Kamis, 12 Juli 2018

Kenapa Kita Harus Menolak Kenaikan BBM Sekalipun Naik Onta??



[Suara Muslimah] 
Kenapa Kita Harus Menolak Kenaikan BBM Sekalipun Naik Onta??

(Mahasiswi FISIP Ilmu Komunikasi UT Jember, Member Revowriter)

#InfoMuslimahJember – BBM naik lagi. Dengan diam-diam lagi. Di tengah malam lagi. Rakyat pun terkejut menjelang pagi. Mengeluh di siang hari. Kantong pun makin kosong ketika sore mendekati.

Dunia maya pun ricuh dan gaduh, tersebab banyak orang mengaduh. Apalagi kalau bukan karena harga BBM yang makin menguras peluh.

Per tanggal 1 Juli, dunia energi di langit Indonesia pun berubah, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) non subsidi terjadi lagi. Salah satunya yaitu jenis BBM Pertamax. Kenaikan ini ditengarai terjadi karena harga minyak mentah dunia yang naik. Harganya berubah menjadi Rp9.500 per liter dari harga sebelumnya Rp8.900,- 

Selain Pertamax, BBM nonsubsisdi lain juga mengalami nasib yang sama yaitu Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamax Dex. BBM Pertamax Turbo misalnya harganya menjadi Rp10.700-11.100 per liter. Sementara harga BBM Dexlite naik cukup signifikan. Jika sebelumnya ditetapkan Rp8.100-Rp8.550 per liter, kini harganya menjadi Rp9.000-Rp9.400 per liter. Sementara Pertamina Dex juga mengalami penyesuaian. Ada yang naik dan ada yang turun menjadi Rp10.500-Rp11.000 per liter (inews).

Kenaikan BBM pun kemudian banyak mendapat ulasan dan menjadi trending topik di Indonesia. Namun terkadang komentar netizen memiliki arti tersendiri karena menggelitik dan menarik perhatian. Hingga lebih menarik daripada ulasan itu sendiri.

Pengertian BBM Non-subsidi bagi sebagian orang adalah BBM yang hanya dipakai oleh orang kaya, yang memiliki mobil sebagai alat transportasinya atau bisa diartikan taraf hidup mereka adalah golongan rakyat menengah ke atas. Dengan begitu kenaikan BBM seharusnya tidak membawa pengaruh signifikan karena rakyat dalam keadaan “mampu membeli”. Protes pada kebijakan inipun menjadi hal yang tidak “pantas” dilakukan oleh sebagian besar rakyat saat ini. Istilah mudahnya, ‘orang kaya saja tidak protes, kenapa orang miskin protes? Kenaikan harga BBM agar yang kaya bisa menyantuni yang miskin.’

Sebenarnya sekalipun (menurut beberapa pendapat) kenaikan harga BBM tidak membawa pengaruh signifikan entah karena kebanyakan uang atau karena setiap hari memakai Onta (Kendaraan berbahan bakar subsidi, pen) sebagai alat transportasinya. Menolak kenaikan harga BBM adalah hal yang bisa dinalar dan memenuhi syarat logika.

Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa penolakan kenaikan BBM dianggap masuk akal, antara lain : Pertama, sekalipun kenaikan harga terjadi pada BBM non-subsidi yang dianggap “elite”, BBM non-subsidi juga merupakan konsumsi kendaraan-kendaraan transportasi yang digunakan untuk pendistribusian. Sehingga hal ini bisa berperan juga dalam kenaikan barang-barang kebutuhan lainnya, terutama bahan pokok. Kenaikan harga ini tidak dibarengi dengan naiknya penghasilan masyarakat sehingga membuat beban hidup semakin tinggi. Hal ini bisa terjadi pada seluruh lapisan masyarakat baik yang berkendaraan dengan mobil atau memilih onta sebagai alat transportasinya.

Kedua, secara fitrah manusia akan memilih barang semurah-murahnya namun manfaat tetap bisa dirasakan. Sehingga sangat tidak menutup kemungkinan, BBM non-subsidi yang awalnya merupakan konsumsi masyarakat “elite” akan kehilangan daya pesonanya. Peralihan pada BBM subsidi yang lebih murah bisa terjadi secara perlahan yang akan mengakibatkan permintaan BBM subsidi semakin tinggi. 

BBM adalah barang yang tidak semua orang bisa menjualnya, hanya para kapital dengan modal besar. Bila terjadi permintaan tinggi maka bisa terjadi dua kemungkinan : Pertama, persediaan BBM subsidi akan ditingkatkan, sehingga terjadi penurunan permintaan pada BBM non-subsidi. Ketika BBM subsidi telah semakin menipis, mau tidak mau semua lapisan masyarakat akan beralih pada BBM non-subsidi. Kedua, dari awal bisa saja BBM non-subsidi dibuat peraturan pembatasan, sehingga mau tidak mau pula semua lapisan masyarakat akan beralih pada BBM non-subsidi. Ibarat sebuah peribahasa, “bagai buah simalakama; dimakan, ibu mati; tak dimakan, ayah mati.”

Dan tentu saja, baik naik onta ataupun mobil, semua akan kebagian getahnya.

Ketiga, karena setiap orang beriman harus menolaknya. Ada alasannya Islam disebut agama yang sempurna. Bila merujuk pada KBBI, pengertian sempurna adalah (1) utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela); (2) lengkap dan komplet; (3) selesai dengan sebaik-baiknya, teratur dengan sangat baiknya; (4) baik sekali, terbaik.

Islam sempurna artinya ia lengkap dalam mengatur kehidupan, bukan hanya hubungan antara manusia dengan tuhan (misal ibadah seperti sholat, puasa, zakat dll). Namun juga mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri juga hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya. Islam memiliki peraturan terlengkap sebagai intruksi menjalani kehidupan. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Tata cara makan, mandi bahkan dalam berhubungan suami-istri pun telah memiliki pengaturan. Bila untuk hal kecil dalam kehidupan sehari-hari saja telah memiliki prosedur tetap dari Yang Maha Kuasa, maka untuk hal besar seperti pengaturan harga BBM pun pasti juga telah ada aturannya.

Peraturan-peraturan di dalam Islam secara resmi dan valid bisa digali dari 4 (empat) sumber kredibel : Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma, Qiyas. Sebuah hadits (pencatatan sunnah) berbunyi, “Kaum muslimin itu berserikat dalam tiga hal yaitu padang, air dan api.” 

Hadits di atas merupakan dasar pengaturan bahwa api (salah satunya adalah bahan bakar minyak) merupakan kepemilikan umum yang wajib diatur oleh negara sesuai syariah. Pengelolaan boleh diberikan kepada pihak swasta/asing namun dalam akad kontrak kerja bukan konsensi bagi hasil. Tujuannya pengaturan ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan rakyat hingga tak ada satupun yang kekurangan, kesulitan hingga kesusahan dalam mendapatkan BBM.

Negara bahkan bisa mendistribusikan sumber daya alam kepada rakyat secara Cuma-Cuma atau gratis bila dilakukan penyatuan seluruh sumber daya alam di negeri dan pengaturan dikelola oleh negara sesuai syariah Islam. Efek ini bisa dirasakan lebih besar bila penyatuan sumber-sumber daya alam ini dilakukan oleh banyak negara muslim.

Sehingga semua manfaat bisa dirasakan oleh rakyat dari lapisan mana saja, baik yang memakai mobil maupun onta.

0 komentar:

Posting Komentar