Sabtu, 22 September 2018

LARUNG SESAJI DI PANTAI PAPUMA UNTUK LESTARIKAN BUDAYA



[KOMENTAR JEMBER]

LARUNG SESAJI DI PANTAI PAPUMA UNTUK LESTARIKAN BUDAYA

Warga dan pengelola wisata Pantai Papuma Jember yang dikelola oleh Perhutani menggelar larung sesaji atau petik laut yang dilakukan bertepatan dengan awal tahun baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriah, Selasa.

"Sebelum acara larung sesaji digelar, malam harinya diadakan semaan Alquran dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sehingga petik laut merupakan ritual rutin yang digelar setiap tahun hampir di pesisir selatan Pulau Jawa," katanya dalam siaran pers yang diterima Antara di Jember.

Sebelum di larung ke laut, lanjut dia, perahu yang sudah dihias dengan gunungan nasi kuning dengan sayur mayur dan hasil laut itu dibawa ke Vihara Dewi Sri Wulan yang diiringi reog singo budoyo dan kemudian perahu miniatur itu diarak ke laut untuk dilepas.

"Kegiatan yang sudah menjadi agenda tahunan itu merupakan budaya dan kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Selain sebagai ajang silaturahmi masyarakat, petik laut di Papuma juga dapat menambah daya tarik wisata tersendiri," katanya.


Komentar:

Gencarnya ide Islam nusantara yang saat ini sedang diaruskan kepada masyarakat dan masih menjadi pro kontra, akan semakin menyuburkan kembali tradisi-tradisi dan adat istiadat, termasuk tradisi-tradisi yg bertentangan dengan Islam. Seperti maraknya larung sesaji.

Dimeriahkannya kegiatan 
Larung Sesaji di bulan Muharram ini bisa mengantarkan pelakunya kepada kemusyrikan karena memberikan persembahan kepada selain Allah walaupun dibungkus dengan alasan menghidupkan tradisi dan budaya. 

Islam sebagai agama yang sempurna sudah mempunyai aturan bagaimana cara seorang muslim bersyukur atas nikmat Allah, bukan dengan mencampur adukkan dengan kepercayaan agama lain, dalam ritual khusus.

Hal ini sangat membahayakan, bisa mendangkalkan bahkan mengikis habis aqidah umat.

Ustadzah Iffah Mahmudah

0 komentar:

Posting Komentar