Senin, 30 Juli 2018

Ummu Sulaim; Pencetak Generasi Dambaan



[KAJIAN SIROH]
/ Ummu Sulaim; Pencetak Generasi Dambaan /
.
Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.
.
#InfoMuslimahJember -- Anas bin Malik, siapakah yang tidak mengenalinya? Ya, Ialah pelayan Rasulullah ﷺ yang kemudian menjelma sebagai tokoh penyebar hadist Nabi ﷺ. Namanya berseliweran dalam banyak hadist yang bisa kita baca hingga hari ini. Sungguh mulia kedudukan Anas bin Malik. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala meridainya.
.
Banyak para alim yang mengatakan, jika Anda melihat kehebatan seseorang maka tiliklah Ibu seseorang tersebut. Reguk dan santaplah setiap tetesan kebaikan yang berasal darinya. Pelajari dan amalkan, bagaimana ia mampu menghantarkan anaknya menjadi generasi hebat. Terlebih lagi jika kehebatan itu adalah perkara yang mendekatkan pada Surga, maka menjadi sangat penting bagi para perindu Surga untuk mengulik Ibundanya sang juara.
.
Demikian pula di balik kehebatan dan kemuliaan Anas bin Malik. Ada seorang Ibu yang juga memiliki kehebatan dan kemulian yang tidak diragukan. Bahkan, nama sang Ibu telah disebut-sebut oleh baginda Nabi ﷺ sebagai wanita yang dijamin sebagai penduduk surga. Masya Allah, beliaulah Ghumaisha’ binti Malhan atau yang lebih dikenal dengan Ummu Sulaim.
.
Ummu Sulaim adalah wanita sekaligus seorang ibu yang pintar, cerdas, penuh keikhlasan, jernih pikiran, pemurah dan pemberani. Abu Nu’aim menyebutnya sebagai ”Wanita yang taat kepada Allah dan Rasulullah, turut mengangkat senjata di beberapa medan laga.” Luar biasa!
.
.
/ Pendidik Terbaik, Pertama dan Utama Bagi Putra Tercinta /
.
Sebagaimana naluri Ibu pada umumnya, Ummu Sulaimpun menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Tiada hal yang lebih baik bagi ananda, kecuali iman yang tumbuh kokoh di dalam dada. Demikianlah prinsip Ummu Sulaim sekaligus pondasi baginya untuk mencetak putra tercinta menjadi umat yang terbaik.
.
Dikisahkan, bahwa Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita yang bergegas untuk merengkuh Islam tatkala cahaya Islam mulai merambah ke tanah Arab. Ia sama sekali tidak menunda, sepenuh jiwa raga kecintaannya pada Islam tercurah sudah. Sehingga sang suami, Malik bin Nadhr yang kala itu tetap berpegang pada agama nenek moyang, murka karenanya. Namun keteguhan hati Ummu Sulaim terhadap Islam tak dapat lagi digoyahkan.
.
Bahkan, dengan cekatan ia ajari putranya (Anas bin Malik) untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Semakin murkalah sang suami karenanya.
.
”Jangan kau rusak putraku!” hardik Malik bin Nadhr.
.
”Aku tidak merusaknya!” Ummu Sulaim tetap tenang di atas prinsip imannya. Bahkan ia semakin gencar dan lantang mengajarkan dua kalimat sahadat kepada putra tercinta. Penuh harap dalam hatinya, kelak sang putra akan menjadi hamba yang diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
.
Penanaman iman serta rasa cinta kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah ﷺ senantiasa diserap sempurna oleh Anas bin Malik dari ibundanya. Hingga meski Anas belum pernah berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, namun kecintaan dan kerinduannya kepada kekasih Allah ini tidak terbendung lagi. Hingga Anas kecil bertekad, kelak ketika dewasa ia akan pergi ke Makkah untuk menemui Rasulullah ﷺ. Masya Allah, betapa hebatnya peran sang ibunda dalam menempah jiwa putranya!
.
.
/ Kerendahan dan Keikhlasan Hati Demi Menempa Ananda Menjadi Orang ”Besar” /
.
Bak gayung bersambut, kecintaan dan kerinduan Ummu Sulaim bersama putranya -Anas bin Malik- kepada Baginda Nabi segera terobati. Tatkala mereka mendengar kabar bahwa Rasulullah ﷺ tengah menempuh perjalanan hijrah menuju Madinah. Bahagia tak terkira menyemburat di hati ibu dan anak yang diberkahi ini.
.
Tak lama saat Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Ummu Sulaim bersegera menemuinya. Tentu saja bersama Anas kecil, putranya. Digandengnya sang putra di hadapan Nabi ﷺ. Penuh harap, Ummu Sulaim mulai angkat bicara.
.
”Ya Rasul, anakku –Anas- yang masih kecil ini, biarlah menjadi pelayan Anda. Sudilah kiranya, Anda berdoa untuknya.”
.
Rasulullah ﷺ bersabda, ”Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya.”
.
Anas berkata, ”Rasulullah tiba di Madinah saat usiaku 10 tahun. Beliau kemudia wafat saat usiaku 20 tahun. Ibuku senantiasa memberiku dorongan untuk menjadi pelayan Rasulullah.”
.
Demikianlah kerendahan dan keikhlasan seorang Ibu yang bernama Ummu Sulaim. Ia relakan sang anak menjadi pelayan demi peroleh kemuliaan yang jauh lebih besar. Yakni kekuatan iman serta ketakwaan, ketinggian akhlak dan adab yang bisa direguk oleh sang putra langsung dari manusia mulia, Rasulullah ﷺ. Masya Allah!
.
Perhatikanlah wahai hawa akhir zaman, bagaimana potret wanita agung yang mengoptimalkan peran strategisnya sebagai Ibu generasi. Melalui kisah dan penuturan yang terjabarkan, sudah selayaknya banyak pelajaran praktis yang dapat dijadikan teladan oleh kaum Ibu di zaman now ini.
.
Bahwa kedudukan agung dan mulia bagi seorang wanita bukanlah seberapa lembaran uang yang ia hasilkan. Melainkan, setinggi apa lejitannya dalam menghantarkan buah hati menjadi hamba yang bertakwa. Karena hanya dengan takwa ini sajalah, kebaikan hidup di dunia dan akhirat dapat mewujud nyata. Maka ingatlah senantiasa, bahwa karir terbaik bagi wanita adalah menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga yang memberikan pendidikan terbaik, pertama dan utama bagi anak-anaknya untuk mengenal Rabbnya. Wallahu a'lam

—————————————
Silakan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:




——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar