Minggu, 12 Agustus 2018

Geliat Liberalisasi di Kota Santri


*Geliat Liberalisasi di Kota Santri*

_Oleh : Miftah Karimah Syahidah_
(Koordinator Back To Muslim Identity Community Jember)


Agustus, bulan yang selalu dinanti dengan antusias tinggi. Terlebih oleh masyarakat jember. Why? Tentu semua tahu. Jember dengan icon-nya, JFC (Jember Fashion Carnaval), selalu hadir dengan spektakular, memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) RI. Bahkan kekonsistensi kota di Jawa Timur itu menyelenggarakan JFC selama 16 tahun, telah membawanya meraih gelar sebagai Kota Karnaval melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pariwisata Arif Yahya, Juli 2017. Penobatan Jember Menjadi Kota Karnaval dilaksanakan di Jakarta beberapa pekan sebelum penyelenggaraan JFC ke-16 di tahun 2017(beritajatim.com).


Dan tahun 2018 ini, JFC tampaknya hadir dengan tampilan berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya, tema Jember Fashion Carnaval selalu berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. Namun, pada 2018, Presiden Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz, mengusung tema kebudayaan negara-negara Asia.  Penyelenggaraan JFC ke-17 tahun ini mengangkat tema “Asialight” (Cahaya Asia) yang akan berlangsung tanggal 07–12 Agustus 2018.  (journeyofindonesia.com, 18/04/2018).


Dynand Fariz,  mengatakan bahwa tema utama JFC-17 ini juga digunakan sebagai proses kebangkitan negara-negara Asia di tingkat dunia dan akan mempresentasikan sepuluh defile. Kesepuluh defile tersebut dipilih mewakili benua Asia yang memiliki keelokan sejarah dan budaya yang dilambangkan dengan Kujang yang menjadi Pusaka Nusantara, Stars simbol dari cahaya, Thailand negara kerajaan Seribu Pagoda.

*JFC dan Liberalisasi Budaya*

Jember Fashion Carnaval atau sering disebut JFC adalah sebuah acara karnaval busana yang setiap tahun digelar di kota Jember, Jawa Timur, sejak 2003. Bahkan JFC telah menempati peringkat ke-3, karnaval terbaik di dunia. Karnaval ini digagas oleh Dynand Fariz bersama Rumah Mode Dynand Fariz, yang juga pendiri JFC Center (JFCC). JFCC adalah lembaga nirlaba yang menaungi kegiatan JFC dan dikelola secara profesional dan diaudit oleh lembaga yang berwenang. Program utama JFC adalah penyelenggaraan karnaval setahun sekali dengan tema berbeda setiap tahunnya yang diikuti lebih dari 400 peserta di jalan utama Jember dan disaksikan oleh raturan ribu penonton di kanan dan kiri jalan. Karnaval ini telah menjadi sangat populer dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Jember. Para peserta karnaval membuat busana yang seluruhnya dikompetisikan untuk meraih penghargaan kreasi busana terbaik. Demi mendapatkan penghargaan JFC Awards, ajang ini sangat menuntut kreatifitas para peserta, bahkan tak jarang mempertontonkan para model yang memakai busana minim tanpa mengindahkan auratnya.


Dari sini, nampak jelas bahwa pagelaran JFC bukan hanya dalam rangka memeriahkan HUT RI, namun telah menjadi corong liberalisasi. Bagaiamana tidak? JFC dengan segala aturan mainnya telah memfasilitasi bahkan memprovokasi,  masyarakat jember untuk membuka aurat, berlenggak lenggok di depan umum, tanpa mengindahkan ajaran agama. Bahkan banyak pihak yang mengklaim bahwa jang ini terdapat banyak penyelewengan, seperti peserta yang terkesan banci dan LGBT.


Namun, mengapa pagelaran ini tetap di gelar, bahkan menjadi ikon yang diakui? Tak perlu heran. Dalam negara sekuler liberal, kebebasan berperilaku memang  dijamin bagi warganya, sehingga budaya food, fun, fashion (f3) terus berkembang dan tumbuh subur. Padahal food  (makanan), fun (hiburan) and fashion  (pakaian) (f3) sejatinya bukan hanya sekedar trend. Namun lebih dari itu merupakan alat kampanye gaya hidup bebas.


Kontes kecantikan, kontes busana, kontes ratu sejagat merupakan satu dari sekian perwujudan penggelolaan budaya yang menjadi sumber pendapatan bagi negara. Padahal sejatinya itu adalah eksploitasi wanita, merendahkan martabat wanita dengan mengatas namakan budaya. Bagaimana tidak, sebuah mahkota, aurat, bagi wanita yang mestinya harus terjaga, tersimpan dengan baiń∑, hanya untuk orang-orang tertentu, mereka ekspos secara umum disaksikan orang sejagat. Budaya tersebut merupakan konspirasi liberal yang mengusung nilai-nilai ‘kebebasan’ kemudian ‘dipaksakan’ masuk ke tengah-tengah masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai agama.


Proses kemunculan dan menyebarnya budaya liberal di negeri ini bukanlah proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi budaya yang dijalankan secara sistematis dan terorganisir. Secara faktual konspirasi liberal itu bisa dirasakan karena dijalankan melalui beberapa hal, pada tingkat falsafah dan pemikiran dilakukan dengan menanamkan paham sekularisme, liberalisme dan hedonisme. Sejatinya budaya bebas itu berpangkal dari ketiga paham tersebut. Sekularisme adalah ide dasar yang mengesampingkan peran agama dari pengaturan kehidupan dan menuntun manusia untuk menempatkan agama hanya pada ranah individu dan wilayah spiritual saja dan ‘mengharamkan’ agama ikut andil dalam mengatur kehidupan. Sedangkan paham liberalisme, yakni paham yang menanamkan keyakinan bahwa manusia bebas mengelolah hidupnya sendiri. Bagi mereka kebahagiaan adalah terpenuhinya semua keinginan secara materi tanpa ada pembatasan oleh aturan apapun. Justru jika negara mengaturnya, akan dituduh melanggar hak asasi manusia.


Tentu saja gambaran masyarakat seperti ini, sangat berbeda dengan budaya di Indonesia yang sangat menjunjungi tinggi ajaran agama dalam kehidupan. Apalagi jember, sebagai kota santri, dengan banyaknya jumlah pesantren di dalamnya dan karakteristik masyarakatmya yang kental dengan kegiatan keagamaan dan perilaku sosial yang kental  dengan nilai-nilai moralitas.

Oleh karena itu, untuk menjaga keluhuran budaya serta nilai-nilai religius bangsa ini, hendaknya setiap masyarakat mampu memilih dan memilah berbagai pengaruh yang meluncur bebas masuk di Indonesia sehingga dapat menangkal berbagai liberalsasi budaya. Begitu pun bagi kaum muslimin, sebagai representasi dari negara dengan pendduk muslim terbesar ini, kaum muslimin harus kembali dan bangga atas identitasnya sebagai muslim. Atas dorongan yang kuat dari aqidahnya, kaum muslimin harus senantiasa taat atas perintah Allah dan Rasul-Nya dengan konsekuensi menjalankan ajaran Agama secara kaffah (totalitas) sehingga tidak latah lalu mengekor pada gaya hidup orang-orang. Karena sejatinya terdapat perbedaan yang signifikan antara  budaya barat dengan budaya Islam, bahkan saling bertentangan diantara keduanya.

0 komentar:

Posting Komentar