Jumat, 07 September 2018

Merdeka dari Selubung Depresi



[Trending Topic] 

Merdeka dari Selubung Depresi 

Oleh: M. Taufik, NT

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, merdeka diartikan sebagai bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb), juga tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, juga berarti leluasa.

“Merdeka” yang hakiki tidak akan diraih jika kita tidak berhasil ‘mengosongkan’ diri dari ketergantungan kepada selain Allah SWT, baik itu penampilan, harta, maupun ketergantungan kepada manusia yang lain.

Ketika khalifah ‘Umar mau menjumpai penduduk Palestina yang menyambut kedatangan beliau, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah r.a. mengingatkan tampilan beliau yang sangat biasa, tidak perfect, kurang pantas kalau dilihat penduduk Palestina, maka Khalifah ‘Umar menjawab,

إِنَّا كُنَّا أَذَلُّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, bilamana kita mencari kemuliaan selain dengan apa yang Allah telah muliakan kita dengannya, maka Allah pasti akan menghinakan kita.”

(HR. Al Hakim dengan sanad shahih menurut Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz Dzahabi).

===

Berapa banyak manusia yang tertekan, tidak berani menemui manusia hanya karena merasa penampilannya kurang perfect, jerawat membuat stres, baju lama membuat depresi, kendaraan dan gadget jadul membuat tidak percaya diri?

Akhirnya hidup tergadaikan untuk menumpuk harta, harta untuk memantaskan penampilan di depan manusia; make up hingga operasi plastik, busana, rumah, kendaraan, gadget, bahkan makanpun yang diperhatikan adalah gengsi, bukan gizi!

Dan ketika semua impian itu kandas di tengah jalan, kemampuan terpaut jauh dengan gengsi, jadilah tekanan jiwa, depresi memenuhi relung-relung hati.

===

Islam, jika diterapkan dalam setiap sendi kehidupan, benar-benar akan memerdekakan manusia, kemerdekaan yang hakiki, bukan kemerdekaan semu berselimut depresi, depresi yang lari kepada narkoba maupun bunuh diri.

Pakaian dan tampilan yang sangat sederhana, tidak menjadikan Rib’iy bin ‘Amir minder menghadapi Rustum, Jenderal Persia dengan segala kemewahannya. Ketika Rustum bertanya, ”Apa yang membuat kalian datang ke sini?”

Dengan penuh wibawa, Rib’iy menjawab, 

اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ…

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia Kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba, kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam."

Setelah diskusi panjang antara Rib’iy dengan Rustum, setelah Rib’iy pulang, Rustum berbicara dengan bawahannya yang juga menyaksikan diskusi tersebut. Melihat Rustum seolah terpesona dengan kepribadian Rib’iy, anak buah Rustum mengingatkan agar dia jangan terpengaruh ucapan Rib’iy, di ujung pembicaraan, mereka berkata:

أَمَا تَرَى إِلَى ثِيَابِهِ؟

“Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya (yang lusuh)?”

Rustum menjawab,

وَيْلَكُمْ لَا تَنْظُرُوا إِلَى الثِّيَابِ، وَانْظُرُوا إِلَى الرَّأْيِ وَالْكَلَامِ وَالسِّيرَةِ. إِنَّ الْعَرَبَ يَسْتَخِفُّونَ بِالثِّيَابِ وَالْمَأْكَلِ، وَيَصُونُونَ الْأَحْسَابَ

”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya orang Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan. Tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”

[Imam at Thabari (w. 310H), Tarikh ar Rusul wa al Mulûk, juz 3 hal 519-521. Maktabah Syamilah]

Baju yang bagus, tampilan yang perfect, memang boleh. Hanya saja, jika hal itu tidak ada, hal tersebut tidak akan mengusik ketentraman hati. Bahkan harta yang melimpah tidak akan membuat mereka lupa untuk senantiasa intospeksi diri.

Ketika didatangkan harta melimpah kepada Khalifah Umar, beliau melihat emas, permata, zamrud, dan mutiara saling berkilauan terhampar di masjid. Umar lalu menangis. Dikatakan kepada beliau,

وَاَللَّهِ مَا هُوَ بِ

يَوْمِ بُكَاءٍ،

وَلَكِنَّهُ يَوْمُ شُكْرٍ وَسُرُورٍ

“Demi Allah, hari ini bukan hari untuk menangis. Akan tetapi, hari untuk bersyukur dan bergembira.”

'Umar menjawab,

إنِّي وَاَللَّهِ مَا ذَهَبْت حَيْثُ ذَهَبْت، وَلَكِنَّهُ وَاَللَّهِ مَا كَثُرَ هَذَا فِي قَوْمٍ قَطُّ إلَّا وَقَعَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ

“Aku, Demi Allah, tidak sependapat dengan pendapatmu. Akan tetapi, tidaklah ini terjadi pada suatu kaum, kecuali keburukan mereka akan terjadi di antara mereka.”

Kemudian 'Umar menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Beliau lalu berdoa,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أَكُونَ مُسْتَدْرَجًا فَإِنِّي أَسْمَعُك تَقُولُ {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ}

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu agar aku tidak menjadi orang yang berangsur-angsur tertarik ke arah kebinasaan. Sungguh, aku mendengar Engkau berfirman :

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

"Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui (QS Al A’raf: 182, al-Qalam: 44).”

[Imam asy Syâfi’i, Al-Umm, 4/165. Maktabah Syamilah].

===

72 tahun lebih usia negara kita, benar, penjajah telah terusir dari nusantara, namun 20 perusahaan menguasai lebih dari 20 juta hektar, sementara 15 juta petani tak punya tanah semeterpun, 1% warga kekayaannya lebih dari 50% kekayaan orang Indonesia.

Ketika 27,77 juta rakyat terkategori miskin banyak yang tertekan jiwanya, sementara yang kaya lupa diri, sibuk berfoya-foya, ketika 250 ton narkoba laku di nusantara, sementara jutaan rakyat terkena gangguan jiwa berat, ribuan di antara mereka yang harus hidup dalam pasungan, apakah kemerdekaan seperti ini yang dicita-citakan?

Kemerdekaan hakiki, bebas dan lapangnya jiwa, hanya diperoleh jika kita beriman dengan sebenarnya, yakni memasrahkan diri tunduk kepada ketentuan dan syariat-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. yang demikian itu tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

——————————
Silakan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:




——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar