Sabtu, 17 November 2018

Kekhilafahan Islam Merawat Keberagaman



/ Kekhilafahan Islam Merawat Keberagaman /

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.

"Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukannya. Dan adalah Allah maha kuasa atas segala sesuatu." (TQS. Al-Fath:21)

Begitulah takdir Allah subhanahu wa ta'ala bagi umat nabi Muhammad ﷺ Kelak, seluruh negeri di muka bumi akan berada dalam kekuasaannya. Bukan semata karena kekuatan atau kecendikiawanan yang dimiliki, namun yang utama adalah ketakwaan pada Illahi Rabbi. Taat dalam seluruh syariat yang telah didaulat. Kaffah tanpa pilah-pilah.

Lantas apakah yang Allah subhanahu wa ta'ala janjikan tersebut berarti anti keberagaman? Barangkali yang beranggapan demikian tengah amnesia atau belum mendengar cerita tentang Islam yang pernah memimpin dunia. Ya, tidak kurang dari 1300 tahun Islam membawa rahmat bagi seluruh alam dengan Khilafahnya. Berbagai suku, bangsa, bahasa dan juga agama hidup damai sejahtera dalam naungannya. Keberagaman sangat terjaga.

Piagam madinah adalah salah satu bukti sejarah. Dunia merekam jejaknya. Piagam ini hadir di tengah ke-heterogen-an masyarakat madinah yang kala itu dikepalai langsung oleh Rasulullah ﷺ. sebagai pemimpin negara.

Berdasarkan hasil penelitian pula, piagam ini merupakan piagam politik yang pertama kali muncul dan memenuhi syarat-syarat kenegaraan pada abad ke 7. Juga merupakan hasil persetujuan masyarakat Madinah yang terdiri atas berbagai suku, golongan dan agama, (Ahmad, Zainal Abidin. Piagam Madinah. Hal. xii).

Keberagaman yang ada di madinah mampu dijaga tanpa harus menabrak batas-batas keyakinan. Kaum muslim beribadah dengan landasan aqidah Islam. Tunduk pada syariat yang telah diwahyukan dalam segala kegiatan.

Adapun kalangan kafir pada masa itu, mereka pun tetap dapat beribadah sesuai dengan apa yang mereka yakini. Mereka hidup dengan tenang tanpa merasakan ancaman. Pemberlakukan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kala itu, terbukti mampu merekatkan yang retak, menyatukan yang berserak.

Suasana indah ini terus berlangsung. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ. telah wafat sekalipun. Eksistensi Islam sebagai sebuah ideologi, mendorong siapa saja yang menjadi pengembannya untuk memancarkan cahaya keagungan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Terlebih lagi, Islam kala itu dijaga oleh benteng kekuasaan. Terbukti, estafet kepemimpinan Rasulullah ﷺ sebagai kepala negara, dilanjutkan oleh seorang khalifah yang mulia Abu Bakar As Shidiq. Masa kekhilafahan ini terus berlanjut hingga keruntuhannya di tahun 1924 M.

Maka sepanjang peradaban Khilafah Islam itulah, para sahabat sepeninggal Nabi ﷺ . dan para ksatria Islam terus berlomba-lomba untuk memperluas wilayah kekuasaan. Bukan karena berhasrat pada pembunuhan atau harta rampasan perang semisal penjajahan. Melainkan semata dorongan Aqidah Islam. Dakwah untuk meninggikan kalimat tauhid hingga rahmat Islam dapat dirasakan oleh seluruh alam. Alhasil, 2/3 belahan dunia pernah merasakan teduhnya payung kedamaian kekhilafahan Islam.

Kebijakan adil Amirul Mukminin Umar Bin Khathab kepada seorang yahudi yang merasa didzalimi oleh seorang gubernur, juga keputusan hakim tentang peristiwa baju besi Ali ra., adalah realitas tak terbantah bahwa kekuasaan dalam bingkai kekhilafahan bukanlah ancaman. Begitupun kelembutan hati sang penakluk Konstantinopel kepada para rakyat dan gerejawan yang menggigil ketakutan di dalam Hagia Sophia. Sesaat setelah benteng legendaris berhasil ditumbangkan.

Sebagai panglima perang yang memenangkan pertempuran, Muhammad Alfatih tidak lantas bersikap arogan. Bukan pedang yang ia hunuskan, namun senyuman yang ia berikan. Karena seorang ksatria Islam sangat memahami, kepada siapa pedang itu harus diarahkan. Seluruh rakyat dan gerejawan Konstantinopel bebas. Hidup seperti biasa tanpa ancaman apalagi pembunuhan seperti yang dibayangkan.

Setali tiga uang dengan penaklukan di negeri-negeri yang lain, Cordoba misalnya. Islam membawa cahaya kebangkitan dan peradaban yang gemilang. Kemajuan ilmu pengetahuan, kesejahteraan, keamanan, dan kedamaian adalah berkah yang didapat oleh setiap negeri yang dibebaskan. Sama sekali tanpa membinasakan keberagaman.

Literatur sejarah, ilmiah bahkan syariah telah menunjukkan keagungan tersebut. Ini semua nyata adanya, bukan data yang direka-reka.

Sebelum dunia berkoar-koar tentang kebhinekaan di zaman ini, 14 abad yang lalu Islam sudah lebih dulu mempraktikan bagaimana cara merawat keberagaman. Insyaallah, masa itupun akan kembali sekali lagi sebagai penutup peradaban. Selaras dengan apa yang telah Allah subhanahu wa ta'ala janjikan melalui QS. Al-Fath:21.

Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan nasib keberagaman masa kini tatkala khilafah kembali nanti. Karena sejatinya, justru hanya dengan khilafah-lah keberagaman tersebut akan terjaga tanpa ada propaganda dan diskriminasi. Wallaahu a’lam. 

===
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:






——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar