Rabu, 19 September 2018

Islam dan Solusi Pamungkas untuk Stunting



Islam dengan kesempurnaan aturannya yang datang dari Sang Maha Sempurna memiliki solusi kompehensif, menyentuh akar masalah, dan tentunya paripurna.

Pertama dari sisi individu dan keluarga, Islam mendorong ummatnya untuk berperilaku sehat. Bukan semata demi sehat itu sendiri, tapi wujud ketaat seorang hamba pada penciptanya. Antara lain Islam telah mewajibkan seorang muslim mengkonsumsi makanan halal dan thoyyib (bergizi).

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. Al Baqarah: 168).

Aturan ini berlaku untuk semua kalangan usia dan gender. Terutama bagi seorang muslimah, sejak memasuki periode baligh, hendaknya lebih memperhatikan pemenuhan gizi yang dibutuhkan, demi menyiapkan gizi terbaik bagi calon bayinya kelak. Apalagi ibu hamil dan menyusui, harus mendapat dukungan penuh dari orang terdekatnya untuk menjaga nutrisi diri dan janin yang ada dalam kandungannya.

Perilaku hidup sehat yang lain juga seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta rutin berolahaga sudah seharusnya dijalankan sebagai upaya peningkatan kesehatan. Sudah masyhur dorongan Islam terkait menjaga kebersihan dan kesehatan fisik ini.

Kedua, peran masyarakat. Pola hidup sehat yang menjadi anjuran dalam Islam ini tentu harus didukung oleh masyarakat. Perannya sangat penting, yaitu untuk saling menasehati dan mengingatkan jika ada anggota masyarakat yang masih kurang kesadarannya untuk berperilaku sehat.

Ketiga, peran negara. Sebagai agama dan sistem kehidupan yang sempurna, tentu Islam tidak akan membiarkan negara berjalan dengan aturan sekenanya. Justru dalam Islam, negara lah yang paling besar perannya dalam penerapan aturan kehidupan yang berasa dari sang pencipta. Sejarah menyatakan bahwa kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Dalam penanganan stunting, setidaknya beberapa hal yang menjadi kebijakan pemerintahan Islam:

1.      Memberikan jaminan kesehatan bagi setiap individu warganya. Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar manusia, oleh karena itu menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya.

“Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya” (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufr√Ęd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa dalam islam, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan, sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Dan negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, sesuai dengan sabda Nabi

Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Termasuk yang dijamin disini adalah terpenuhinya kebutuhan makanan halal dan thoyyib (bergizi) bagi setiap individu warga negara. Kebijakan ini diambil sejak awal sebelum munculnya masalah gizi seperti stunting ini.

Selain itu, layanan kesehatan juga menjadi kewajiban negara yang diberikan secara gratis untuk rakyat. Layanan kesehatan berbasis Islam yang tidak hanya fokus pada kuratif melainkan juga sangat memperhatikan preventif dan promotif. Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya.  Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis.  Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

2.      Jaminan pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi
Jika masalah stunting tak bisa lepas dari tingkat pendidikan masyarakat terutama ibu hamil dan menyusui, maka Islam punya jawabannya. Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan salah satu kebutuhan primer bagi rakyat secara keseluruhan. 

Negara wajib membuka dan membangun sekolah-sekolah dasar, menengah maupun pendidikan tinggi dalam jumlah yang memadai sesuai dengan jumlah rakyat yang akan belajar, baik itu anak-anak maupun orang-orang dewasa yang buta aksara. 

Negara wajib menyempurnakan sektor pendidikan melalui sistem pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya.  Sebagaimana Rasulullah SAW telah menentukan tebusan tawanan Perang Badar berupa keharusan mengajar sepuluh kaum Muslim dan ijma sahabat telah menetapkan tentang penetapan khalifah dalam memberi gaji kepada para pengajar dari Baitul maal dengan jumlah tertentu. Beginilah Islam meningkatkan taraf pendidikan warganya, sejak dini dan bekelanjutan, bukan dengan cara sekali dua kali penyuluhan.

3.      Menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan menentramkan
Dalam hal ini yang berkaitan dengan penanganan stunting, Islam mewajibkan negara menjamin seluruh kebutuhan pokok rakyatnya. Selain kebutuhan yang sudah dibahas di atas, negara juga akan menjamin kebutuhan terhadap listrik, bahan bakar, serta lapangan pekerjaan. Pentingnya seluruh jaminan ini sebagaimana telah dijelaskan pada kritik intervensi Gizi Spesifik di atas.

4.      Pengaturan tata ruang dan tata kota
Demi memenuhi kebutuhan tempat tinggal warganya, negara tetap tidak akan abai terhadap tata kota dan tata ruang. Tidak seperti kapitalisme yang akan membiarkan pembangunan segelintir perumahan mewah yang mengambil lahan sangat luas, sementara begitu banyaknya perumahan rakyat kecil dalam lahan yang sangat sempit. Warga kaya dan miskin tidak berbeda bagi Islam, tidak boleh ada yang lebih diistimewakan. Dengan demikian, tidak akan ada lagi pemukiman padat nan kumuh yang makin memperparah problem stunting ini.

5.      Jaminan akses air bersih
Islam sangat memperhatikan air karena menempatkan air bukan sekadar sebagai minuman bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk kelestarian hidup semua makhluk-hidup, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana penting yang sangat menentukan bagi kesempurnaan iman seseorang dan ke-sah-an sejumlah aktivitas ibadah. Oleh karena itu, negara akan melibatkan sejumlah ahli untuk menemukan teknologi yang mampu menyediakan sumber air bersih dalam jangka waktu yang panjang guna mencegah kekurangan pasokan air bersih akibat kondisi alam.

Di samping itu, negara juga akan memberikan aturan yang jelas mengenai pengolahan limbah baik rumah tangga, pertanian maupun industri agar jangan sampai mencemari sumber air. Bahkan, negara dengan sistem hukumnya yang tegas dan adil, akan mengatasi tingkah pengusaha yang masih saja melanggar ketentuan pengolahan limbah tersebut.

6.      Ketahanan pangan yang kuat
Karena demikian pentingnya, maka negara Islam akan menjamin persediaan pangan ini, dalam kondisi apapun. Dalam hal ini negara akan memberikan subsidi yang besar bagi para petani agar mereka dapat memproduksi pangan, agar biaya produksi ringan, sehingga keuntungan yang mereka peroleh juga besar. Sebab, pangan adalah masalah strategis, dimana negara tidak boleh tergantung kepada negara lain. Ketergantungan pangan terhadap Negara lain bisa mengakibatkan Negara akan dengan mudah dijajah dan dikuasai.

Politik pertanian negara Islam diarahkan untuk peningkatan produksi pertanian dan kebijakan pendistribusian yang adil, sehingga kebutuhan pokok masyarakat pun terpenuhi. Islam telah mencontohkan bagaimana amirul mukminin Umar bin khattab mengatasi kondisi kelaparan yang dialami warganya. Beliau langsung memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan pada warga tadi.

Bahkan, sejarah mencatat kuatnya ketahanan pangan negara Islam mampu memberi bantuan pangan pada negara lain yang sedang dilanda kelaparan. Seperti yang terjadi saat Khalifah Abdul Majid saat memimpin Kekhilafahan Turki Ustmani. Pada tahun 1845, terjadi kelaparan besar yang melanda Irlandia yang mengakibatkan lebih dari 1,000,000 orang meninggal. Untuk membantu mereka, Sultan Abdul Majid berencana mengirimkan uang sebesar 10,000 sterling kepada para petani Irlandia. Akan tetapi, Ratu Victoria meminta Sultan untuk mengirim 1,000 sterling saja, sebab dia sendiri hanya mengirim 2,000 sterling. Maka, Sultan pun mengirim 1,000 sterling. Namun, secara diam-diam beliau juga mengirim 3 kapal penuh makanan.

7.      Kebijakan hutang luar negeri
Sistem ekonomi berbasis Islam yang diterapkan akan membawa negara menuju kesejahteraan. Sumber pemasukan harta negara sangat beragam dan akan digunakan secara optimal untuk pembiayaan operasional dalam negeri, termasuk penanganan stunting ini. Sehingga tidak memerlukan pinjaman dana dari negara lain maupun lembaga internasional. Meski Islam membolehkan negara berhutang pada negara lain, asal tidak ada pelanggaran syariat dalam perjanjian hutang tersebut. Pelanggaran syariat yang dimaksud adalah riba dan penguasaan hak milik umum tertentu.

Namun perlu diperhatikan bahwa semua alternatif solusi dari Islam ini hanya bisa diterapkan secara keseluruhan dalam sebuah negara yang sepenuhnya menerapkan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Negara semacam ini disebut Khilafah. Sebagaimana sistem yang dijalankan oleh Nabi dan para khulafaur Rasyidin, hingga era Khilafah terakhir yaitu Khilafah Utsmani.





0 komentar:

Posting Komentar