Sabtu, 17 November 2018

Jangan Suriahkan Indonesia?


[SUARA MUSLIMAH] 

/ Jangan Suriahkan Indonesia? /

Oleh: Asma Amnina

Menerapkan Syariat Allah itu akan men-‘Suriah’-kan Indonesia. Pernyataan seperti ini sering kita dengar dari beberapa pihak untuk menolak perjuangan menegakkan Khilafah dan menerapkan syariah Islam di Indonesia. Seolah-olah kekacauan, konflik dan berbagai pembantaian yang terjadi di Suriah saat ini karena Khilafah. Apa benar?

Saudaraku, jangan mudah tertipu dan terprovokasi dari framing negatif yang di hembuskan oleh pihak-pihak yang sejatinya tidak pernah rela syariat Allah di tegakkan, karena ini menyangkut tahta-harta yang selama ini mereka kuasai atas umat. Mereka terus membuat narasi busuk menolak Syariat Allah demi mempertahankan kekuasaannya.

Saudaraku, sesungguhnya apa yang terjadi di Suriah saat ini adalah pembantaian yang dilakukan oleh rezim Bassar Assad terhadap rakyatnya. Semua ini berawal dari aksi damai masyarakat Suriah bersamaan dengan Arab Spring di Timur Tengah saat itu yang menginginkan Bassar Assad mengundurkan diri. Bashar dianggap mewarisi kediktatoran Bapaknya, Hafidz Assad, yang pernah melakukan pembantaian di Hama yang dikenal dengan “Majzarah al-Hama” pada 1982.

Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris yang menyaksikan kondisi Hama beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, menyebut sekitar 10 ribu korban. Koran The Independent melaporkan bahwa korban mencapai 20 ribu jiwa. Thomas Friedman menyebut Rafaat al-Assad pernah menyatakan bahwa dia telah membunuh 38 ribu jiwa manusia di Hama.

Namun, tuntutan damai rakyat ini justru dijawab dengan sikap represif yang kejam. Terjadi penembakan, penangkapan dan penyiksaan sampai pembunuhan terhadap rakyatnya sendiri. Tindakan kejam rezim Bashar Assad ini semakin menjadi-jadi karena mendapat dukungan dari negara-negara Barat.

Hal ini karena rakyat Suriah bukan hanya ingin perubahan rezim Bashar, tetapi juga menginginkan Suriah menjadi negara Khilafah yang menerapkan syariah Islam. Barat sangat ketakutan terhadap keinginan rakyat Suriah ini. Apalagi mereka menolak solusi Amerika yang ingin tetap mempertahankan Suriah yang sekular sehingga bisa tetap dikontrol Amerika.

Kebijakan Barat terhadap Suriah adalah tetap mempertahankan Bashar sampai ada penggantinya. Untuk itu, negara-negara Barat melakukan berbagai strategi. Untuk menjaga Bashar dari kejatuhan, Barat membiarkan masuknya milisi Iran dan partai pendukungnya dari Lebanon untuk memerangi rakyat Suriah. Barat pun menggerakan para penguasa regional seperti Saudi, Turki dan negara-negara Teluk untuk menjalankan road map Barat untuk Suriah. Namun, semuanya berakhir dengan kegagalan.

Terakhir, melalui Rusia mereka melakukan pengeboman keji terutama di kantong-kantong perlawanan. Tujuannya memaksa rakyat Suriah tunduk pada kepentingan Barat. ISIS dijadikan alat untuk melegalkan pembantaian mereka terhadap umat Islam Suriah. 

Jadi yang menjadi korban utama dari krisis Suriah ini adalah rakyat Suriah sendiri yang meninginkan perubahan, menginginkan Khilafah dan syariah Islam. Pelaku utamanya adalah rezim Bashar Assad. Namun, semua ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Karena itu sungguh sangat naif menyalahkan rakyat Suriah yang menginginkan Khilafah sebagai penyebab kekacauan di Suriah. Seharusnya yang mereka salahkan adalah Amerika Serikat, negara teroris yang membuat makar di negeri-negeri Islam. Seharusnya mereka mengecam Bashar Assad yang membunuh rakyatnya sendiri. 

Hal ini sama saja seperti kita menyalahkan berbagai konflik, pembunuhan dan pembantaian kepada para pejuang Indonesia yang menginginkan kemerdekaan dengan mengusir penjajah dari Bumi Indonesia. Padahal yang menjadi korban adalah rakyat Indonesia. Namun, mereka yang menginginkan kemerdekaan ini malah dituding menjadi penyebab konflik, kerusahan dan pembunuhan. 

Ini merupakan cara berpikir penjajah yang ingin mempertahankan kejahatannya dengan menyalahkan korban (blaming the victim)
Jadi semakin jelas pernyataan “Jangan menjadikan Indonesia seperti Suriah” adalah upaya untuk mengkriminalkan perjuangan penegakan Khilafah dan membangun citra negatif terhadap Khilafah. 

Padahal banyak dalil dan pendapat ulama salaf yang menyatakan Khilafah adalah bagian dari syariah Islam. Karena itu mengkriminalkan Khilafah sama saja dengan mengkriminalkan syariah Islam. Bagaimana mungkin kaum Muslim yang sungguh-sungguh memperjuangkan Khilafah untuk menerapkan syariah Islam justru dikriminalkan?

===

—————————————

Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar