari Pahlawan Tiga-sekawan yang telah berjuang melawan ekspansi kolonial Belanda: Tuanku Imam Bondjol Minangkabau Sumatera Barat, Diponegoro dari Jawa Tengah, dan Teuku Oemar dari Aceh.

Kondisi Minangkabau waktu itu penuh dengan kemerosotan moral dan ekonomi di masyarakat. Masyarakat menginginkan perubahan dan perbaikan. Hingga akhirnya terjadi upaya untuk melakukan perbaikan yang dipelopori para ulama Minangkabau yang baru pulang dari Mekah, gerakan reformasi ini kemudian disebut sebagai gerakan kaum Padri.

Gerakan tersebut mendapatkan dukungan yang begitu besar dari masyarakat Minangkabau saat itu. Hal itu terjadi karena reformasi yang digulirkan berhasil meningkatkan kemakmuran rakyat Minangkabau. Disamping itu, rakyat sudah lama kecewa dengan kepemimpinan para penghulu serta kemunduran perdagangan dan ekonomi minangkabau.

Christine Dobbin, seorang peneliti dari Australia dalam tulisannya yang berjudul “Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830” mengakui kemajuan yang berhasil dicapai atas reformasi (yang lebih tepatnya disebut revolusi karena menyangkut berbagai aspek kehidupan walaupun yang paling tampak adalah praktek beragama, ekonomi dan politik) yang dipelopori oleh para ulama Minang ini.

“Towards the end of the eighteenth century the heartland of the Minangkabau people of West Sumatra experienced a large-scale commercial revival, bringing not only new prosperity to the area but also markedly altering its previous pattern of trade”

“Menjelang akhir abad kedelapan belas wilayah Minangkabau di Sumatera Barat mengalami kebangkitan perdagangan skala besar, tidak hanya membawa kemakmuran baru pada daerah, tetapi juga mengubah pola perdagangan sebelumnya.”

Kepimpinan trio ulama Sumatra di era Padri, Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau, Tuanku Tabusei di Riau dan Tuanku Rao di Rao dan Mandailing, pada era Padri di Sumatera adalah sebuah rangkaian jaringan kepimpinan yang profesional, mengingat susahnya transportasi dan alat komunikasi ketika itu. Sepak terjang mereka telah menjadi catatan sejarah yang amat penting bagi penulis-penulis orientalis. Keberadaan mereka sangat menyusahkan penjajah. Mereka juga meninggalkan kesan mendalam terhadap Islamisasi Sumatra.

===
——————————
Silakan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:




——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar