Sabtu, 22 September 2018

Aktivis Peduli Jeritan Anak Negeri

[REPORTASE]
Aktivis Peduli Jeritan Anak Negeri
(FGD dan Rihlah Politik Aktivis Jember, Back to Muslim Identity)

Komunitas BMIC (Back to Muslim Identity) cabang Jember kembali mengadakan kegiatan FGD (Forum Group Discussion) dan Rihlah Politik Aktivis Jember yang bertajuk “Aktivis Peduli Jeritan Anak Negeri”. Kegiatan ini berhasil dilaksanakan pada hari Minggu (09/09/2018). Tempat yang menjadi sasaran kegiatan ini adalah ‘Tambang Kapur’ yang terletak di kecamatan Puger, Jember. Kegiatan ini bertujuan membangun kepedulian Aktivis Mahasiswa terhadap masalah negeri,kemudian menganalisis akar masalah dan solusi tuntasnya.
Acara dimulai tepat pada pukul 07.30 WIB. Peserta yang hadir dalam agenda ini berasal dari berbagai kampus di Jember. Acara dibuka oleh guide, Dwi Aida Rachmawati dengan membacakan ground rules acara dan membaca do’a terlebih dahulu sebelum berangkat ke ‘Tambang Kapur’, kemudian peserta dipandu untuk menaiki kendaraan yang sudah disediakan oleh panitia BMIC. Peserta yang hadir kurang lebih sekitar 30 peserta.
Sesampainya di ‘Tambang Kapur Puger’ peserta diarahkan membentuk tim-tim dan melakukan observasi dalam rangka mencari informasi dan data dari masyarakat setempat (petani, buruh, pekerja tambang, dan masyarakat disekitar tambang) terkait proyek penambangan kapur di Puger. Peserta dibagi 6 tim dan semua tim memiliki waktu 60 menit untuk melakukan observasi. Setiap tim menyebar, mencari informan yang dapat diwawancari. Panasnya area pertambangan dan sulitnya medan pertambangan tak menyurutkan semangat peserta untuk menemui masyarakat setempat, mewawancari mereka dan membuat reportase atas observasi yang telah dilakukan. Setelah observasi selesai, semua panitia dan peserta berkumpul di titik awal untuk meluncur ke Pantai Kucur (tempat FGD), Puger, Jember.

Pantai Kucur adalah salah satu wisata di Jember yang mengharuskan pengunjungnya menaiki perahu untuk sampai ke sana. Para peserta sangat antusias dan bersemangat, meski perjalanan menuju pantai kucur ini cukup melelahkan karena harus berjalan kaki sekitar 15 menit. Perjalan menuju pantai kucur dengan berjalan kaki ini tidak di sia-siakan oleh para peserta untuk melakukan diskusi bersama timnya terkait permasalahan tambang kapur, apa akar masalahnya dan apa solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan itu.
Setelah sampai di Kucur, para peserta dipandu oleh host untuk mempresentasikan hasil observasi dan diskusi timnya terkait fakta tambang kapur puger dan persoalan dibalik tambang kapur tersebut. Setiap tim memiliki kesempatan 5 menit untuk mempresentasikan hasil observasi dan diskusinya. Dari hasil presentasi masing-masing tim menunjukan fakta yang sangat mencengangkan. Ternyata di balik indahnya gunung kapur puger ternyata terdapat luka yang menganga. Gunung kapur yang harusnya menjadi milik warga dan dikelola olehnya, serta hasilnya dinikmati oleh masyarakat, ternyata diprivatisasi dan diliberalisasi oleh pihak-pihak tertentu. Menurut keterangan masyarakat setempat sebagian besar lahan di tambang kapur dimiliki oleh asing (baca:China dan Korea) yang bekerjasama dengan perusahaan pribumi. 
Setidaknya ada 17 PT yang beroperasi di tambang kapur ini. Sejak adanya privatisasi gunung kapur oleh asing,warga yang dulunya bisa mengambil batu kapur dengan bebas untuk dijadikan gamping, kini warga harus membeli kepada perusahaan-perusahaan itu dengan harga mahal. Tak hanya mahal, bahkan warga juga merasa kesulitan untuk mendapatkan batu kapur, karena perusahaan mengirimnya ke Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lain. Akibatnya, banyak tumang (tempat pembakaran kapur) warga yang berhenti beroperasi dan warga mulai beralih ke mata pencaharian lain. Padahal membuat gamping adalah mata pencaharian utama masyarakat di sana sejak dulu. Inilah Ironi Negeri Gemah Ripah Loh jinawi!

Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi FGD yang diisi oleh Wilda Purnamasari, salah satu pengurus BMCI cabang Jember. Dalam materi disampaikan bahwa permasalahan di puger hanya satu dari sekian banyak permasalahn negeri ini. Tentu tak bisa dilupakan, bagaimana gunung emas Papua telah berubah menjadi cekungan, di-keruk oleh pihak asing (freeport) tanpa dirasakan oleh masyarakat keuntunganny. Jelas, masalah ini tak bisa hanya dilihat sebagai problem individu. Karena bercokolnya hegemoni asing di negeri ini karena adanya undang-undang yang mempersilahkan masuk. Sebut saja UU migas, UU investasi asing, dan sederet undang-undang lain yang sama sekali tidak menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai dasar pemikirannya. Sistem kapitalisme yang bercokol di negeri ini lah, biang kerok (akar masalah) atas merebaknya permasalahan di Indonesia. Kesenjangan ekonomi semakin menganga. Yang kaya semakin kaya dan yang miskim semakin miskin. Oleh karenanya, negeri ini butuh solusi yang sitemik, bukan solusi parsial yang tidak menyentuh akar masalah. Dan Islam lah satu-satunya agama yang memiliki aturan dan paripurna baik dari sisi ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, sosial-budaya, hukum, hankam, dan lain sebagainya. Islam, dengan sistem ekonomi islamnya mampu menyelamatkan negeri ini dari segala macam eksploitasi ataupun privatisasi dengan penjagaan negara yang ketat dan pengelolaan yang tepat terhadap SDA yang ada.
Diskusi berakhir pada pukul 16.00 WIB dan diakhiri dengan seruan mahasiswa untuk bersama-sama bergerak, bersinergi, mewujudkan perubahan yang hakiki (perubahan sistem). Aktivis mahasiswa harus berada di garda terdepan untuk melakukan perubahan. Acara rihlah diakhiri dengan komitmen aktivis mahasiswa muslim untuk menjadi duta Islam politik yang siap mempelajari islam, memakai islam, mempopulerkannya, dan pathnership. Salam Perubahan!!!
[oleh: Ulfiatul KHomariah]
=====
Silakan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:

——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar