Kamis, 11 Oktober 2018

Keluarga Muslim dan Keterasingan yang Kelam

[KAMPANYE #SaveTheFamily

/ Keluarga Muslim dan Keterasingan yang Kelam /
Oleh: Nisreen Buzhafiri
#MuslimahNewsID -- Sistem keluarga sebuah bangsa sangat berkaitan dengan ideologi dari bangsa tersebut dan ide yang muncul darinya, yang mendefinisikan sejumlah kriteria, konsep, dan pendirian dari masyarakat. Sehingga hukum-hukum dan aturan yang dibentuk secara harmonis sesuai dengan yang diyakini masyarakat, menciptakan keistimewaan yang unik yang membedakan sebuah bangsa dengan yang lainnya.
Namun harmoni antara sistem dan keyakinan tidak serta merta menimbulkan keseimbangan dan ketertiban di masyarakat, dan tidak berarti sistem yang digunakan mengurus urusan masyarakat adalah benar. Sistem yang benar bergantung pada doktrin yang benar, dan ini hanyalah dengan Islam.
Karena doktrin di Barat didasarkan pada dua ide dasar yang bertentangan dengan aqidah Islam, yaitu: pemisahan agama dari kehidupan dan kebebasan individu absolut, pandangan tentang keluarga didasarkan pada ide-ide ini. Demikian, legislator Barat menjamin individualitas, kebebasan dan pertentangan agama dalam pengesahan hukum keluarga, yang menjelaskan penjabaran sistem nilai di dalam keluarga pada masyarakat Barat, yang menghasilkan disintegrasi, kekacauan dan krisis yang menimpa inidividu dan masyarakat.
Sehingga konsep keluarga menjadi terbatas pada pertemuan dua manusia, terlepas dari mereka adalah laki-laki ataupun perempuan, laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan, sedangkan anak-anak dapat ditambahkan ke dalam keluarga melalui adopsi atau bahkan dengan sewa Rahim (surogasi)!
Betul! Kebebasan-kebebasan absolut ini dengan penghapusan agama telah membolehkan legislator Barat merusak institusi keluarga dan membuat semua ketentuan berdasarkan “status individu”. Hukum-hukum tentang status individu ini tetap dengan pandangan individual dan menghormati kebebasan.
Sebab itu, pernikahan sejenis menjadi legal serta gender, perbuatan sumbang, ibu tunggal, hubungan di luar nikah, anak sumbang, perceraian, warisan, dan hak asuh semuanya berdasar pada individualisme berlebihan, yang menyucikan individu serta membuat kepentingan dirinya berada di atas kepentingan masyarakat.
Hal ini jelas merupakan sebuah banjir yang membinasakan masyarakat Barat dan menghantam intinya sehingga nilai moral, kemanusiaan dan spiritual menjadi jatuh, dan tidak ada pertimbangan yang diberikan kecuali untuk mendapatkan keuntungan materi individu! Jadi, hukum itu sendiri menjadi satu dengan masalah-masalah hubungan keluarga dan meningkatkan keparahan krisis, karena mereka semua berbasis pada pandangan yang rusak tentang manusia dan kehidupan!
Terlepas dari kerusakan keyakinan Barat dan kerusakan sistem yang muncul darinya, konsensus hukum, penerimaan mereka dan bahkan keinginan mereka di banyak kasus, terlepas dari kejanggalan dan kerusakannya merefleksikan harmoni antara ide dan sistemnya.
Kami menemukan demonstrasi besar di jalan-jalan di Eropa dan Amerika yang meminta perlindungan terhadap homoseksual dan hak-hak mereka, atau mengesahkan hukum-hukum yang mengizinkan kekafiran, atau meminta aturan pernikahan antara manusia dan binatang, seperti di Norwegia contohnya, yang mengizinkan hal ini kecuali menikahi serangga, hewan laut dan unggas!
Hukum-hukum yang rusak dan memalukan ini menunjukkan luasnya kerusakan keyakinan Barat dalam mengurus manusia dan banyaknya kekurangan serta ketidakmampuannya dalam memahami kemudian menyelesaikan masalah-masalah.
Hal ini telah membuat para pembuat hukum di Barat terpaksa berbohong tentang kebebasan “lakukan apa yang anda inginkan dan bagaimanapun yang anda mau”, karena ketidakberdayaan mereka dalam memahami masalah manusia dan memberikan solusi, jadi “kebebasan” adalah pasak ketidakmampuan dan kegagalan!
Namun krisis keluarga di negeri kaum Muslim adalah hal yang lain, ini adalah krisis dari sistem rusak yang terputus dari kultur ajaran Islam yang telah secara paksa dikenalkan dan wajib diterapkan atas umat, membentuk keadaan yang penuh dengan kekacauan, karena kegagalannya di satu sisi, dan secara prinsip bertentangan dengan ajaran, kriteria dan keyakinan umat, di sisi yang lain.
Keluarga Muslim kita hari ini hidup pada keadaan disosiasi yang kelam, antara agama yang dipercaya, yang secara nyata tak terpisahkan dari hidup dan hukum-hukum berdasarkan pemisahan agama dari kehidupan. Percampuran hal yang bertentangan ini merusak dan tidak membangun dan membuat situasi individu serta masyarakat menjadi krisis yang rumit berlipatganda!
Antara aturan Allah dalam pernikahan, perceraian, ketentuan, perwalian, waris, hak asuh, dan silsilah keturunan, serta kekuasaan cangkokan yang diterapkan pada leher-leher kita, maka mereka memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan dan membiarkan penerapan selain dari hukum Allah, dalam upaya sewenang-wenang untuk membentuk pandangan baru bagi keluarga dan tentang peran istri, suami, dan anak yang bertentangan dengan asalnya serta rincian terkait pandangan Islam yang Hebat!
Mulai dari majalah Status Individu yang ditemukan oleh Bourguiba di Tunisia pada tahun 1956, yang telah menyebarkan kontroversi di tanah Az-Zaytouna yang mengumumkan perang kepada Allah dan RasulNya dalam asal-usul dan ketentuannya, yang meliputi pencegahan dan kriminalisasi poligami, penghapusan hak menceraikan oleh laki-laki dan menyerahkannya pada pengadilan serta penghapusan hak laki-laki untuk ditaati, melegalkan aborsi dan pengakuan adopsi.
Melalui Konvensi CEDAW (Komite Penghapusan Diskrimniasi terhadap Perempuan) dan ketentuan pasal-pasalnya yang bertentangan dengan hukum Islam, terutama dalam hal sistem waris dan pernikahan perempuan Muslim dengan seorang kafir, yang hampir seluruh negara-negara Arab enggan mengesahkan mereka kecuali Tunisia di masa El-Sibsi yang melanjutkan perang proxy Bourguiba yang meninggal sebelumnya atau Protokol Maputo atas Hak Perempuan di Afrika, atau rencana PBB terkait hak perempuan, keluarga dan anak, serta hak komite perempuan dan asosisasi feminis dan semua perjanjian dan proyek yang berusaha membasmi pemahaman Islam di keluarga, yang sangat terpatri pada Muslim sehingga menciptakan jarak yang lebar antara harapan keluarga dan realitanya.
Dalam melihat realita dari keluarga di negeri-negeri kaum Muslimin hari ini, tidak bisa dinafikkan bahwa kemerosotan statusnya melalui banyaknya fenomena perceraian dan peningkatan jumlahnya per hari, persentase individu yang belum menikah, keengganan pemuda untuk menikah karena takut akan ikatan keluarga, kemunduran ikatan keluarga, konflik peran di dalamnya, dan marginalisasi peran keibuan dan hubungan pernikahan, dengan tekanan kehidupan ekonomi serta kondisi hidup yang mengancam ikatannya, dan lebih dari itu, keadaan “schizophrenia” –penyakit yang suka mengasingkan diri- (keterasingan – red.) antara keyakinan dan sistem hukum.
Asal mula kepribadian Muslim karena mereka hidup dalam masyarakat adalah agar menjadi kepribadian yang terkoordinir dan konsisten. Ini membuat mereka menjadi individu yang seimbang dan disiplin, yang perilakunya dibentuk berdasarkan konsep yang ia yakini.
Dalam upaya penyatuannya dengan dirinya, antara manusia dengan penciptanya, ketaatannya terhadap hukum adalah kesadaran sendiri karena ketaqwaannya pada Allah subhanahu wa ta'ala, sehingga penerapan ketentuan dan kepuasannya menjadi mudah. Individu ini menghargai perannya di masyarakat, terutama di dalam keluarganya atau mereka membangun benteng yang tak dapat dikalahkan dengan ketentuan Allah dan RasulNya, sehingga keluarganya kuat, terikat, produktif, menyatu dengan ummah yang bersama dengannya serta responsif kepada negara di mana ia bernaung.
Agar keluarga Muslim kita mencapai kebangkitan, kedamaian, harmoni dan keseimbangan serta menghasilkan kepribadian yang bertanggungjawab dan dewasa, mereka harus menghilangkan rezim yang rusak yang menghancurkan dan tidak membangun ini dan mengadopsi sistem asli mereka yang terinspirasi dari doktrin yang mengakar pada mereka.
Membentuk negara mereka yang adil dan baik yang melindungi serta menjaga mereka untuk membangkitkan kembali konsep persatuan yang benar, dari satu jiwa, menjadi satu keluarga, menjadi satu negara, menjadi satu ummah.
﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا﴾
“Dialah Allah yang telah menciptakanmu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya.” (TQS. Al-A’raf: 189)
===

—————————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:

——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar