Selasa, 02 Oktober 2018

JIKA ISTRI BERZINA SAMPAI HAMIL

Sumber : Suara.com

JIKA ISTRI BERZINA SAMPAI HAMIL

Tanya :

Assalamualaikum. Seandainya seorang istri selingkuh melakukan hubungan intim sama lelaki bukan mahromnya itu apa boleh istri kembali lagi ke suami? Istri sedang keadaan hamil tapi tidak tau anak siapa itu. Trus bagaimana? Jadi tadi boleh bangun nikah lagi?

Jawab :

Wa’alaikumussalam warahmatullahiwabarakaatuh

Zina bukanlah dosa yang ringan. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabaair (dosa-dosa besar) menjabarkan bagaimana keji dan hinanya zina. Besarnya dosa zina ini juga nampak dari tegasnya had zina. Cambuk 100x bagi yg belum menikah dan rajam sampai mati bagi yang sudah menikah.
Selain berdosa besar, zina juga menimbulkan kerusakan di masyarakat. Dan mengundang adzab Allah.

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

“Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan menjauhi zina. "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS.Al Israa. ayat 32).

Oleh karena itu, Islam pun telah mengharamkan segala hal yang mendekatkan pada zina seperti : khalwat (berdua-duaan antara pria dan wanita yang bukan mahrom), ikhthilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), haram wanita menemui non mahromnya atau keluar rumahnya tanpa khimar dan jilbab, haram wanita memakai wewangian di area publik, berjalan dan berbicara dengan nada mengundang syahwat, haram bagi wanita untuk tabarruj, haram bagi laki-laki membuka auratnya, haram bagi pria memandang memandang wajah wanita dengan syahwat begitu pula sebaliknya. Islam mengharamkan nyayian, syair, kisah-kisah yang mengundang dan mendorong diumbarnya syahwat dalam kehidupan umum. Islam pun mendorong pernikahan dan menjanjikan pahala yang besar dalam pernikahan. Itu semua agar manusia terhindar dari zina.

Namun, manusia bukanlah malaikat yang tidak pernah tergelincir dalam dosa. Jika ia tergelincir dalam perbuatan zina yang keji dan hina, yang harus ia lakukan adalah menutup aibnya dan taubat nasuha. Tidak perlu seorang istri yang tergelincir dalam zina untuk menceritakan aibnya ini pada suaminya. Atau pada siapapun.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ
Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunyikan aib). [Riwayat Abu Dawud dan Nasâ-i].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةً إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ فِي اللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ، وَقَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا، وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيَبِيتُ فِي سِتْرِ رَبِّهِ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap ummatku diampuni kecuali mujâhir (orang yang membuka aib sendri), dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari kemudian keesokan harinya ia berkata, ‘Wahai, fulan ! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu,’ padahal malam harinya Allâh menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allâh telah berikan”. [HR. Muslim]

Jadi, jika seorang hamba bermaksiyat pada Allah, lalu Allah telah menutup aibnya, maka janganlah ia buka aibnya. Entah itu kepada suaminya ataupun orang lain. Dan taubatnya, adalah pada Allah, bukan pada suaminya atau manusia lain.
Memang, rajam merupakan kaffarah atas dosanya. Sehingga kelak dia tidak diadzab oleh Allah. Namun, yang wajib dan berhak melakukan rajam adalah seorang Khalifah (kepala negara), bukan masyarakat. Dan saat ini, kita belum memiliki seorang Khalifah yang akan menegakkan hudud. Sehingga dia harus benar-benar bertaubat dan menutupi aibnya ini. Dan Allah adalah Maha penerima taubat.

Lalu bagaimana cara taubat dari zina?

Pertama, sungguh-sungguh menyesal yaitu merasa benci dengan kemaksiyatan dirinya, bukan justru mengenang atau mensyukuri. Dan ini adalah hakikat taubat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
Penyesalan adalah hakekat taubat. (HR. Ahmad)

Kedua, menjauhi semua pemicu zina.
Sahabat Muslimah, seseorang tidak akan melakukan dosa besar jika tidak terbiasa melakukan dosa-dosa kecil. Dimulai dari mengagumi laki-laki lain yang bukan suaminya. Bergaul dan berinteraksi dengannya. Curhat persoalan pribadi atau keluarga. Lama kelamaan makin intim. Dan tergelincirlah ia makin jauh. Oleh karena itu, jika ia menyesal dan bertaubat, ia tinggalkan semua itu. Termasuk ia jauhi pasangan zinanya. Jauhi segala hal yang mengingatkan akan perbuatan kejinya.

Ketiga, bertekad tidak mengulangi.
Perbaiki hubungan dengan suami. Carilah keridloan suami. Bersyukurlah akan karunia yang Allah berikan lewat suami. Karena salah satu yang mendorongnya berani berzina adalah kurang bersyukur akan suami. Dan kebanyakan penghuni neraka adalah wanita karena mereka tidak bersyukur pada suaminya. Oleh karena itu, perbaiki ketaatan pada suami. Cintai suami. Berusahalah untuk selalu menyenagkan suami.

Keempat, dekatkan diri dengan banyak beribadah pada Allah. Sholat wajib ditambah dengan yang sunnah. Dzikir, membaca dan menghafal Alquran, shadaqah, dan sebagainya. Karena ketaatan dapat menghapusu dosa.
Allah berfirman,
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Kelima, menuntut ilmu islam dan mencari lingkungan yang baik.
Diantara sebab mudahnya seorang hamba tergelincir pada zina adalah karena jauhnya dari agama.
Menuntut ilmu adalah penyelamat bagi seorang mukmin. Selain itu, menuntut ilmu agama hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap mukmin. Menuntut ilmu agama akan mendekatkan kita pada teman-teman yang sholih. Lingkaran kesholihan inilah yang kan mendorong kita bersemangat melakukan ketaatan dan taubat. Sebagaimana jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mencintai dunia, kita pun akan terdorong mengejar dunia. Na’udzubillah.

Keenam, bergabung dalam jama’ah dakwah untuk beramar makruf nahi munkar.
Sungguh, bencana yang kita hadapi saat ini adalah tidak ditegakkannya Islam secara sempurna.
Kemungkaran disyiarkan secara terbuka. Pornografi di mana-mana. Nyanyian pengundang syahwat bak kacang goreng. Salah satu jalan taubat adalah menyelamatkan orang lain agar tidak tergelincir dalam kehinaan yang sama.
Allah SWT berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah : 71)

Ketujuh, terkait kehamilannya, maka urusannya diserahkan pada Allah. Taubat dan yakini bahwa anak dalam kandungannya bernasab pada suaminya. Taubat dengan rawat dan didik anak tersebut supaya tumbuh dalam naungan Islam.

Itulah beberapa langkah taubat dari zina. Adapun bangun nikah lagi, tidak disyariatkan kecuali, akad nikahnya yang pertama tidak sah atau dia dicerai oleh suaminya kemudian dirujuk setelah lewat masa iddah.

Wallahu a’lam bish showab.

Dijawab oleh Ustadzah Faiqotul Himmah

0 komentar:

Posting Komentar