Minggu, 05 Agustus 2018

Pariwisata, Peningkatan Ekonomi Dan Liberalisasi Budaya


Oleh: Nauroh Alifah, pemerhati masalah sosial, tinggal di Jember

#InfoMuslimahJember -- Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan akan membentuk  segitiga pariwisata di Jember, Situbondo dan Bondowoso. Dengan menyajikan paket wisata segitiga ini, ia menargetkan wisatawan hendak tinggal lebih lama. Bahkan boleh menghabiskan masa dua hari untuk berjelajah. Kalau wisatawan telah menginap, maka dari itu roda ekonomi wisata hendak berjalan. Mulai penginapan, ekonomi di pasar dan pun UKM di kawasan wisata.Saya berharap wisatawan boleh menghabiskan masa dua hari menikmati keindahan yang disediakan di alam tiga wilayah itu, katanya seperti dikutip oleh Surya.co.id, Senin 30 Juli 2018.

Senada dengan program strategis calon Gubernur, upaya massif pemerintah di ketiga kabupaten tersebut untuk menata pariwisata juga sangat terasa. Jember misalnya. Jember menjadi kota wisata sudah di mulai sejak dicanangkannya Jember sebagai kotawisata dengan event Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ)pada tahun 2007 dengan icon unggulan Jember Fashion Carnaval (JFC). Pada tahun 2016, Kementerian Pariwisata menobatkan kota Jember sebagai Kota Karnaval, dan Jember dijadwalkan menjadi tuan rumah karnaval se-ASEAN pada 2016. Tahun ini, tahun 2018, memasuki tahun ke-17 penyelenggaraan JFC dengan mengangkat tema Asia Light. Dengan menjadi tuan rumah karnaval se-ASEAN, bisa dibayangkan berapa jumlah turis yang kan berkunjung ke Jember, tentunya dengan membawa budaya dan gaya hidup mereka

Demikian pula dikota situbondo. "Situbondo Tahun Kunjungan Wisata 2019" menjadi kalimat yang menjadi viral di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, di akhir tahun ini. Bagaimana tidak menjadi viral? Karena "Situbondo Tahun Kunjungan Wisata 2019" menjadi program prioritas. Hal ini juga sesuai dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Situbondo Dadang Wigiarto dan Yoyok Mulyadi. Sedang di Bondowoso upaya membentuk desa wisata juga massif dilakukan.

// Pariwisata; Andalan Ekonomi Neoliberal //

Dalam prinsip ekonomi neoliberal, pariwisata menjadi andalan untuk mendapatkan devisa negara dan dipercaya sebagai cara tercepat menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Hari ini, di semua dunia juga, cara yang paling cepet meningkatkan ekonomi ialah dengan meningkatkan potensi pariwisata, kata Khofifah ketika menyampaikan keinginannya untuk membentuk segitiga wisata di Jember, situbondo dan Bondowoso. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya, pada acara Jumpa Pers Akhir Tahun 2014 menargetkan kunjungan 10 juta wisatawan pada tahun 2015 dan berharap jumlah itu meningkat dua kali lipat pada tahun 2019.  Dalam regulasi, mulai tahun 2015 pemerintah melakukan terobosan dengan memberikan bebas visa kunjungan bagi turis 5 negara seperti Australia, Jepang, Korea, China, dan Rusia.
Target pemasukan jasa turisme memang luar biasa.  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo menghitung, jika pemasukan wisatawan mancanegara (wisman)  dengan penghitungan satu wisman akan menghabiskan 1200 dolar, maka akan didapat minimal 540 juta dolar  per tahun. Bahkan, devisa dari sektor pariwisata diperkirakan pada 2019 sudah mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO).

Namun tentu saja kedatangan para wisatawan itu harus dibayar mahal dengan masuknya budaya-budaya mereka yang merusak.

Menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan ekonomi sebenarnya sangat naif dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini karena Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam. Dalam tulisan Prof Fahmi Amhar yang berjudul Meramu APBN Syariah tercatat bahwa dari sektor pertambangan minyak, gas, batubara dan mineral logam didapat penerimaan sekitar Rp. 691 Triliun. Nilai potensi lestari laut Indonesia baik hayati, non hayati, maupun wisata adalah sekitar US$ 82 Milyar atau Rp. 738 Triliun.  Dan yang paling menarik adalah produksi hutan.  Luas hutan kita adalah 100 juta hektar, dan untuk mempertahankan agar lestari dengan siklus 20 tahun, maka setiap tahun hanya 5% tanamannya yang diambil.  Bila dalam 1 hektar hutan, hitungan mini

malisnya ada 400 pohon, itu berarti setiap tahun hanya 20 pohon per hektar yang ditebang.  Kalau kayu pohon berusia 20 tahun itu nilai pasarnya Rp. 2 juta dan nett profitnya Rp. 1 juta, maka nilai ekonomis dari hutan kita adalah 100 juta hektar x 20 pohon per hektar x Rp 1 juta per pohon = Rp 2000 Triliun. Namun semua kekayaan itu tidak dikelola secara serius sehingga Indonesia menjadi seperti anak ayam mati di lumbung padi.

// Pariwisata: Sarana Meliberalkan Budaya Indonesia //

Pariwisata adalah industri yang mengandalkan interaksi antar manusia.  Saat ini tataran diplomasi hubungan antar Negara amat mengandalkan mekanisme people to people contact selain diplomasi resmi kenegaraan.  Barat mengandalkan cara tersebut untuk melakukan transfer nilai-nilai yang dianutnya.  Dalam dokumen Australia The Asian Century White Paper 2012, dengan gamblang pemerintah Australia menjadikan people to people sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antar negaranya dengan ASEAN, tentu saja termasuk Indonesia. Sekalipun hubungan Indonesia dan Australia terkesan mengalami pasang surut, namun Indonesia jelas memiliki tempat istimewa bagi Australia.  Demikian juga negara-negara kapitalistik lain yang segera mengerubungi Jokowi untuk merebut kesempatan berjaya di Indonesia, baik dari sisi menjarah kekayaan maupun penanaman nilai sekular kapitalistik. 

Kedatangan turis-turis asing jelas tidak hanya membawa dollar, namun juga membawa nilai. Sekalipun Rusia, China,  Jepang dan Korea asalnya bukan bangsa Barat, namun sistem nilai dan ├žara hidup mereka sudah mengalami westernisasi dan kapitalisasi.  Bahkan budaya pop Korea yang berkembang menjadi Gelombang Korea (Hallyu) sejak tahun 1990-an sama sekali tidak menampakkan budaya asli mereka, namun lebih lekat dengan life style selebritas Hollywood.

Realitas berbicara, tanpa serbuan turis asing saja, bangsa ini -terutama generasi mudanya- sudah terseret arus liberal.  Angka penderita yang terinfeksi HIV/AIDS  terus meningkat setiap tahun (Republika.co.id). Tingkat Penderita HIV/AIDS yang tinggi mencerminkan bagaimana kerusakan perilaku masyarakat di suatu daerah. Belum lagi peredaran miras yang makin tidak terkendali, narkoba, pergaulan bebas dan semakin eksisnya kaum LGBT.

Bagaimana jika serbuan turis asing semakin massif, maka tengok saja Bali, sebagai destinasi wisata utama telah menyumbang jumlah penderita HIV/AIDS dengan angka yang cukup fantastis. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan sejumlah aktifis penanggulangan AIDS nasional baru-baru ini menyebutkan, hingga pertengahan 2014 jumlah penderita HIV/AIDS di Bali mencapai 26.000 orang.Padahal secara keseluruhan jumlah penduduk Bali hanya sekitar 4 juta jiwa. Apalagi, mayoritas penderita HIV/AIDS adalah usia-usia produktif , yakni 20-29 tahun (sebanyak 3812 kasus) dan 30-39 tahun (3582 kasus).

Setipe dengan Bali, Demikian pula di Jember, perilaku sex bebas yang kian tak terkendali. Bahkan bebrapa waktu lalu Radar Jember memberitakan Jember darurat sex bebas hingga melahirkan rencana perda akhlakul karimah yang memuat rencana test keperawanan yang cukup kontroversial. Masalah narkoba di Jember juga sangat mengkhawatirkan. Bahkan peredaran narkoba di Jember telah masuk di kalangan pesantern (Metronews.com). Belum lagi, semakin eksisnya kelompok LGBT di jember yang diduga erat kaitannya dengan predikat Jember sebagai kota karnaval. 

Kalau sudah begini, akankah kita biarkan pemerintah masih saja mendatangkan peluang maksiat?  Bukankah industri wisata dalam masyarakat liberal kapitalistik tidak bisa dipisahkan dari bisnis miras, seksual dan hiburan? Membiarkan pariwisata dengan gaya seperti itu berarti  makin merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Semuanya dilakukan pemerintah karena satu alasan : uang.  Mereka tak peduli dengan kerusakan generasi,  berkembangnya rasa apatis sekaligus kekuatiran masyarakat.  Mereka tidak peduli dengan amanah yang seharusnya disandang pemerintah, yang harus melayani kepentingan umat.  Memang, pemerintahan ini telah mati.  Menggantikan fungsi pelayanannya dengan posisi pedagang, yang hanya peduli dengan nilai materi, bukan nilai hakiki kehidupan.

// Cara Khilafah Mengelola Pariwisata //

Khilafah didirikan hanya untuk menerapkan hukum Allah di muka bumi.  Sehingga tidak akan membiarkan terbukanya pintu kemaksiatan di dalam Negara, termasuk melalui sektor pariwisata.  Obyek wisata yang mengandalkan kekayaan alam, ataupun peninggalan Islam bisa dipertahankan.  Bahkan ketika melihat dan menikmati keindahan alam, misalnya, yang harus ditanamkan adalah kesadaran akan Kemahabesaran Allah, Dzat yang menciptakannya. Sedangkan ketika melihat peninggalan bersejarah dari peradaban Islam, yang harus ditanamkan adalah kehebatan Islam dan umatnya yang mampu menghasilkan produk madaniah yang luar biasa. Obyek-obyek ini bisa digunakan untuk mempertebal keyakinan wisatawan akan keagungan Islam.

Meski bidang pariwisata dengan berbagai ketentuannya,  tetap dipertahankan, tetapi harus dicatat, walaupun bisa menjadi salah satu sumber devisa, tetapi ini tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian Negara Khilafah. Selain karena tujuan utama dipertahankannya bidang ini adalah sebagai sarana dakwah dan propaganda, Negara Khilafah juga mempunyai sumber perekonomian yang bersifat tetap.

Perbedaan tujuan utama dipertahankannya bidang ini oleh Negara Khilafah dan yang lain mengakibatkan terjadi pula perbedaan dalam kebijakan masing-masing terhadap bidang ini. Dengan dijadikannya bidang ini sebagai sarana dakwah dan propaganda oleh Khilafah, maka Negara Khilafah tidak akan mengeksploitasi bidang ini untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. Ini tentu berbeda, jika sebuah negara menjadikannya sebagai sumber perekonomiannya, maka apapun akan dilakukan demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Meski untuk itu, harus mentolelir berbagai praktik kemaksiatan. Dengan demikian, Negara Khilafah sebagai negara pengemban ideologi dan negara dakwah, akan tetap bisa menjaga kemurniaan ideologi dan peradabannya dari berbagai invasi budaya yang datang dari luar.

#1000StatusPeduliJember
#StopLiberalisasiJember
#IslamSelamatkanJember

0 komentar:

Posting Komentar