Kamis, 12 Juli 2018

Ini Sebab Kenaikan Harga Telur Ayam dan Solusi Islam



[Rubrik Ekonomi] 
Ini Sebab Kenaikan Harga Telur Ayam dan Solusi Islam

Oleh: Ragil Rahayu, SE

Pertanyaan : 
Kenapa akhir-akhir ini harga telur ayam naik? Apa solusinya? 

Jawab :
Harga telur ayam di pasar saat ini sedang tinggi. Di Jakarta, harga telur ayam mencapai Rp 30 ribu. Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, penyebabnya karena harga bahan baku pakan ternak ayam. "Iya (harga telur ayam tinggi). (Penyebabnya) harga bahan pakannya naik kan," (detik.com, 10/7/2018).

Sedangkan versi peternak, ada dua penyebab naiknya harga telur ayam. Satu, ada kemungkinan peternak-peternak kecil tidak bisa bertahan. Sehingga pasokan turun. Faktor kedua, akhir-akhir ini banyak ternak ayam petelur yang diserang penyakit sehingga produksi telur mengalami penurunan. 

Bisa disimpulkan, penyebab naiknya harga telur adalah : 
a. Kurangnya pasokan. Karena berkurangnya produsen dan masalah penyakit ayam. 
b. Mahalnya biaya produksi. Karena naiknya harga bahan pakan ayam, yang mayoritas impor. Sebagai imbas menguatnya Dolar Amerika terhadap Rupiah. 
Saat ini pakan ternak dibanderol antara Rp 7.100 hingga Rp 7.200 per kg dari sebelumnya kisaran Rp 6.700 hingga Rp 6.800 per kg. 

Kenaikan harga telur ayam bukan terjadi sekali ini saja. Setiap tahun yaitu setiap bulan puasa dan lebaran, harga kebutuhan pokok seperti telur, beras, ayam dan daging sapi selalu naik. Setelah lebaran, harga memang turun, tapi tidak kembali ke harga sebelum bulan puasa. Siklus tahunan ini dianggap wajar oleh pemerintah, sehingga minim penyelesaian. 

Islam mendudukkan pemerintah sebagai raa'in (pengurus) dan mas'ul (penanggungjawab). Maka pemerintah bertanggung jawab menjaga kestabilan harga pangan. Meski pematokan harga (tas'ir) dilarang dalam Islam, namun masalah harga harus dituntaskan. 

Mekanisme Islam untuk menstabilkan harga adalah :
1. Memastikan kecukupan pasokan. 
Dalam konteks telur ayam, pemerintah harus memiliki data valid kebutuhan telur per wilayah. Lalu dibangunlah industri ayam petelur sesuai kebutuhan per wilayah. Hal ini mencegah kelangkaan produk di satu daerah, sementara di daerah lain justru surplus. Peternak dibina dan difasilitasi agar mampu berproduksi secara optimal. Dibangun juga industri hulu berupa industri pakan ternak dan industri bahan bakunya. Juga industri bibit, vaksin dan obat penyakit ayam. Semua dilakukan secara mandiri. Sehingga tidak tergantung impor. 

Dalam khilafah Islam, tugas ini melibatkan khalifah (kepala negara), wali (gubernur), mudir da'irah shana'ah (kepala departemen perindustrian), kepala bidang peternakan, kepala bidang riset dan kepala baitul maal sebagai pengurus administrasi keuangan negara. 

2. Menjaga rantai distribusi berjalan normal. 
Jika pasokan sudah mencukupi kebutuhan pasar, rantai distribusi menjadi perhatian. Jika terjadi penimbunan, monopoli, kecurangan, penipuan, dll yang mengacaukan keseimbangan harga di pasar, harus diselesaikan. Hal ini dilakukan dengan inspeksi oleh khalifah, wali atau qadhi hisbah (hakim urusan pasar). Didampingi oleh syurthah (polisi) untuk memberi sanksi bagi pelanggar aturan. Rasulullah saw, khalifah Umar ra, khalifah Ali ra, dll dikenal tiap hari melakukan inspeksi di pasar. 

3. Memberi bantuan ekonomi pada kalangan tak mampu. 
Ketika harga sudah normal tapi masih ada sedikit anggota masyarakat yang tak mampu menjangkaunya, mereka diberi bantuan ekonomi berupa santunan negara secara rutin. Selain itu diberi solusi produktif misalnya diberi modal, keterampilan, pekerjaan, atau bahkan ditanggung negara jika memang sudah papa dan tanpa keluarga. 

Demikianlah gambaran penyebab naiknya harga telur dan solusinya dalam Islam. 
[]

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

(*)

0 komentar:

Posting Komentar