Sabtu, 17 November 2018

Dari WoT ke WoR




Dari WoT ke WoR

oleh: H.M. Ismail Yusanto

Setelah era Perang Dingin berakhir, Barat melihat Dunia Islam paling potensial menjadi rival mereka ke depan. Dunia Islam memiliki segalanya untuk menandingi Barat. Dari segi populasi, jumlah Muslim sedunia sangat besar. Lebih dari 1,6 milar. Mereka tinggal di wilayah yang secara geopolitis sangat strategis. Sangat kaya secara ekonomi. Yang paling utama, Dunia Islam memiliki sistem nilai—Islam itu sendiri—yang sangat mungkin membuat umat Islam sedunia bangkit kembali. Apalagi secara historis Dunia Islam memang pernah menjadi adidaya berbilang abad lamanya.

Bila Barat tidak ingin tergusur dominasinya dari pentas dunia, calon lawan ini harus dipukul dulu sebelum benar-benar kelak menjadi menjadi kuat dan sulit dikalahkan. Caranya bagaimana?

Pertama: Dengan meluncurkan apa yang mereka sebut War on Terrorism (WoT). Teroris itu didefiniskan siapa saja yang dalam meraih tujuannya menggunakan kekerasan dan menimbulkan ketakutan yang meluas. Karena itu bila benar mereka ingin memerangi terorisme, mestinya semua orang, kelompok bahkan negara yang dalam meraih tujuan menggunakan kekerasan harus dianggap teroris. Nyatanya tidak. Ini tak lain adalah war on Islam. Dalam list FTO (Foregn Terrrorist Organization) yang dikeluarkan oleh DK PBB, lebih dari 95% adalah individu dan kelompok Muslim. Di antaranya ada Syekh Ahmad Yasin dan Hamas. Bagaimana mungkin Hamas yang sedang berjuang untuk merebut tanah Palestina disebut teroris. Sebaliknya, Israel yang menjajah dan membunuhi warga Palestina hampir tiap hari tidak disebut apa-apa? Imam Samudra disebut teroris dan sudah dihukum mati. Dia dituding meledakkan sekian ton bom di sepenggal jalan di Legian Bali yang mengakibatkan ratusan orang meninggal, ratusan lagi luka-luka dan ratusan bangunan hancur. Sebaliknya, Bush memerintahkan invasi AS ke Irak, menjatuhkan lebih dari 30 ribu ton bom. Akibatnya, bukan hanya sepenggal jalan di Baghdad, seluruh Baghdad bahkan seluruh Irak hancur dan lebih dari 1,4 juta warganya tewas. Anehnya, Bush, jangankan dihukum mati, disebut teroris pun tidak.

Setiap kali ada kejadian yang bersifat teror pasti segera dikaitkan dengan Islam. Bila ternyata tidak terkait dengan Islam seperti penembakan di sejumlah tempat di AS, juga di negeri ini, yang pelakunya ternyata bukan Muslim, maka tidak akan disebut teroris.

Lalu apakah benar ambruknya WTC, yang dijadikan sebagai dalih Pemerintah AS menyeru dunia melawan terorisme itu, terjadi karena serangan teroris? Banyak pihak, termasuk di dalam negeri AS sendiri, meragukan klaim itu. Mereka lebih percaya, pelaku sebenarnya tak lain adalah otoritas di dalam AS itu sendiri. Apa buktinya? Banyak.

Beberapa bulan setelah peristiwa besar itu terjadi, saya mendapatkan kiriman dari AS sekeping CD berjudul In Plane Site yang dibuat oleh Dave von Kleist. Dalam CD itu diungkap banyak sekali fakta yang menunjukkan klaim teroris yang telah menghancurkan WTC dan Gedung Pentagon tidaklah benar. Misalnya, dimensi kerusakan Gedung Pentagon jauh lebih kecil bila dibanding dimensi pesawat yang katanya menabrak. Tidak ada rekaman CCTV luncuran pesawat menabrak gedung. Di dalamnya juga tidak dijumpai bangkai kursi, bangkai bagasi atau bangkai manusia. Di WTC juga didapat kesaksian satpam setempat tentang adanya demolisi (peledakan) secara sengaja di setiap lantai. Yang paling besar di basement. Nah, demolisi secara sengaja inilah yang telah membuat Gedung WTC itu kemudian amblas ke bawah. Bukan seperti yang diklaim bahwa gedung itu ambruk karena ditabrak pesawat.

Kedua: Melakukan political decaying (pembusukan politik) dan khilafah monsterizing (monsterisasi khilafah) melalui pembentukan ISIS dengan khilafahnya. Sedemikian buruk citra Khilafah itu, lihatlah sekarang. Khilafah di mata sebagian publik menjadi sebuah terma yang sangat menakutkan. Ketakutan itu selalu dengan dasar apa yang terjadi di Suriah dan Irak dengan ISIS sebagai aktor utamanya. Bila orang takut Khilafah, bagaimana bisa diajak bersama-sama menegakkannya? Itulah yang saat ini terjadi. Dengan begitu, Barat berharap untuk beberapa saat kebangkitan Islam bisa ditunda, bila tidak bisa dicegah sama sekali.

Untuk menyukseskan kedua cara ini, mereka mengembangkan apa yang disebut War on Radicalism (WoR). Mereka tahu, gagasan kembalinya peradaban Islam yang dibentuk melalui penerapan syariah secara kâffah tidak akan pernah benar-benar bisa dihilangkan dari benak umat Islam, termasuk soal khilafah. Mereka tahu, itu semua adalah ajaran Islam. Khilafah bahkan telah menjadi bagian dari sejarah Dunia Islam yang tidak mungkin dihapus begitu saja. Melawan itu semua bagaikan menghalangi terangnya siang dan gelapnya malam. Tak mungkin. Namun, mereka juga tidak mungkin membiarkan. Tidak mungkin juga terang-terangan menyerang Islam. Karena itu Islam harus dibungkus dengan sebuah istilah yang lebih dulu dicitraburukkan. Itulah radikalisme.

Mereka katakan, radikalisme adalah akar dari terorisme. Semua pelaku teroris berpaham radikal. Radikalisme sama bahayanya dengan terorisme. Jadi, memerangi terorisme (war on terrrorism) harus disertai dengan memerangi radikalisme (war on radicalism). Soal apa definisi radikalisme, tak penting. Seperti juga terorisme, rasikalisme nyaris tanpa definisi. Penguasalah yang mendefinisikan, termasuk yang menentukan siapa yang radikal dan siapa yang bukan.

Perang melawan radikalisme kini menjadi senjata ampuh untuk menghalangi dakwah, khususnya dakwah politis-ideologis, menyingkirkan lawan politik dari mimbar-mimbar umat, termasuk sangat efektif menjadi alat untuk mempersekusi siapa saja yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh penguasa. Jadilah war on radicalism topeng atau mask. Topeng ini juga dipakai oleh kaum islamophobia yang sudah lama gerah melihat perkembangan dakwah Islam yang memang sangat marak sejak beberapa dekade terakhir. Seolah mendapat peluang, tak sungkan, ada seorang pejabat tinggi pengidap islamophobia terang-terangan mengatakan bahwa radikalisme di kampus sudah berkembang sejak tahun 80-an, dan kini sudah merambah ke sekolah-sekolah dari sekolah menengah hingga sekolah dasar.

++++

Melihat fenomena ini, teringat kita pada ayat 8 dari surah ash-Shaff. Di situ Allah SWT menyatakan (yang artinya): “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Hal kurang lebih sama sebenarnya pernah dilakukan pada masa Orde Baru. Mereka memerangi jilbab, menghalangi kegiatan training-training keIslaman seperti pesantren kilat, menangkapi sejumlah dai atau mubalig dengan aneka tuduhan. Hasilnya? Orde Baru tumbang. Dakwah jalan terus. Jilbab makin marak. Kesadaran Islam makin tumbuh dimana-mana. Semua yang serba Islam atau syariah seperti sekolah Islam, bank syariah, pakaian syar’i, makanan halal, seni Islami terus berkembang. Tak terbendung. Kini dengan pongahnya, kaum islamophobia hendak kembali membendungnya. Lihat saja, tak akan bisa. Seperti yang sudah-sudah, bendungan itu akan jebol. Cepat atau lambat. Insya Allah.[]

===
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar