Sabtu, 17 November 2018

Guru Honorer : Nasibmu Dulu, Kini dan Nanti


Guru Honorer : Nasibmu Dulu, Kini dan Nanti
Oleh. Helmiyatul Hidayati
(Seorang Blogger Profesional dan Anggota Revowriter Jember)


#InfoMuslimahJember – Guru adalah profesi yang sekalipun dibutuhkan akan (seringkali) cepat dilupakan begitu anak didiknya telah selesai menempuh jenjang pendidikan. Profesi ini sangat penting namun juga sangat memprihatinkan. Terutama nasib guru honorer di Indonesia. Dimana kelayakan upah bagi profesi ini tidak pernah mereka peroleh. Janji-janji diangkat menjadi PNS rasanya seperti mimpi di siang bolong. Padahal, kontribusi mereka pada negara tidak bisa dianggap kosong.

Guru Honorer adalah guru tidak tetap yang masih belum berstatus minimal sebagai calon pegawai negeri sipil dan digaji per jam pelajaran. Seringkali mereka digaji sukarela atau bahkan digaji di bawah standard minimum. Pada umumnya mereka menjadi guru honorer demi diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil melalui jalur honorer (wikipedia).

Meskipun begitu, bagaimanapun juga guru honorer tetaplah seorang guru, yang memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak didiknya. Tugas mereka tidak lantas menjadi lebih ringan hanya karena menjadi tenaga honorer. Mereka berkewajiban membimbing, menuntun dan mengajari setiap muridnya sesuai dengan etika keguruan dan keilmuan mereka.

Ratusan ribu guru honorer, tidak sedikit dari mereka yang menggantungkan harapan pada profesi tersebut  untuk bertahan hidup. Namun harapan itu seperti kertas yang terbakar api, hangus dan terempas angin. Harapan kehidupan yang lebih baik dengan diangkat menjadi PNS tak kunjung terealisasi, hingga kurang lebih 250.000 guru honorer berdemo ke Istana pada Selasa (30/10) kemarin.

Bagai jatuh tertimpa tangga, sudahlah berdemo tentunya memakan waktu, biaya dan tenaga. Ditemui oleh penguasa pun tidak. Bahkan media nasional tak ada minat untuk melirik, hingga tak satupun keluhan mereka tayang di layar kaca, menandakan minimnya kepedulian kepada nasib rakyat kecil.

Padahal tak dapat dipungkiri, kehidupan manusia awalnya bermula dari guru. Persiapan menghadapi dunia dilakukan oleh guru, entah itu guru dalam keluarga maupun guru di lembaga pendidikan.

Enam abad lalu, seorang anak manja karena tak pernah kekurangan berubah menjadi seorang penakluk Konstantinopel melalui gemblengan guru-guru yang cakap yaitu Syeikh Ahmad bin Ismail Al Qurani dan Syeikh Aaq Syamsudin. Dialah Muhammad Al Fatih.

Dari gurunya, Sultan Muhammad Al Fatih belajar bahwa sebagai pemimpin ia tidak boleh berbuat dzalim, karena kedzaliman membuat masyarakat tidak bisa tidur dan tidak pernah lupa pada kedzaliman tersebut.

Syeikh Aaq Syamsudin juga memiliki peran dalam kemenangan atas Konstantinopel yaitu sebagai pengingat atau penyemangat Sultan muda tersebut agar tidak menyerah ketika semangatnya mulai turun. Hingga akhirnya atas izin Allah, kemenangan itu pun terjadi, ia kemudian dicatat sejarah sebagai pembukti kebenaran bisyarah Rasulullah SAW.

Guru juga memiliki peran penting dalam hidup seorang Iwan Fals, musisi kondang Indonesia yang terkenal dengan lagunya “Oemar Bakri”, karena terinspirasi oleh gurunya inilah kemudian lagu ini hadir dan dinikmati oleh banyak orang.

Hellen Keller, penemu Braille menjadi anak yang depresi ketika ia diserang suatu penyakit yang menyebabkannya buta dan tuli pada usia 19 bulan. Sejak saat itu ia menjadi anak yang sulit berkomunikasi, mudah marah dan sulit diajar.

Tapi seorang guru yang didatangkan oleh orangtuanya kemudian membalik seluruh dunianya. Publik hingga kini banyak mengenangnya sebagai seorang penulis, aktivis politik, dosen dan tentu penemu huruf Braille.

Dalam suatu tulisannya, Hellen menulis, “Saya ingat hari yang terpenting di dalam seluruh hidup saya adalah saat guru saya, Anne Mansfield Sullivan, datang pada saya.”

Begitu pentingnya peranan guru di dalam hidup seorang muridnya, hingga perlu sekali profesi ini untuk diperhatikan. Terutama tentang kesejahteraan para guru (baik honorer ataupun bukan), yang seringkali dilihat sebelah mata terutama oleh negara.

Gaji guru honorer Indonesia lebih rendah bahkan dari gaji pekerja pada umumnya. Sehingga tidak sedikit guru honorer harus banting tulang di luar profesinya demi dapur agar tetap mengepul. Karena gaji mereka yang hanya 200-300rb jelas tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga, itupun penerimaan gaji bisa kerap kali molor dari tanggalnya.

Hal ini sangat jauh bila dibandingkan dengan gaji guru di Swiss, Belanda dan Jerman. Dimana ketiga negara tersebut menggaji gurunya hampir 1M per tahun atau sekitar 80jt per bulan. Indonesia menempati posisi ke-30 dalam pemberian gaji pada guru sebesar kurang lebih 35jt per tahun (liputan6.com).

Namun, lebih daripada itu Islam telah melampaui semua pemikiran mengenai profesi guru. Karena guru di dalam Islam adalah profesi yang mulia di sisi Sang Maha Pencipta, itu dikarenakan ia diberi karunia ilmu, yang dengan ilmunya itu manusia lain bisa memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.

Guru dalam sudut pandang Islam bahkan lebih dari sekedar agen penyalur ilmu pengetahuan, dia mendidik muridnya tidak hanya untuk cerdas secara akademik tapi juga cerdas spiritual dengan menanamkan kepribadian Islam.

Atas dasar peran penting guru itulah, Khalifah Umar Bin Khattab tercatat menggaji guru di Madinah dengan gaji 15 dinnar atau sekitar 31jt per bulan. Di samping itu guru tidak perlu memusingkan tentang sarana dan prasarana pendidikan dalam menunjang tugasnya sebagai seorang guru.

Gaji yang besar serta kemudahan dalam mengakses sarana dan prasarana adalah hal dasar yang dibutuhkan oleh guru dan berperan dalam meningkatkan kualitas mengajarnya. Sehingga ia akan dengan serius mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkan oleh negeri ini. Dari guru-guru seperti inilah kemudian akan lahir Muhammad Al Fatih selanjutnya.

Wallahu A’lam Bissawab.

Jember, 06 Nov 2018

0 komentar:

Posting Komentar