Selasa, 18 September 2018

Solusi Islam atas Pelecehan Seksual



[Materi KULWA]

Solusi Islam atas Pelecehan Seksual


Oleh : Faiqotul Himmah*)

Selama dua minggu berturut-turut media Jember dihiasi dengan berita pelecehan seksual. Terbaru, DD (23), seorang presenter televisi swasta di Jember, dilecehakn seorang lelaki yang mengaku teman sekolahnya, di wilayah Talangsari kecamatan Kaliwates.

Sebagaimana diberitakan faktualnews.com, pelecehan seksual yang dialami DD ini modusnya, pelaku berpura-pura mengaku mengenal korban sebagai teman SMA. Dan mengajak bersalaman, lantas tangan kiri pelaku memegang paha korban.

Sebelumnya, masyarakat Jember diresahkan dengan aksi “begal payudara”. Pada 28 Agustus lalu, pelecehan ini terekam kamera pengintai. Rekaman memperlihatkan, korban sedang duduk sendiri di atas sepeda motornya sambil bermain ponsel di jalan Batu Raden, Jember. Lalu datang seorang laki-laki dari arah belakang. Laki-laki ini kemudian memarkir motornya sambil melihat situasi. Dia lalu memeluk korban dari belakang sambil meraba bagian dada. Korban pun seketika menjerit dan meminta tolong sehingga mengundang perhatian warga. 

Ini bukan kasus pertama, akhir Juli lalu, ZR, warga Kencong juga bernasib sama ketika melintas di jalur lintas selatan (JLS) sepulang kerja. Sebagaimana diberitakan TribunJakarta.com (25/7), ZR mengaku dilecehkan saat pulang kerja pada malam hari dan jalanan sedang sepi. Tiba-tiba dari arah belakang, motor dipepet lelaki bertubuh besar. Tangan kiri lelaki tersebut tiba-tiba melakukan tindakan senonoh ke payudaranya. ZR dan teman wanita yang pulang bersamanya shock. Ternyata, dua orang teman kerjanya pun menceritakan pernah mengalami hal serupa. 

Akibat Maraknya Pornografi


Pelecehan seksual bukanlah kejahatan biasa. Umumnya kejahatan terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Namun dalam kasus kejahatan seksual, ada faktor pendorong lain yakni fantasi liar. Bahkan, Anggi Aulina, seorang kriminolog menyatakan bahwa fantasi liar inilah yang menjadi pemicu utama. Begitu dahsyatnya dampak fantasi liar ini, ia melahirkan niat dan mendorong pelaku untuk mencari-cari kesempatan. 

Fantasi liar ini diproduksi oleh pornografi yang marak di negeri ini. Khofifah Indar Parawansa pernah menyatakan bahwa belanja pornografi di Indonesia tahun 2014 lalu mencapai 50 triliyun! Angka yang sangat fantastis. Ini yang terdata. Bagaimana dengan konten porno pada berbagai tayangan film/sinetron, video klip, iklan, game-game online? Bagaimana pula dengan fantasi liar yang disisipkan dalam novel, lirik lagu, puisi? Yang kesemuanya bisa dengan mudah dipublikasikan atas nama seni dan karya. 

Pornografi yang telah melahirkan fantasi-fantasi liar ini adalah teror bagi perempuan. Hampir setiap pelaku kejahatan seksual mengaku kecanduan atau kerap kali menonton video porno. Dan perempuan-perempuan yang berada dalam situasi rentan, menjadi sasaran kebejatan moral mereka.

Maraknya pornografi adalah ciri masyarakat liberal yang kering dari keimanan. Liberalisme yang lahir dari sekulerisme telah menjadi agama baru. Liberalisme yang diekspor Barat ke negeri ini telah menggeser nilai-nilai spiritualitas dan ketakwaan. Membuat orang merasa tak lagi perlu mengendalikan hawa nafsu. Justru kesenangan dan bersenang-senang itulah tujuan. 

Tak heran, peradaban Barat dengan liberalismenya hancur. Institusi keluarga tak bernilai. Kehormatan pria dan wanita tak lagi berharga. Di Amerika Serikat, 1 dari 6 perempuan pernah diperkosa selama hidupnya. Di Inggris, 1 dari 5 perempuan pernah menjadi korban kekerasan seksual sejak usia 16 tahun. Di Jerman, gereka Katolik sampai membolehkan penggunaan pil KB bagi korban karena amat tingginya kasus perkosaan. Di Kanada, total perkosaan yang pernah dilaporkan sebanyak 2.516.918 kasus (WomenAndShariah, 2015).

Solusi Islam


Sebagai agama yang lengkap dan sempurna, Islam tidak hanya menghentikam dan membuat jera pelaku pelecehan, namun Islam sangat menekankan pencegahan pelecehan.

Seperangkat aturan dan hukum Islam diturunkan untuk memuliakan manusia dan mewujudkan kehidupan manusia yang tentram. Aturan itu adalah:

Pertama, dalam Islam hukum asal kehidupan pria dan wanita adalah terpisah. Sehingga tidak dibenarkan adanya ikhtilath atau campur baur seperti yang biasa kita saksikan sekarang. 

Namun bukan berarti laki-laki dan perempuan sama sekali tidak boleh berinteraksi atau bertemu. Dalam hal pendidikan, kesehatan, muamalah dan tolong menolong, mereka dibolehkan untuk bertemu dan berinteraksi sebatas hal-hal yang diperbolehkan oleh syariah.

Sementara itu dalam hal transportasi, negara bisa memisahkan tempat duduk atau gerbong antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, baik laki-laki dan perempuan diwajibkan untuk menutup aurat secara sempurna dalam kehidupan umum dan dihadapan non mahrom. 

Ketiga, laki-laki dan wanita wajib menundukkan pandangan. Bukan berarti tak boleh melihat. Namun, boleh melihat tanpa disertai syahwat. Tentu melihat yang dibolehkan syariat. Bagi wanita, hanya wajah dan telapak tangannya yang boleh terlihat. 

Keempat, larangan khalwat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah seorang berdua-duaan dengan (wanita) yang bukan mahromnya.” Bahkan dalam hal ta’aruf atau khitbah, seorang wanita wajib ditemani mahrom atau walinya. 

Kelima, mengacu pada hukum syariah diatas, pornografi dan pornoaksi dalam beragam bentuknya adalah haram. Baik itu dalam iklan, film, video klip, baliho dan sebagainya.  Batasan pornografi adalah batasan aurat. 

Teks-teks sastra ataupun lirik lagu haram mengandung unsur-unsur yang membangkitkan fantasi seksual. 

Karena syahwat seksual, hanya sah dan halal dalam kehidupan privat suami istri. 

Keenam, pendidikan yang menancapkan aqidah Islam dan menanamkan ketakwaan. 

Ketujuh, media yang sejalan dengan syiar-syiar Islam. Dalam hal ini, negara bisa membuat undang-undang pers atau transaksi elektronik yang mengacu pada hukum-hukum syariah.

Kedelapan, mempermudah pernikahan. Islam mendorong laki-laki dan perempuan untuk menikah dan melarang kebiri dan membujang. Khalifah Umar bin Abdul Aziz bahkan pernah membuat anggaran dari baitul mal untuk laki-laki yang ingin menikah namun belum memiliki harta.

Delapan hal diatas adalah langkah preventif yang dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual. Semua itu akan efektif bila diterapkan secara resmi oleh negara.

Namun, manusia tak pernah lepas dari khilaf. Apabila dengan semua pengkondisian yang dilakukan negara dengan menerapkan hukum-hukum syariah di atas, masih ada pelaku maksiyat yang melakukan pelecehan seksual, maka Islam memiliki sanksi yang tegas.

Dalam Islam jika perempuan diperkosa dan mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, yaitu kesaksian empat laki-laki Muslim, atau jika laki-laki pemerkosa mengakuinya, maka laki-laki itu dijatuhi hukuman zina, yaitu dicambuk 100 kali jika dia bukan muhshan, dan dirajam hingga mati jika dia muhshan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 358).

Dan jika ada anggota tubuh yang dilukai maka pelaku dikenai diyat.
Pelecehan seksual selain itu, tidak dikenai had zina, namun dihukum ta’zir sesuai dengan ijtihad qadhi. Bisa saja dicambuk dengan dipertontonkan ke hadapan umum sehingga memberikan efek jera. 

Demikianlah, Islam hadir untuk menjaga dan menghantarkan kita pada kemuliaan hidup. Sudah saatnya kita kembali pada Islam dan mencampakkan sistem sekuler yang terbukti menyengsarakan dan menghinakan perempuan.

Wallahu a’lam bish-showab.

*) penulis adalah pimpinan redaksi Info Muslimah Jember

0 komentar:

Posting Komentar