Kamis, 11 Oktober 2018

Penyebab Kehancuran Keluarga di Negara-negara Sekuler Barat


[KAMPANYE #SaveTheFamily

/ Kehancuran Keluarga di Masyarakat Sekuler Barat bagian 2: Penyebab Kehancuran Keluarga di Negara-negara Sekuler Barat /
Pemerintahan Barat telah mencoba untuk memperkenalkan berbagai inisiatif untuk membendung gelombang keruntuhan keluarga dalam masyarakat mereka.
Namun, semua itu tidak berhasil karena mereka gagal mengenali bahwa penyebab mendasar kehancuran keluarga ini adalah nilai-nilai sekuler inti dan kurangnya prioritas umum yang diberikan untuk melindungi pernikahan dan kehidupan keluarga di dalam masyarakat liberal kapitalis.
Kebebasan Pribadi dan Seksual Liberal:
Budaya masyarakat liberal yang berbasis "kebebasan pribadi dan seksual" telah memelihara sikap hidup yang hedonistik dan serba bebas yang didasarkan pada pengejaran kepuasan jasmani dan hasrat individualistik, bukannya memelihara pola pikir pertanggungjawaban atas tindakan seseorang dan tanggung jawabnya terhadap orang lain.

Ini telah menciptakan keengganan untuk menikah pada banyak individu karena takut atas komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab yang diharuskan (di dalam pernikahan) - memandang pernikahan akan "membatasi kebebasan mereka" dan lebih memilih untuk menjadi "bebas dan lajang", serta memiliki hubungan seksual dengan "siapa pun, kapanpun".
Semua ini telah memicu budaya pergaulan bebas yang mengakibatkan kehamilan remaja di luar nikah, aborsi, ibu tunggal, dan perzinaan dalam tingkat yang semakin meningkat, yang merupakan salah satu penyebab utama perceraian di banyak masyarakat liberal.
Menurut penelitian yang dikutip oleh The Independent, 50-60% laki-laki yang sudah menikah dan 45-55% perempuan menikah di Inggris melakukan perzinaan. Menurut angka dari The Times, perzinaan menyumbang 12% penyebab perceraian di Inggris.
Abigail Lowther, pengacara rekanan dengan firma hukum keluarga, menyatakan bahwa perselingkuhan di Inggris "meroket" dibandingkan dengan jenis perilaku yang berkaitan dengan perceraian yang lainnya. Di Denmark, 46% pasangan yang sudah menikah berselingkuh, menurut angka dari Statista.
Dan di AS, beberapa survei menemukan bahwa sekitar 1 dari 3 orang mengaku melakukan perselingkuhan dari pasangan mereka. Kenyataannya, di dalam masyarakat liberal, kesucian pernikahan dan kesetiaan telah terkikis sedemikian rupa sehingga bisnis-bisnis yang menyediakan 'layanan perzinaan' beroperasi secara legal di dalam negara!
Namun, filosofi memaksimalkan kebebasan pribadi ini tidak memberikan kebahagiaan kepada individu-individu, yang tentu saja mereka inginkan.
Sebuah laporan oleh Palang Merah dan Koperasi Inggris, diterbitkan pada bulan Desember 2016, menemukan bahwa perceraian dan keruntuhan keluarga telah menyebabkan epidemi kesepian di Inggris. Bahkan, itu telah membuat 9 juta warga Inggris merasa kesepian.
Budaya dan gaya hidup liberal ini juga telah menciptakan situasi di mana seorang laki-laki mungkin memiliki hubungan di luar nikah dengan sejumlah perempuan yang tidak terhitung jumlahnya dan menjadi ayah anak-anak dari ibu yang berbeda, namun tidak mengambil tanggung jawab fisik atau emosional untuk anaknya atau ibu mereka lebih dari selembar cek yang diposkan sebulan sekali.
Ini telah melukai kehidupan jutaan anak-anak dan perempuan. Hakim Paul Coleridge, seorang mantan Hakim Pengadilan Tinggi Inggris di divisi keluarga, menggambarkan situasi ini sebagai "permainan tanpa akhir dari 'musical relationships' atau 'pass the partner’, di mana porsi penduduk yang signifikan ikut terlibat..., pencarian tanpa akhir yang sia-sia demi sebuah hubungan yang sempurna."
Ini adalah situasi yang juga telah menciptakan kurangnya kepercayaan pada individu yang mencari pasangan untuk menikah, karena mereka tidak yakin apakah hubungan semacam itu didasarkan pada loyalitas, kesetiaan dan kepedulian, atau tidak. Mereka juga prihatin apakah dapat bertahan hidup di dalam iklim masyarakat yang jenuh dengan pergaulan bebas dan kepuasan diri. Ini adalah salah satu penyebab turunnya tingkat pernikahan di Barat yang liberal.
Lebih jauh lagi, pola pikir berbahaya yang dipelihara oleh nilai-nilai liberal - yang mendorong laki-laki untuk mengejar dan bertindak sesuai hasrat dan keinginan mereka, di samping terjadinya devaluasi perempuan di dalam masyarakat liberal yang mendukung seksualisasi dan objektifikasi mereka oleh berbagai industri -, merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap epidemi kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) yang menimpa masyarakat Barat.
Satu dari tiga perempuan telah melaporkan beberapa bentuk pelecehan fisik atau seksual sejak usia 15 (European Union Agency for Fundamental Rights). Di Inggris, satu dari empat perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama hidupnya, dan 2 perempuan dibunuh setiap minggu oleh pasangannya atau mantan pasangannya (Office for National Statistics Inggris).
Di AS, seorang perempuan dipukuli oleh suami atau pasangannya setiap 15 detik (FBI), dan 3 perempuan dibunuh oleh pasangan mereka setiap hari (American Psychology Association). Di Australia, setiap 3 jam seorang perempuan dirawat di rumah sakit karena kekerasan dalam rumah tangga (Research Centre for Injury Studies, Universitas Flinders, Australia).
===
Individualisme
Pola pikir individualis "berbahaya", yakni “Me, myself, and I” ("Aku dan diriku"), yang dilahirkan di dalam masyarakat kapitalis yang mengultuskan mengamankan kepentingan pribadi di atas hal-hal yang lain, telah menggerogoti pondasi struktur keluarga.
Pola pikir ini telah menyebabkan individu untuk fokus pada apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri daripada apa yang terbaik untuk suami/istri atau pernikahan mereka, mengakibatkan meningkatnya perceraian.
Pola pikir ini telah menyebabkan individu untuk menempatkan keinginan mereka sendiri di atas kesejahteraan anak-anak dan masyarakat mereka sendiri, dan untuk melepaskan tindakan dan gaya hidup mereka yang serba memanjakan diri dari dampak merugikannya terhadap orang lain. Pola pikir ini telah berkontribusi pada orang-orang yang menunda atau menolak memiliki anak-anak untuk memaksimalkan kehidupan sosial mereka, keuangan pribadi, dan kebebasan pribadi.
Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris, proporsi bayi yang lahir dari perempuan di bawah 25 tahun di Inggris dan Wales turun dari 47% pada tahun 1971 menjadi 25% pada tahun 2008.
Laporan Social Trends ONS tahun 2010 menyatakan bahwa jumlah orang yang tinggal di rumah keluarga dengan anak-anak turun dari 52% pada tahun 1961 menjadi 36% pada tahun 2009, sementara jumlah rumah tangga satu orang naik dari 1,7 juta menjadi 7 juta pada periode yang sama.
Menurut statistik terbaru, perempuan berusia pertengahan 40-an di Inggris hampir dua kali lebih mungkin tidak memiliki anak seperti generasi orang tua mereka, dengan satu dari lima perempuan yang lahir pada tahun 1969 tidak memiliki anak hari ini.
Clare McNeil, penulis 'Generation Strain', (laporan terbaru dari Institute of Public Policy Research) memperingatkan bahwa, “Jumlah orang berusia 65-74 tanpa anak-anak untuk merawat mereka di usia tua akan hampir dua kali lipat sebelum akhir dekade berikutnya," dan bahwa "Pada tahun 2030, lebih dari satu juta orang di kelompok usia ini tidak akan memiliki anak, dibandingkan dengan 580.000 pada tahun 2012.” Census Bureau’s Population Survey AS yang dipublikasikan pada tahun 2015, menemukan bahwa hampir setengah (47,6%) perempuan di Amerika antara usia 15 dan 44 tidak pernah memiliki anak.
Ini merupakan persentase tertinggi perempuan tanpa anak sejak biro tersebut mulai melacak data pada tahun 1976. Dalam sebuah survei AS tentang laki-laki dan perempuan "bebas anak", berjudul “Dua sudah cukup: Panduan pasangan untuk hidup tanpa anak karena pilihan.” (Scott, 2009) dikutip oleh Psychology Today, 80% responden, terutama mereka yang berusia di bawah 40 tahun, menilai pernyataan - 'Saya menghargai kebebasan dan kemandirian' sebagai motif yang kuat (untuk bebas dari anak).
Individualisme juga telah menyebabkan orang tua mengabaikan anak-anak mereka saat mengejar kepentingan pribadi mereka sendiri, dan menyebabkan anak-anak mengabaikan orangtua mereka yang lanjut usia, memandang mereka sebagai beban bagi waktu dan keuangan pribadi mereka, sehingga menempatkan mereka di rumah-rumah agar dirawat oleh orang lain.
Dan kepedulian individualistis terhadap keluarga sendiri dan mengabaikan atau menelantarkan kerabat lain telah menyebabkan kurangnya sistem dukungan untuk keluarga besar yang menghadapi masalah fisik, keuangan, dan emosional, menyebabkan banyak orang menderita dalam kesepian sendirian.
===
Kesetaraan Gender
Di dalam masyarakat sekuler kapitalis, telah terjadi devaluasi peran keibuan dan kehidupan keluarga pada kehidupan ekonomi. Pada tingkat historis, perjuangan Barat untuk kesetaraan gender dan kebangkitan feminisme menempatkan kehidupan publik dan peran tradisional laki-laki sebagai pencari nafkah di atas kehidupan pribadi, peran keibuan, dan peran tradisional perempuan sebagai pengurus rumah tangga.
Banyak feminis berpendapat bahwa rasa hormat dan kebebasan perempuan tidak kompatibel dengan ketergantungan ekonomi pada suaminya atau tanggung jawab domestik yang penuh, dan oleh karena itu, bukan hanya masalah bahwa perempuan memiliki hak untuk bekerja tetapi mereka nyaris wajib untuk bekerja.
Christabel Pankhurst, tokoh feminis radikal yang terkenal dan anggota gerakan suffragette pada awal abad ke-20, mengatakan bahwa tanggung jawab kehidupan rumah tangga adalah beban yang tidak dapat ditoleransi pada perempuan yang sudah menikah, aktivitas yang membuang-buang waktu dan energi ekonomi, serta tidak dibayar dan tidak diakui.
Hari ini, salah satu konsekuensi dari pandangan tentang kehidupan rumah tangga dan konsep "Kesetaraan Gender" adalah penciptaan masyarakat di mana perempuan tidak hanya memiliki hak untuk bekerja tetapi diharapkan untuk bekerja, walaupun mereka adalah ibu tunggal dengan satu-satunya tanggung jawabnya dalam perawatan dan pengasuhan anak-anak mereka.
Konsep kesetaraan gender yang teorinya adalah untuk menghasilkan "have it all woman" (perempuan, miliki segalanya), pada kenyataannya menghasilkan "do it all woman" (perempuan, lakukan segalanya) - yang terus membebani tanggung jawab keibuan dan pekerjaan rumah tangga, tetapi sekarang juga berjuang dengan beban tambahan secara finansial untuk menafkahi keluarga.
Dengan kedua orang tua sebagai pencari nafkah dalam banyak keluarga, ada perjuangan yang terus-menerus untuk meluangkan waktu bagi anak-anak atau waktu untuk menguatkan pernikahan. Hal ini seringkali menyebabkan hubungan antara suami dan istri menjadi tegang. Oleh karena itu, Kesetaraan Gender, di mana orang melihat "apa yang terbaik bagi perempuan versus apa yang terbaik bagi laki-laki", bukannya "apa yang terbaik bagi sebuah keluarga atau masyarakat", mengabaikan apa yang terbaik untuk pernikahan yang kuat, untuk anak-anak, dan untuk masyarakat secara keseluruhan.
Lebih jauh lagi, kesetaraan gender, yang mengikis penghargaan terhadap perbedaan dan peran seks, juga berdampak pada pengakuan di tempat kerja dan masyarakat akan pentingnya peran keibuan, yang menyebabkan banyak pimpinan di tempat kerja gagal mengakomodasi kaum perempuan yang memiliki anak kecil secara memadai, seperti menyediakan fleksibilitas jam kerja atau kebutuhan lain yang diperlukan. Mereka mengesampingkan pentingnya tugas mereka untuk keluarga mereka.
===
Materialisme
Sistem kapitalis dan materialistik yang telah menempatkan pengejaran kekayaan sebagai tujuan ideologisnya yang tertinggi, telah menempatkan laba di atas manusia dan aspek keuangan di atas keluarga. Sistem ini telah konsisten untuk fokus pada mengamankan pundi-pundi pemerintah atau pendapatan bisnis daripada mengamankan institusi keluarga.
Dorongan yang terus-menerus untuk profitabilitas jangka pendek ini telah menurunkan nilai peran keibuan dan kehidupan keluarga, serta bahkan memaksa para ibu tunggal untuk bekerja, sehingga mereka hanya punya sedikit waktu untuk membesarkan anak-anak mereka secara efektif.
Memang, seringkali ada insentif keuangan bagi para ibu untuk kembali bekerja; dan sangat sedikit insentif bagi mereka jika tinggal di rumah untuk memastikan pengasuhan yang efektif bagi anak-anak mereka. Penilaian materialisme terhadap peran keibuan ini telah menyebabkan situasi dimana seorang perempuan hamil atau perempuan dengan anak-anak kecil sering dilihat sebagai beban bagi perusahaan, bukan sebagai aset bagi masyarakat.
Sebuah survei terhadap 500 manajer oleh firma hukum Inggris, Slater & Gordon, yang diterbitkan pada tahun 2014, menunjukkan bahwa lebih dari 40% mengakui bahwa mereka pada umumnya merasa khawatir untuk mempekerjakan seorang perempuan usia subur, dan persentase yang sama juga khawatir untuk mempekerjakan seorang perempuan yang telah memiliki anak atau menyewa seorang ibu untuk peran yang lebih tua.
Sepertiga dari jumlah manajer dalam penelitian ini menyatakan bahwa mereka lebih suka mempekerjakan seorang laki-laki berusia 20-an atau 30-an dibandingkan seorang perempuan pada usia yang sama karena takut mereka mengambil cuti hamil.
Sebuah survei tahun 2005 terhadap 98 perusahaan di Inggris oleh Recruitment and Employment Confederation menemukan bahwa ¾ bisnis lebih memilih melanggar hukum daripada mempekerjakan perempuan hamil atau perempuan usia subur.
Konsekuensinya, perempuan tidak hanya dipaksa bekerja, dan diharapkan menjadi pencari nafkah untuk keluarga mereka, tetapi mereka juga mengalami diskriminasi di tempat kerja karena memiliki rahim! Konsekuensinya, banyak perempuan lebih suka menunda untuk memiliki anak atau tetap tidak memiliki anak daripada menghadapi “penalti kesuburan” ini pada penghasilan atau karir mereka.
Tampaknya, bagi banyak perempuan di Barat, situasi "dirantai ke wastafel dapur" telah berganti dengan "dirantai ke pasar ekonomi". Inilah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya angka kelahiran dan 'krisis kesuburan' yang mempengaruhi banyak negara kapitalis Barat saat ini, yang memiliki berbagai efek merugikan pada masyarakat mereka, termasuk semakin sedikit orang yang merawat populasi yang menua.
Kita juga tidak boleh melupakan tantangan emosional yang dialami oleh kaum perempuan yang dipaksa untuk menjalani perawatan IVF agar dapat hamil, karena menurunnya kesuburan, keguguran, dan meningkatnya komplikasi terkait kehamilan akibat menunda-nunda peran keibuan.
===
Kesimpulan
Jelaslah bahwa nilai-nilai dan hukum-hukum sistem liberal sekuler kapitalis yang diterapkan di sebagian besar negara-negara Barat lah yang merupakan akar penyebab kekacauan dan kehancuran struktur keluarga di dalam masyarakat mereka. Memang, sistem ini secara inheren dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan dan kerusakan keluarga, yang mengakibatkan kesengsaraan manusia yang tak terbayangkan bagi begitu banyak individu dan anak-anak, serta masalah yang tak terhitung jumlahnya bagi negara.
Sayangnya, Umat Muslim yang tinggal di Barat atau di dunia Muslim belum terlindungi dari nilai-nilai sekuler atau materialistis ini karena mereka tengelam di dalam lingkungan dan hidup di bawah sistem yang mempromosikan dan merayakan cita-cita non-Islam ini. Konsekuensinya, konsep "pernikahan yang kuat" dan "unit keluarga yang kuat" yang selalu dipahami oleh umat Islam dari generasi ke generasi sebagai menjadi jantung atau komponen utama sebuah komunitas yang kuat, saat ini juga telah terkikis di dalam umat Islam.
Sebagai Muslim, sangat penting bagi kita mengambil pelajaran serius dari kehancuran struktur keluarga yang telah terjadi dalam masyarakat Barat. Sangat penting juga bagi kita untuk menolak keyakinan, nilai-nilai, dan sistem yang telah menyebabkan kekacauan sosial ini, sehingga komunitas kita tidak mengikuti jalan kehancuran yang sama.
Hal ini bersamaan dengan kita memahami secara jelas dan merangkul nilai-nilai, hukum sosial, dan sistem Islam yang efektif, yakni satu-satunya yang mampu untuk menyelesaikan banyak masalah yang mempengaruhi keharmonisan dan kesatuan hidup keluarga di dalam umat kita.
“Dalam beberapa dekade mendatang, kesuksesan akan tumbuh pada budaya-budaya yang melestarikan posisi keluarga.” Joel Kotkin - Penulis ‘Ke Mana Perginya Semua Bayi?’ dan Anggota dalam Studi Perkotaan di Universitas Chapman di Orange, California, AS.
=====
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:

——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar