Selasa, 30 Oktober 2018

Awas! Sekularisasi Digital Ancam Generasi



[KAMPANYE #SaveTheFamily

/ Awas! Sekularisasi Digital Ancam Generasi /

Oleh: Juanmartin

Intuitive digital memang layak disematkan generasi millenial saat ini. Generasi yang separuh waktunya nyaris dihabiskan di dunia maya,dan mampu melakukan interaksi dengan beragam konten virtual dalam waktu yang bersamaan. Sebagai satu produk hasil kejeniusan manusia, teknologi digital tak dipungkiri mampu menembus kebekuan ruang spasial. 

Kecanggihan teknologi mampu menempatkan seseorang di sudut ruang, sembari mengakses berbagai sirkulasi informasi melalui ponsel pintar. Akses terhadap berbagai informasi tak lagi memiliki barrier, sayangnya generasi kita berada pada kondisi rentan terpapar informasi negatif, sesaat setelah mengaktifkan akses ke ruang virtual. 

Eksistensi media sosial sebagai salah satu simpul edukasi publik yang banyak di akses saat ini, justru dibanjiri informasi murahan, miskin edukasi bahkan memuat nilai-nilai kebebasan berikut budaya pop yang di adopsi dari luar. Tak pelak, sekularisasi digital secara massif tengah menyasar generasi kita.

Sebagai user yang mendominasi negeri ini, generasi muda jelas menjadi kelompok yang rentan terpapar berbagai konten yang di adopsi dari nilai-nilai sekuler. Jiwa kapitalstik pengusaha startup atau rintisan startup membuka celah derasnya aliran informasi berkonten liberal. Sifat materialistis ini pada akhirnya hanya mengejar viral yang berdampak pada mengalirnya pundi-pundi dollar ke kantong mereka. Tak peduli konten mereka menawarkan gaya hidup hedonis permissif yang merusak generasi umat abad ini. 

Jiwa kapitalistik pengusaha startup ini pada akhirnya bertemu dengan kebebasan berperilaku yang di akomodir keberadaanya dalam system saat ini. Alhasil,kondisi ini telah menjadikan seseorang merasa wajar mengekspresikan hasratnya secara bebas tanpa peduli dampak yang ditimbulkan. 

Parahnya, saat ini konten digital yang mengumbar gaya hidup serba bebas, justru dikomersilkan dan menjadi barang komoditas. Akses yang mengalir ke konten-konten negatif, memberi keuntungan pada jiwa-jiwa materialistis yang mengais keuntungan di dunia maya. Parahnya, Iming-iming materi bahkan telah menjadi motivasi bagi generasi muda untuk ikut menceburkan diri ke dalam industrialisasi konten digital yang tak bermutu.

Gelombang digitalisasi pemikiran sekuler pun mengintai generasi. Sebagai ruang tanpa batas, ruang digital telah dijadikan sarana bagi para pemikir sekuler untuk menginjeksikan nilai-nilai kebebasan pada generasi muda. Bayangkan apa yang anda rasakan saat memindai akun-akun yang berisi deretan opini-opini sekuler dan menjual pemikiran liberal di ruang virtual. 

Gender equality, dukungan terhadap eksistensi L68T,edukasi aborsi aman, inisiasi berupa ajakan pada kaum muda untuk ikut berpartisipasi menyukseskan agenda liberal mereka, telah menjadi ancaman yang datang dari sudut lain dunia digital. Simaklah sesumbar mereka mengenai L68T “Some people love girls, some people love boys, and some swing both ways, just like olly. Today is celebrate bisexuality day”, di tambah caption yang membius generasi untuk mengakui penyimpangan fitrah yang dilakukan komunitas ini, sangat berbahaya. Sangat wajar jika pada akhirnya, komunitas pengikut kaum sodom berani eksis di dunia maya.

Entertainment adalah salah satu konten yang menempati rating tertinggi dunia digital. Hiburan memang menjadi komoditas virtual yang banyak dinikmati oleh millenial. Penjajahan melalui food, fashion, film dan fun terus bermutasi hingga menemukan moment yang tepat untuk beregenerasi seiring kemajuan teknologi. 

Industri hiburan berupa J-Pop, K-Pop, hallyu/korean wave, anime dan style harajuku telah meng-influence remaja di berbagai pelosok dunia. Gemerlap dan glamournya dunia hiburan telah membius generasi untuk mengikuti life style idola mereka. Padahal dibalik ketenaran sang idola, terselip kontrak perbudakan dan menyisakan mimpi kebebasan yang harus dibayar lewat bunuh diri. 

Korean wave/hallyu menjadi gelombang baru histeria remaja, ia menjadi sesembahan baru, dengan rasa Asia, kurang lebih itulah yang terungkap dari Song Seung-Hwan, seorang aktor sekaligus artistic director “Hallyu has spruced up western ideals with an asian flavor. Creating a cult following in asia”.

Kreativitas yang tak berfaedah juga membanjiri linimasa. Dampaknya, penumpulan daya kritis dan posisi kaum muda sebagai agen perubahan sekaligus sebagai iron stock peradaban kian terkikis. Mereka disibukkan dengan berbagai challenge tak bermutu bahkan mengancam nyawa. Kreativitas yang seharusnya dapat dioptimalisasikan untuk hal yang bermanfaat, justru di bajak dengan iming-iming rupiah. 

Generasi kita jadi apatis, kreatif namun miskin visi. Disebut sebagai generasi “berisik”, namun konten yang dibicarakan sangat jauh dari fungsi sosial mereka yang seharusnya. Slogan untuk menikmati masa muda seolah menjual kisah bahwa kematian tak datang di kala muda. Alhasil, generasi jadi bingung saat berbicara mengenai konsep kebangkitan.

===

Virtualisasi Liberalisme Mengancam Generasi

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Bareskrim Polri melakukan kampanye bersama menyerukan keselamatan anak-anak Indonesia dari dampak buruk internet sejak tahun 2016. 

Kampanye bersama ini merupakan wujud kepedulian, perhatian, dan komitmen negara untuk melindungi anak-anak dari berbagai dampak buruk internet, diantaranya pornografi online, prostitusi online, ataupun cybercrime.

Deputi Bidang Perlindungan Anak, Kementerian PP dan PA, Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan bahwa Dari data dan fakta yang ada, tidak ada lagi daerah yang bebas atau steril dari kasus kejahatan terhadap anak, baik yang disebabkan oleh pornografi online, prostitusi online, ataupun cybercrime. 

Oleh karena itu, disinilah peran strategis kegiatan kampanye “Save Our Child In The Internet” agar pemerintah bersama masyarakat dapat bersinergi melindungi anak-anak karena pemenuhan hak anak harus dilakukan secara holistik agar terwujud Indonesia yang sehat secara fisik, mental, dan emosional. 

Dengan perangkat regulasi ini, mampukah generasi kita bebas dari paparan gaya hidup liberal? Jawabnya tentu tidak. Bahkan instrumen yang ada saat ini hanya meredam. Namun jika saatnya tiba, akan didapati generasi negeri ini rusak, dan kita harus membayar cost sosial yang tidak sedikit. 

Sebab akar masalahnya bukanlah sekedar pada instrumen kebijakan melainkan tata nilai sekuler yang saat ini di adopsi dan diterapkan di negeri ini. Media memiliki posisi penting dalam hal ini. Media hari ini didominasi konten sekuler yang menjual gaya hidup liberal kepada kaum muda.

Dalam islam, Media merupakan sarana edukasi bagi umat agar mampu berpikir dan bersikap dengan benar sesuai aqidah Islam. tidak ada kebebasan pers, dalam arti menyebarkan konten yang bertentangan dengan aqidah Islam. 

Media mempunyai tanggungjawab besar untuk menyingkirkan nilai-nilai sekulerisme dan bertugas mempropagandakan nilai-nilai Islam. Jika negeri ini serius ingin menyelamatkan anak Indonesia dari dampak buruk internet, maka harus ada langkah real yang ditempuh dengan mengembalikan fungsi media yakni melakukan edukasi dan bertugas melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar.


======

Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar