Selasa, 30 Oktober 2018

Memenangkan Hati Para Santri



 / Memenangkan Hati Para Santri /

Oleh: Nindira Aryudhani (Relawan Opini dan Media)

Hari Santri Nasional diperingati setiap tahunnya di Indonesia pada tanggal 22 Oktober. Pada 2018 ini, Hari Santri Nasional diperingati dengan tema 'Bersama Santri Damailah Negeri'. Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional disahkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 lalu, melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015.

Penetapan Hari Santri Nasional tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurut Jokowi, kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak lepas dari semangat jihad yang ditunjukkan oleh kaum santri. Dari catatan sejarah, ternyata tanggal 22 Oktober memiliki kaitan langsung dengan peristiwa besar, yaitu deklarasi Resolusi Jihad yang dilakukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945. 

Pada hari itu, KH Hasyim Asy’ari menyerukan kepada para santrinya untuk ikut berjuang untuk mencegah tentara Belanda kembali menguasai Indonesia melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Seruan jihad yang dikobarkan oleh KH Hasyim Asy'ari ini membakar semangat para santri di kawasan Surabaya dan sekitarnya.

Resolusi Jihad yang dideklarasikan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 tersebut mengingatkan kita mengenai peran kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Santri yang kerap dikenal berkutat seputar urusan agama, ternyata para mujahid pejuang Islam.

Di era selanjutnya, pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mengkhususkan pada pendidikan Islam kepada anak hingga remaja, yakni para santrinya. Dengan adanya pesantren, santri mampu mendapatkan pendidikan agama Islam lebih dalam sehingga diharapkan meningkatkan keimanan dan memiliki nilai-nilai moral dalam bermasyarakat.

Memang, keberadaan pesantren masih populer sebagai sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Kata "santri" menurut A.H Johns berasal dari Bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.

Pesantren juga berperan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Keberadaan pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596. 

Dalam catatan Howard M. Federspiel- salah seorang pengkaji keislaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama Dayah di Aceh) dan Palembang (Sumatera), di Jawa Timur dan di Gowa (Sulawesi) telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar. Terbukti, pondok pesantren di Indonesia memiliki peranan yang besar dari segi keagaamaan untuk kemajuan Islam maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Menilik makna filosofis sejarah Hari Santri Nasional, tepatlah kiranya mengembalikan peran para santri sebagaimana spirit Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari. Hendaklah santri menjadi garda terdepan para pembela Islam. 

Selayaknya, para santri menjadi motor-motor penggerak kebangkitan dan konstruktor peradaban Islam. Terlebih di tengah kian bebasnya invasi tsaqofah Barat berikut maraknya persekusi dakwah, para santri adalah orang-orang yang menempati posisi krusial sebagai simpul-simpul persatuan umat. Kesadaran inilah yang sesungguhnya dapat memenangkan hati para santri. Bukan iming-iming nominal harta dunia, apalagi jabatan dan kekuasaan.

Mari kita renungkan kembali dari benak terdalam, firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam QS Ali Imran ayat 103:
.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
.
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

—————————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:






——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar