Rabu, 08 Agustus 2018

Andai Dari JFC Kita Teladani Khilafah Utsmani


*Andai dari JFC Kita Teladani Khilafah Utsmani*

Oleh : Faiqotul Himmah

Kemarin, 7/8, Jember Fashion Carnaval resmi dibuka oleh Bupati Jember Faida. Bupati Jember Faida bersama Presiden Jember Fashion Carnaval (JFC) Dynand Fariz mengangkat pusaka kujang sebagai simbol pembukaan Jember Fashion Carnaval (JFC) tahun 2018.
Ada yang menarik dari tema JFC tahun ini. Mengusung tema besar Asia Light, yang artinya cahaya Asia. Salah satu defile dari sepuluh defile akan menampilkan keelokan sejarah dan budaya Ottoman. Ottoman (Turki) adalah kekaisaran yang memiliki kekuasaan lintas benua dan menjadi pusat interaksi antara dunia Barat dan Timur.
Rupanya, kebesaran  sejarah Ottoman  diakui oleh Presiden JFC, Dynand Fariz, sebagai salah satu Cahaya yang pernah  menerangi Asia. 

Ottoman, sebutan lain untuk Utsmani, sebuah kekhilafah Islam yang pernah Berjaya dan menjadi pusat perhatian dunia. Paul Kennedy dalam bukunya The Rise and Fall of the great powers: economic change and military conflict  from 1500 to 2000, mengatakan, “Empirium Utsmani, dia lebih dari sekedar mesin militer, dia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu mebentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahsa pada sebuah area yang lebih luas dari yang dimiliki oleh emporium Romawi dan untuk jumlah penduduk yang lebih besar. Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, dunia Islam telah jauh melampui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan spek-aspek lain dari sains dan industry, kaum muslimin selalu berada di depan.”

Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Bangkit dan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menuliskan, orang-orang Utsmani sejak era kemepimpinan pertama selalu komitmen menegakkan syiar-syiar agama Allah. Mereka ikhlas untuk berhukum kepada syariah Allah. Maka Allah menguatkan mereka, mengokohkan kondisi mereka dan menjadikan mereka berkuasa di bumi. Orang-orang Utsmani telah menegakkan syariah Allah di atas bumi. Di mana saja mereka berkuasa. Maka Allah pun lalu mengokohkan dan menguatkan penguasa-penguasa Utsmani.

Rahasia keelokan sejarah Utsmani ternyata terletak pada Islam. Jika kita menapaki sejarah perjalanan Khilafah Utsmani, akan kita dapati bahwa para Khalifah membangun pemerintahan itu dengan bangunan keimanan yang kokoh. Membangunnya dengan semangat Islam yang menyala. Khilafah Utsmani dibangun di atas semangat untuk menegakkan syariah, semangat untuk menegakkan kalimat Allah dan menghancurkan angkara murka.

Namun, kejayaan Utsmani mulai redup ketika Islam ditinggalkan. Adanya khalifah-khalifah yang lemah dan tidak memiliki vitalitas iman telah menggiring Utsmani menuju kehancuran.  Faktor keimanan yang menjadi pendorong maju dantegaknya Khilafah Utsmani pada masa akhir pemerintahan mengalami kelumpuhan pada tingkat yang tidak bias dibayangkan.

Kelemahan akidah ini merembet pada penyempitan makna ibadah. Ibadah hanya dimaknai sebatas ritual dan seremoni. Penyempitan makna ibadah ini membuat Islam dikebiri, hanya menjadi alat penghubung antara hamba dengan Allah. Bukan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta. Penerapan hukum-hukum Islam dalam Negara dan masyarakat melemah. Penyempitan makna ini telah memberikan dampak yangs angat tragis! Hancurnya umat Islam hingga saat ini: kebodohan, kemiskinan, perpecahan, keterbelakangan.

Penguasa dan rakyat Utsmani terseret dalam kehidupan mewah dan berfoya-foya. Para pemuda tershir dengan gerakan terorganisir Sufi. Budaya dikembangkan dengan meninggalkan syariah Islam…

Sayangnya, tidak semua dari kita memahami sejarah ini. Dan jika Dynand Fariz memperkenalkan sejarah ini melalui parade JFC, akankah darinya kita mengenal Islam sebagai sumber kekuatan dan kebesaran Utsmani? Yang dengan Islam itu Utsmani menjadi Cahaya Asia. Bahkan dahulu, cahaya yang menerangi peradaban manusia seluruhnya.

Akankah dari JFC semangat pemuda Islam untuk membela dan menegakkan kembali agamanya bangkit? Agama yang telah menorehkan sejarah keemasan seperti masa Utsmani?

Atau justru dari JFC, para pemuda kita hanya akan tenggelam dalam hedonisme dan pengagungan pada budaya, seperti pada masa akhir Utsmani yang terbukti telah membawa pada keruntuhannya?  Spirit sekulerisasi dan liberalisai dengan kata manis “kebebasan berekspresi” atau “kearifan budaya local” hakikatnya menjauhkan kita dari spirit Islam.

Padahal Islam lah yang akan membawa pada kebesaran sejarah dan kemajuan peradaban yang hakiki. Islamlah yang akan menyelesaikan seluruh persoalan umat manusia. Apatah lagi “hanya” persoalan kemiskinan Jember, yang terbukti tak tuntas dengan menggencarkan wisata.

Agaknya, yang kedua inilah yang saat ini ada di hadapan kita. Dan harus ada, dari kita yang berupaya meluruskannya.

#CatatanFaiq
08 Agustus 2018
Pemred Info Muslimah Jember

===

#JFC
#StopLiberalisasiJember
#IslamSelamatkanJember
#1000StatusPeduliJember

0 komentar:

Posting Komentar