Jumat, 28 September 2018

Haringga : Korban Perang Antar Fandom Versi Indonesia

Sumber : Suara.com


Haringga : Korban Perang Antar Fandom Versi Indonesia
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi UT Jember)


#InfoMuslimahJember – Haringga Sirla dalam sekejap melayang namanya, bukan karena prestasi yang diraih atau sensasi yang diciptakan layaknya artis panas. Namanya melayang setelah kematian menjemputnya atas nama cinta.

Pemuda berusia 23 tahun ini meregang nyawa setelah dikeroyok oleh 16 orang suporter Persib Bandung (Klub Sepak Bola dari Bandung) yang menyasar anggota The Jak Mania (Organisasi suporter Persija –Klub Spak Bola dari Jakarta-). Tanpa ampun dan seperti pembunuh profesional, korban dianiaya secara bersama-sama dengan menggunakan alat yaitu besi, helm, keling, kaca piring, balok kayu dan senjata lainnya. Tak ayal, nyawa tak mampu melekat lagi di raganya.

Kejadian ini tentu meninggalkan luka dan duka, tak hanya bagi keluarga Haringga, dunia persepakbolaan pun berduka. Baik PERSIB maupun PERSIJA tentu tak senang dengan kejadian ini. Nyawa manusia seakan lebih murah dari kerupuk bukanlah hal yang diharapkan oleh kedua klub sepak bola yang telah lama berkiprah di dunia olahraga tendang bola tersebut.

Haringga adalah seorang fans –penggemar- Persija, bahkan organisasi The Jak Mania telah mengkonfirmasi bahwa dia merupakan anggota. Karena itu pada Minggu, 23 September 2018 ia pergi ke Bandung untuk menyaksikan pertandingan laga panas antara PERSIB melawan PERSIJA. Sayangnya, hari itu merupakan hari terakhirnya untuk menghirup udara di Bumi sebelum akhirnya berpulang.

Pertikaian antar penggemar sebenarnya bukan hal baru lagi di dunia, hal ini di sebut dengan Fan War. Umumnya para penggemar ini bertikai di dunia maya, meskipun tidak jarang berlanjut ke dunia nyata. Perang seperti ini bisa kita ambil contohnya dari para anggota fandom (Fans Kingdom; di Indonesia disebut organisasi suporter) di Korea Selatan. Bagi fans fanatik akan melakukan ‘serangan’ bukan hanya kepada fandom lawan tapi bisa juga pada artis yang merupakan saingan dari idolanya. Mereka bisa melakukan berbagai hal buruk seperti memberikan komentar buruk pada idol sehingga membuat mereka depresi, melakukan dislike berjamaah pada video atau memberikan ‘black ocean’ saat mereka tampil di panggung. Mereka juga bisa melakukan bullying kepada orang lain yang dianggap “tidak pantas dekat” dengan idola mereka. Seorang gadis berusia 15 tahun meninggal bunuh diri karena tidak tahan menghadapi bully ini setelah ia mengunggah fotonya bersama seorang artis dalam sebuah acara yang dia ikuti.

Selain itu ada jenis penggemar extrimis lain yang disebut sasaeng fans. Seorang idola terkenal di sana bisa memiliki 100-500 sasaeng fans yang bukan hanya merepotkan tapi juga bisa membahayakan nyawa. Terkadang mereka bisa lebih kejam dari ‘antifans’.

Sasaeng Fans bisa melakukan hal berbahaya seperti meracuni idola mereka, masuk ke apartemen mereka dan bersembunyi di kamar idola, melakukan penculikan, mengirim surat ‘berdarah’, melakukan penyamaran, menggangu acara keluarga, melukai dan melecehkan hingga menguntit idola sampai mereka kecelakaan.

Lain dulu, lain sekarang, pada masa Arab jahiliyah, cerita tentang “Fandom Harga Mati” ini pun ada. Perang sering terjadi di sana, hanya karena dipicu oleh masalah-masalah sepele. Perkara cinta berlebih atau fanatisme terhadap suku dan kabilah mereka sendiri seperti darah yang mengalir di dalam pembuluh darah, begitu lekat dan pekat. Karena masalah unta saja, perang selama 40 tahun terjadi antara Bani Bakr dan Taghlib.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memiliki cinta, karena itu adalah salah satu anugrah dari yang Maha Kuasa. Representasi cinta di masa sekarang adalah dengan mengidolakan siapa yang dicintainya, entah itu artis ternama, tokoh tertentu, keluarga yang paling di sayang dsb. Setiap manusia memiliki potensi naluri ini, hanya tinggal manusia saja yang memilih akan mengalihkan naluri tersebut ke arah yang baik atau buruk.

Islam memiliki konsep cinta yang tidak sama dengan pemahaman manusia kebanyakan zaman sekarang, dimana cinta adalah bentuk kesenangan di dunia. Sumber cinta bukan karena keimanan dan ketaatan kepada-Nya, namun karena rupa dunia seperti wajah yang tampan/cantik, harta yang melimpah, kemampuan membuat orang lain tertawa, memiliki bakat olahraga, kepandaian di atas rata-rata dsb.

Kebencian pada zaman ini juga bukan karena seseorang itu kufur dan maksiat, namun siapapun yang menjadi lawan idolanya, maka dia juga wajib dibenci, dilawan hingga dihajar. Tak peduli bahkan hingga ada nyawa yang melayang.

Selayaknya seorang muslim itu berhati-hati dengan perasaannya. Karena orang-orang yang kita cintai selama di dunia akan dipertemukan kembali kelak di akhirat nanti. Apa jadinya bila ternyata orang-orang itu saling mencinta atau membenci yang membuat Sang Maha Pencipta tak lagi dianggap? Hal ini seperti pernah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda,  “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

Dalam sebuah ayat yang tidak asing berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurot:10); Perkara saling mencintai karena Allah di antara orang-orang beriman sangat besar pahalanya, karena itu perlakuan kepada sesama saudara seperti yang disunnahkan oleh Rasul seperti saling mendoakan di saat tidak sedang bersama, meminta doa dari saudaranya, menziarahi, duduk bersama, menjalin persaudaraan, saling memberi karena Allah.

Membunuh satu nyawa tidak berdosa sama dengan membunuh manusia keseluruhannya. Sungguh dosa yang besar, yang hanya karena memiliki keimanan hakiki kepada Allah, manusia akan merasakan dan menghayati betapa nyawa manusia adalah pemberian atau hak hidup dari Allah SWT dan hanya Allah saja yang berhak mencabutnya bila Dia berkehendak.

Kejadian brutal yang terjadi baru-baru ini atau mungkin kejadian lainnya terjadi karena pergeseran standar kebahagiaan hidup manusia, dimana sekarang sumber bahagia adalah kesenangan dunia semata, bukan karena keimanan-Nya kepada Allah.

Pemahaman para generasi muda akan cinta dipengaruhi oleh cerita romansa fiksi dan euforia pertunjukan kehebatan sementara. Sehingga tidak berpikir untuk meraih keimanan dan mengurai hakikat kehidupannya sendiri. Dengan begitu dunia seakan taman bermain miliknya sendiri, dengan aturan yang dibuat sendiri, bahkan hingga merasa bisa main hakim sendiri.

Pemberantasan siklus kejam ini adalah dengan menginstall pemikiran Al-Qur’an pada setiap individu muslim, yang kemudian diterapkan dalam seluruh segmen tanpa terkecuali. Sehingga dengan begitu keteraturan akan terjaga karena rahmat yang memancar ke seluruh alam.

Jember, 27 Sept 2018




1 komentar: