Kamis, 13 September 2018

Lindungi Perempuan dari Kekerasan Seksual


[Suara Muslimah] 

Lindungi Perempuan dari Kekerasan Seksual

Oleh : Faiqotul Himmah*)

Ngeri! Perempuan Jember harus waspada. Kekerasan seksual yang disebut masyarakat sebagai “begal payudara” mengintai. Pada 28 Agustus lalu, aksi kekerasan ini terekam kamera pengintai. Rekaman memperlihatkan, korban sedang duduk sendiri di atas sepeda motornya sambil bermain ponsel di jalan Batu Raden, Jember. Lalu datang seorang laki-laki dari arah belakang. Laki-laki ini kemudian memarkir motornya sambil melihat situasi. Dia lalu memeluk korban dari belakang sambil meraba bagian dada. Korban pun seketika menjerit dan meminta tolong sehingga mengundang perhatian warga. 

Ini bukan kasus pertama, akhir Juli lalu, ZR, warga Kencong juga bernasib sama ketika melintas di jalur lintas selatan (JLS) sepulang kerja. Sebagaimana diberitakan TribunJakarta.com (25/7), ZR mengaku dilecehkan saat pulang kerja pada malam hari dan jalanan sedang sepi. Tiba-tiba dari arah belakang, motor dipepet lelaki bertubuh besar. Tangan kiri lelaki tersebut tiba-tiba melakukan tindakan senonoh ke payudaranya. ZR dan teman wanita yang pulang bersamanya shock. Ternyata, dua orang teman kerjanya pun menceritakan pernah mengalami hal serupa. 

Bukan Kejahatan Biasa

Kekerasan seksual bukanlah kejahatan biasa. Umumnya kejahatan terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Namun dalam kasus kejahatan seksual, ada faktor pendorong lain yakni fantasi liar. Bahkan, Anggi Aulina, seorang kriminolog menyatakan bahwa fantasi liar inilah yang menjadi pemicu utama. Begitu dahsyatnya dampak fantasi liar ini, ia melahirkan niat dan mendorong pelaku untuk mencari-cari kesempatan. 

Fantasi liar ini diproduksi oleh pornografi yang marak di negeri ini. Khofifah Indar Parawansa pernah menyatakan bahwa belanja pornografi di Indonesia tahun 2014 lalu mencapai 50 triliyun! Angka yang sangat fantastis. Ini yang terdata. Bagaimana dengan konten porno pada berbagai tayangan film/sinetron, video klip, iklan, game-game online? Bagaimana pula dengan fantasi liar yang disisipkan dalam novel, lirik lagu, puisi? Yang kesemuanya bisa dengan mudah dipublikasikan atas nama seni dan karya. 

Pornografi yang telah melahirkan fantasi-fantasi liar ini adalah teror bagi perempuan. Hampir setiap pelaku kejahatan seksual mengaku kecanduan atau kerap kali menonton video porno. Dan perempuan-perempuan yang berada dalam situasi rentan, menjadi sasaran kebejatan moral mereka.

Maraknya pornografi adalah ciri masyarakat liberal yang kering dari keimanan. Liberalisme yang lahir dari sekulerisme telah menjadi agama baru. Liberalisme yang diekspor Barat ke negeri ini telah menggeser nilai-nilai spiritualitas dan ketakwaan. Membuat orang merasa tak lagi perlu mengendalikan hawa nafsu. Justru kesenangan dan bersenang-senang itulah tujuan. 

Tak heran, peradaban Barat dengan liberalismenya hancur. Institusi keluarga tak bernilai. Kehormatan pria dan wanita tak lagi berharga. Di Amerika Serikat, 1 dari 6 perempuan pernah diperkosa selama hidupnya. Di Inggris, 1 dari 5 perempuan pernah menjadi korban kekerasan seksual sejak usia 16 tahun. Di Jerman, gereka Katolik sampai membolehkan penggunaan pil KB bagi korban karena amat tingginya kasus perkosaan. Di Kanada, total perkosaan yang pernah dilaporkan sebanyak 2.516.918 kasus (WomenAndShariah, 2015).

Lindungi Perempuan

Telah banyak upaya yang dilakukan untuk menghentikan kekerasan seksual dan melindungi perempuan. Edukasi, advokasi, pendampingan. Dalam tataran perundangan telah ada UU Pornografi, bahkan telah dikeluarkan Perppu pemberatan hukuman bagi pelaku. Namun, angka kekerasan seksual tak kunjung turun. Justru kian hari kian meningkat. Mengapa? Sebab segala upaya itu dilakukan dengan tetap mempertahankan prinsip liberalisme dan sekulerisme.

Menarik apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Arief Rahman, tokoh sekaligus pakar pendidikan Indonesia. Menurutnya, agama harus dijadikan sebagai tuntunan hidup agar menjadi benteng bagi hal negatif, termasuk pornografi. “Agama itu harus tidak hanya menjadi hal yang sifatnya ritual,” tandasnya. 

Ini sejalan dengan tuntunan Islam. Islam bukan sekedar agama ritual, melainkan sistem kehidupan (ad-dien). Aturan Islam lengkap dan sempurna. Mulai dari aspek pencegahan hingga sanksi jika terjadi kriminal kekerasan seksual. Dan Allah jamin Islam akan menjadi rahmat seluruh alam.

Jika jutaan wanita telah menjadi korban, masihkah kita akan bertahan dengan aturan manusia yang lemah dan terbatas? Masihkah kita akan selalu berkiblat pada Barat yang sekuler-liberal? Tidakkah kita ingin kembali kepada Islam?

Agaknya, pertanyaan Allah di Alquran surat Al-Maidah ayat 50 berikut layak kita renungkan: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” []

*) blogger, mompreneur, pernah nyantri di TMAI Al-Amien Prenduan, Sumenep

0 komentar:

Posting Komentar