Sabtu, 17 November 2018

Persaudaraan yang Kokoh atas Dasar Kalimat Tauhid


[KAJIAN ISLAM]

/ Persaudaraan yang Kokoh atas Dasar Kalimat Tauhid /

Umat Islam adalah umat yang satu. Mereka memeluk agama yang sama, yakni Islam. Tuhannya sama. Rasulnya sama. Kitabnya sama. Kiblatnya juga sama. Mereka semua meyakini dan mengikrarkan kalimat tauhid.

Allah subhanahu wa ta'ala juga menyebut mereka sebagai ikhwah (saudara). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ 

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menetapkan persaudaraan kaum mukmin. Siapa pun mereka, jika terkatagori mukmin, yang berarti meyakini aqidah Islam, mereka adalah bersaudara. Sebab, yang menjadi dasar ukhuwah (persaudaraan) itu adalah kesamaan aqidah mereka. Sebagaimana juga ditegaskan Rasulullah ﷺ:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ 

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya (didzalimi) (Muttafaq ‘alaih)

===

Jika dicermati, ikatan persaudaraan kaum mukmin yang dikehendaki ayat ini harus benar-benar kuat dan kokoh. Bahkan harus lebih kuat dan kokoh daripada persaudaraan nasab. Hal itu tampak setidaknya pada dua hal. 

Pertama, digunakannya kata ikhwah dalam ayat itu. Kata ikhwah merupakan bentuk jamak dari kata akh (saudara). Patut dicatat, selain ikhwah, bentuk jamak kata akh adalah ikhwan. Meskipun kedua kata itu (ikhwah dan ikhwan) dalam pemakaiannya bisa saling menggantikan, namun pada umumnya kata ikhwah digunakan untuk menunjuk saudara nasab, sementara ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat. Dengan ungkapan itu seolah ingin dinyatakan bahwa ikatan umat Islam lebih dari sekadar persahabatan biasa. 

Kedua, ayat ini diawali dengan kata innamâ. Meskipun secara bahasa kata innamâ. tidak selalu memberikan makna hasyr (pembatasan), namun menurut beberapa mufassir, kata tersebut dalam ayat ini memberikan makna hasyr. 

Itu berarti, tidak ada persaudaraan kecuali antara sesama mukmin dan tidak ada persaudaraan antara mukmin dengan kafir. Ini juga memberikan isyarat bahwa persudaraan Islam lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Sebab, persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya persaudaraan agama tidak terputus karena perbedaan nasab. Demikian dikatakan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya. 

Bahkan, menurut Muhammad Ali al-Shabuni, persudaraan nasab dianggap tidak ada jika kosong dari persaudaraan Islam.

Jika ditilik pada hukum syara’, banyak ketentuan hukum yang juga menunjukkan prinsip ini. Dalam perkara harta waris, misalnya, perbedaan aqidah mengakibatkan hilangnya hak waris seseorang. Jika seorang muslim meninggal dan ia memiliki saudara yang kafir, harta yang ditinggalkannya itu tidak boleh diwarisi saudaranya yang kafir itu. Namun harta itu menjadi milik kaum muslim. Demikian pula sebaliknya. Apabila saudaranya yang kafir itu meninggal, hartanya pun tidak boleh diwarisi oleh saudaranya yang muslim. Demikian penjelasan Fakhruddin al-Razi.

Pun demikian dengan kekuasaan. Umat Islam tidak diperbolehkan mengangkat orang-orang kafir sebagai wali (pemimpin), kendati mereka adalah bapak dan saudara mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ 

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan (al-Taubah [9]: 23). 

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ 

Maka damaikanlah antara kedua saudaramu

Sebagai konsekuensi persaudaraan, kondisi normal mereka diliputi dengan kecintaan, perdamaian, dan persatuan. Apabila suatu saat terjadi persengketaan dan peperangan di antara mereka, itu merupakan penyimpangan, dan oleh karenanya harus dilakukan upaya untuk mengembalikannya kepada kondisi normal. 

Dalam ayat ini, kaum muslim diperintahkan untuk segera melakukan ishlah terhadap pihak-pihak yang bersengketa.
Ajakan ishlah berarti mengajak keduanya untuk menyelesaikan persengketaan mereka dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. 

Sedangkan kata akhawaykum (dua orang saudaramu) menunjukkan jumlah paling sedikit terjadinya persengketaan. Apabila dua orang saja yang bersengketa sudah wajib didamaikan, tentu jika lebih banyak dari itu lebih wajib lagi. 

Digunakannya kata akhawaykum memberikan makna bahwa persengketaan atau pertikaian yang terjadi di antara mereka tidak mengeluarkan mereka dari himpunan umat Islam. Mereka tetap disebut saudara. Ayat sebelumnya pun menyebut dua kelompok yang saling berperang sebagai mukmin. Sedangkan di-mudhâf-kannya kata akhaway dengan kum (kalian, pihak yang diperintah) bisa menambah tegasnya kewajiban ishlah itu sekaligus menunjukkan takhshîsh atasnya. Demikian penjelasan Syihabuddin al-Alusi. 

Artinya, segala persengketaan yang melibatkan sesama mukmin adalah persoalan internal umat Islam yang harus mereka selesaikan sendiri.

Perintah dalam frasa ini dapat dipandang sebagai penyempurna penjelasan ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya dikatakan, “wa in thâifatayni min al-mu’minîna [i]qtatalû fa ashlihû baynahumâ (dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya). 

Kata thâifatayni (dua golongan) dapat membuka celah kesalahan persepsi, seolah ishlah hanya diperintahkan bila peperangan melibatkan antara dua kelompok. Adapun jika terjadi antara dua orang yang tidak menimbulkan kerusakan secara umum, tidak harus dilakukan ishlah. Itu pun bila sudah sampai pada taraf peperangan ([i]qtatalû. Sedangkan jika belum sampai perang, seperti saling mencaci dan memaki, tidak wajib dilakukan ishlah. 

Maka dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala “bayna akhawaykum” itu, semua celah yang dapat mengakibatkan kesalahan persepi itu tertutup. Dengan ungkapan tersebut, ishlah harus segera dilaksanakan kendati persengketaannya hanya melibatkan dua orang muslim dan masih dalam taraf yang paling ringan. Demikian dikatakan Fakhruddin al-Razi. 

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat di samping melakukan ishlah, mereka juga diperintah untuk bertakwa kepada-Nya. Perintah ini amat penting, karena panduan dalam melakukan ishlah dan semua perkara adalah takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 

Artinya, dalam melakukan ishlah itu, kaum mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan, tidak berbuat dzalim dan condong kepada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang disejajarkan oleh Islam. 

Apabila mereka mau mentaati semua ketentuan Allah subhanahu wa ta'ala, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mereka bisa berharap memperoleh rahmat-Nya. Wal-Lah a’lam bi al-shawab.

===

===
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————





0 komentar:

Posting Komentar