Senin, 06 Agustus 2018

Hukum Meninggalkan Shalat Saat Karnaval


[KAJIAN FIQH]

*Hukum Meninggalkan Sholat Saat Karnaval*

Tanya :

Assalamualaykum Warahmatullahi wabarakaatuh.
Ustadzah .. saya mau bertanya, memasuki  bulan Agustus ini biasanya banyak dilaksanakan karnaval dan kegiatan agustusan,  dan untuk Jember sendiri  ada event JFC.  Yang saya tanyakan bagaimana Sholat para peserta karnaval  yang kebanyakan sejak pagi hari sudah antri untuk  dirias sampe datang waktu sholat Dhuhur dan Ashar juga magrib , Ada yang bilang boleh dijamak  sholatnya atau diakhirkan waktunya, Apakah benar pendapat yang demikian? Mohon penjelasannya ustadzah.

Dari Ibu Siti Khodijah Plindu – Jember

Jawab :

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakaatuh

Alhamdulillah Ashsholatu wa ssalamu ‘ala Rosulillah wa ba’du.

Ibu khodijah dan Sahabat Muslimah yang dirahmati Allah,  pertimbangan utama bagi seorang mukmin untuk beramal adalah hukum syara’.

Karena setiap perbuatan manusia itu terikat dengan hukum syara’ yang sudah ditentukan oleh Allah SWT sebagai  pembuat hukum.  Termasuk dalam perkara ini adalah kegiatan untuk mengikuti karnaval , pawai, JFC dan kegiatan lain yang semisal  harus benar-benar kita pahami hukum syara’nya, karena setiap perbuatan kita nanti di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Dalam banyak event diatas yang sering muncul menjadi persoalan adalah bagaimana pelaksanaan ibadah sholatnya, sehingga mungkin banyak sekali seorang muslim melalaikan sholat atau bahkan meninggalkan ibadah sholatnya dengan alasan mengikuti karnaval atau ada event JFC. Naudzubillahi min dzalik.  Lalu apakah boleh dalam persoalan ini manjamak,  atau mengakhirkan waktu sholat?

Agama Islam mempunyai aturan yang sempurna dalam segala hal, termasuk  telah memberikan kemudahan, dan salah satu kemudahan adalah dibolehkannya menjamak dua sholat dalam satu waktu.  Namun yang menjadi persoalan adalah penyebab dari kebolehan menjamak sholat itu sendiri.  Meski ada aturan kebolehan menjamak sholat namun harus memenuhi persyaratan tertentu.  Kalau syarat  kebolehannya belum terpenuhi maka tidak boleh kita asal menjamak sholat.

Khilafiyah Dalam Kebolehan Menjamak

Dari empat mazhab yang ada memang kita menemukan khilafiyah atau perbedaan pendapat tentang hal-hal apa saja yang membolehkan seseorang menjamak shalat. Yang disepakati oleh para ulama empat mazhab tanpa sedikitpun perbedaan adalah haji. Maksudnya bahwa seluruh ulama sepakat bahwa jamaah haji saat berada di Arafah dan Mina disyariatkan untuk menjamak shalatnya. Namun selain dari haji, para ulama berbeda pendapat.

1. Mazhab Al-Hanafiyah.
Menurut mazhab ini, satu-satunya hal dimana seseorang menjama' shalatnya hanya dalam rangkaian ibadah haji, yaitu ketika berada di Arafah dan Mina pada tanggal 9 hingga 12-13 Dzhlhijjah. Alasannya karena satu-satunya hadits yang secara tegas dan lugas menyebutkan shalat jamak hanya ketika Rasulullah SAW berhaji. Selebihnya hanya merupakan asumsi atau dugaan subjektif saja.

Belum tentu beliau SAW menjamak shalatnya, tetapi orang-orang menyangka beliau SAW menjamak shalatnya. Maka dalam pandangan mazhab ini, sekedar bepergian atau menjadi musafir saja, kalau bukan dalam rangka haji, tidak dibolehkan untuk menjamak shalat.

Begitu juga mazhab ini tidak membolehkan jamak karena hujan dan sakit. Apalagi cuma gara-gara dirias jadi pengantin, atau mengikuti karnaval. Hukumnya haram menjamak shalat karena alasannya sama sekali tidak bisa diterima dan tidak ada dalilnya.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab Al-Malikiyah memiliki enam alasan untuk dibolehkan shalat yang dijamak. Keenamnya adalah safar, hujan, lumpur di kegelapan, sakit, Arafah dan Muzdalifah. Kesemuanya disebutkan karena masing-masing ada hadits yang mendasarinya. Namun di luar keenam hal di atas, mazhab ini tidak membolehkan untuk menjamak shalat.

Kalau kita perhatikan, tidak ada dari keenam hal di atas yang menyebutkan bahwa shalat boleh dijamak gara-gara kita sedang ada hajat untuk mengikuti karnaval, pawai atau JFC.

Mazhab ini pun tidak mencantumkan istilah 'darurat' untuk dibolehkannya menjamak shalat. Padahal pada faktanya kita sering mendengar kaum muslimin menyampaikan kondisi darurat karena sedang mengikuti karnaval atau JFC.

3. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Mazhab Asy-Syafi'iyah hanya menyebutkan hal-hal yang membolehkan shalat jamak terbatas pada haji, safar dan hujan dengan syarat tertentu. Sedangkan sakit tidak termasuk hal yang membolehkan untuk menjamak shalat. Artinya orang yang sedang sakit tetap wajib shalat lima waktu dan tetap tidak boleh mengqasharnya juga.

Alasanya, karena tidak ada satu pun hadits yang bisa diterima bahwa Rasulullah SAW pernah menjamak shalat karena sakit. Padahal dalam sirah nabawiyah, bukan hanya sekali dua kali saja beliau mengalami sakit. Namun tidak ada satu pun riwayat yang shahih dan sharih yang menyebutkan bahwa gara-gara sakit kemudian beliau SAW menjamak shalat.

Kalau pun ada sebagian orang yang mengatakan bahwa sakit adalah salah satu alasan dari dibolehkannya menjamak shalat, menurut mazhab Asy-Syafi'i dalilnya sangat lemah, karena hanya dibangun di atas asumsi dan bukan fakta. Hadits yang lemah itu bukan lemah dari segi periwayatan melainkan lemah dari sisi istidlal.

Kalau sakit saja tidak bisa dijadikan alasan kebolehan menjamak shalat, apalagi sekedar takut bedaknya luntur kena air wudhu' atau karena mengikuti karnaval dan tidak disediakan waktu sholat. Tentu lebih tidak boleh lagi dijadikan alasan untuk menjamak shalat alias haram hukumnya.


Menjamak Tanpa Udzur syar’i


Memang ada satu dua pendapat yang terlalu menggampangkan masalah. Mereka suka meninggalkan shalat begitu saja dengan alasan yang amat sepele dan dikarang-karang sendiri. Misalnya, karena lagi ada meeting lalu shalat ditinggalkan. Cuma karena lagi nonton di bioskop atau nonton bola, shalat Maghrib dilupakan dengan alasan nanti bisa dijamak. Macet tiap hari di jalan pun sering dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat. Atau sedang ada event tahunan seperti kegiatan karnaval, JFC, pawai dan sejenisnya.
Seolah-olah apapun kejadian bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat.

Padahal sebenarnya cuma karena malas dan ketidak tahuan kita terhadap hukum syara’ saja. Tetapi kadang kemalasan dan ketidak tahuan kita  itu ditutup-tutupi dengan dalil yang dipaksakan.

Salah satunya adalah hadits berikut ini :

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ

"Nabi SAW pernah menjamak antara Dzuhur dengan Ashar, dan antara Maghrib dengan Isya, bukan karena takut dan bukan karena hujan."

Kekeliruannya, hadits ini kemudian dijadikan sebagai alasan yang ditafsiri sesuai dengan kebutuhan kita.

Gara-gara keliru menafsirkan hadits ini maka keluarlah 'fatwa – fatwa “ yang membolehkan peserta karnaval, JFC dsb  menjamak shalatnya. Alasan hanya terlalu sederhana karena ada hajat atau, takut bedaknya luntur terkena air wudhu'. Atau karena tidak disediakan waktu sholat oleh panitia . Seolah-olah bedak dan riasan serta event JFC  itu jauh lebih tinggi derajatnya daripada  menjalankan kewajiban shalat lima waktu.

Padahal kalau kita merujuk kepada pendapat para ulama salaf yang muktamad, mereka umumnya sepakat bahwa menjamak shalat itu tidak boleh kecuali memang ada udzhur yang syar'i sebagaimana disebutkan di atas.

Bila tidak ada udzur syar ‘I  lalu seseorang menggampangkan begitu saja masalah shalat dengan asal main jamak-jamak saja, maka itulah yang disebut dengan orang yang melalaikan shalat dan celaka.

Di dalam Al-Quran tegas disebutkan bahwa celaka orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalat.

Salah satunya adalah orang yang menjamak seenaknya tanpa adanya dalil yang qathi.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ

Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai dari mengerjakan shalatnya. (QS. Al-Ma'un : 4-5)

Lalai yang dimaksud bukan tidak khusyu' dalam shalat, tetapi yang dimaksud dengan lalai disini adalah sengaja meninggalkan shalat hingga terlewat waktunya. Padahal setiap shalat itu sudah ditetapkan waktu-waktunya oleh Allah SWT.

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa : 103)

Di dalam Al-Quran juga disebutkan tentang orang-orang yang disiksa di neraka gara-gara meninggalkan shalat yang sudah ditetapkan.

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat". (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)

Dan orang yang meninggalkan shalat padahal tidak ada udzur syar'i, mereka termasuk orang-orang yang terancam sebagai tarikushshalah atau orang-orang yang sengaja meninggalkan shalat. Dan dosa meninggalkan shalat dengan sengaja bukan dosa yang biasa-biasa dan bukan dosa yang bersifat main-main. Yang terancam adalah status keislamannya.

Sebab Rasulullah SAW pernah bersabda :

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

(Pembeda) Antara seseorang dan kekafiran adalah shalat (HR. Muslim)

العَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَركَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan shalat maka telah kafir. (HR. Tirmizi)

Karena itu kesimpulan dari jawaban ini adalah tidak boleh menjamak shalat hanya karena alasan yang dibuat-buat tanpa dalil yang qath'i. Salah satunya tidak boleh menjamak karena alasan sedang mengikuti karnaval, pawai , JFC dan kegiatan sejenisnya adalah perbuatan  yang banyak mengandung kemaksiyatan karena di situ ada beberapa unsur pelanggaranterhadap hukum –hukum syara misalnya Ikhtilat ( campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa udzur syar”I ), terbukanya aurot , tabarruj ( berdandan berlebihan dan berlenggak –lenggok didepan umum, tabdzir, serta kegiatan tersebut bisa melalaikan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Perkara lain yang juga  tidak dibolehkan adalah menunda-nunda dan mengakhirkan waktu sholat sampai hamper habis karena alasan mengikuti karnaval atau JFC, karena bisa memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang melalaikan sholat.

Semoga kita termasuk dalam golongan ummat yang senantiasa istiqomah dalam menjaga dan menjalankan ketaatan kepada Allah SWT termasuk menjaga sholat-sholat kita.

Wallahu a’lam bi showab

(Ustadzah Iffah Mahmudah)

0 komentar:

Posting Komentar