Senin, 24 Desember 2018

212 dan Ketakutan Kaum Penjajah



212 dan Ketakutan Kaum Penjajah
Oleh. Helmiyatul Hidayati
(Seorang Blogger Profesional dan Redaktur Buletin Online)


#InfoMuslimahJember – Desember kini menjadi bulan yang penuh makna bagi kaum muslimin. Karena peristiwa 2 (dua) tahun lalu –Aksi Bela Islam 212-- mengubah laju angin tidak seperti biasanya. Momen persatuan ummat telah kembali, bak singa yang tertidur pulas, ia pun kini mulai menggeliat. 

Berkumpulnya 13juta orang lebih menunjukkan bahwa ini bukan peristiwa main-main. Apalagi bila dipikirkan bahwa mereka (peserta aksi 212) berasal dari berbagai kalangan, harakah, organisasi, jabatan, usia bahkan negara. Belum lagi bila dipikirkan monas bukanlah tempat sakral, dan tidak disebutkan dalam dalil apapun. Awalnya, hampir mustahil 13juta orang berkumpul bersama demi tujuan yang sama di tempat yang sama pula.

Reaksi terhadap aksi ini pun bermacam-macam. Banyak yang bersuka cita meskipun tak sedikit pula tak suka. Agaknya penggelapan sejarah seperti yang dikatakan Rocky Gerung dalam sebuah acara televisi tidak jauh dari kebenaran. Kecuali TVOne, media jurnalistik lain pun seolah menutup mata dan telinga terhadap kejadian tak biasa ini. Aksi Bela Tauhid pada tanggal 02 Desember lalu seakan tidak ingin digaungkan lebih lama dan lebih jauh, bahkan kalau bisa sesegera mungkin meredam.

Terlepas dari apapun alasan banyak media tidak memberitakannya, tidak menutup kemungkinan ada yang ketakutan dengan aksi ini. Ruh aksi ini tak ubahnya wabah yang mulai menyebar di pemikiran setiap muslim, yaitu tentang kembalinya persatuan ummat atau yang sering disebut sebagai ukhuwah.

Banyak yang tidak menyadari, bahkan para muslim pun belum tentu memahami tentang apa, bagaimana dan kenapa ukhuwah ini menjadi penting. Padahal bila kita mau melihat sejarah, ukhuwah menjadi salah satu alasan utama bangsa Indonesia bisa merdeka. Selain kekuatan iman dan aqidah, serta kekuatan kepemimpinan dan senjata. Ukhuwah dan ikatan hati merupakan hal ketiga yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah SAW (hidayatullah.com).

Politik yang terkenal pada masa penjajahan Belanda pun adalah politik De Vide et Impera alias politik adu domba atau politik pecah belah. Politik ini adalah kombinasi strategi politik, militer dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan (wikipedia).

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan tanah Nusantara, paling tidak ada banyak catatan sejarah yang telah mencatat bagaimana politik pecah belah tersebut diberlakukan oleh Belanda dan menyebabkan kekalahan para Mujahid.

Salah satunya yang terjadi pada Muhammad Sahab atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Bonjol (1772-1864). Perang Paderi yang memasangkan kaum paderi (agama) melawan kaum adat Minangkabau adalah hasil adu domba penjajah kafir Belanda. Pada saat itu Belanda mendukung kaum adat, sehingga praktis wilayah kekuasaan Imam Bonjol pun dikuasai. Imam Bonjol ditangkap melalui siasat licik yang mengatasnamakan perundingan yang membuatnya diasingkan ke Cianjur, Ambon dan Manado. (Astutiningsih, 2011: 14-15)

Pangeran Diponegoro, seorang Mujahid yang terkenal dan dikenang hingga saat ini, serta pernah menuliskan surat yang menggetarkan jiwa kepada masyarakat Kedu yang berbunyi, “Jikalau sudah sampai surat undangan kami ini, segera sediakan senjata, rebutlah negeri dan ‘bentuklah agama Rasul’. Kalau saja ada yang berani tidak percaya dengan bunyi surat saya ini, maka akan saya penggal lehernya.” Pangeran Diponegoro diadu dengan anaknya sendiri (pangeran Dipokusumo) yang membuatnya terpaksa mau berunding dengan De Kock. Pada saat itulah dia dikhianati dan dibuang ke Manado. 

F. De Haan pernah menyinggung di dalam bukunya Priangan: De Preanger-Regentschappen onder Het Nederlandsch Bestuur tot 1811 Jilid II (1912): “Pemerintah (Belanda) tampaknya baru mau memikirkan Islam bila ada alasan untuk mencemaskan pengacauan ketertiban melalui peristiwa-peristiwa keagamaan yang mencolok” (tirto.co.id).

Hal ini dimaksudkan kepada orang-orang pribumi yang berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Belanda, pada saat itu takut bila mereka kembali dan menghasut rakyat dengan pemikiran-pemikiran keagamaan yang akan membuat mereka ‘memberontak dan melawan’. Bahkan tidak jarang banyak sekali pahlawan nasional yang kemudian digelari dengan sebutan ngawur semisal ‘teroris’.

Tak ayal, haji merupakan sebuah peristiwa keagamaan (ibadah) yang bisa menjadi momentum persatuan ummat (merekatnya ukhuwah Islamiyah). Pada saat haji segala perbedaan tidak menjadi alasan untuk berjuang ‘sendiri-sendiri’, muslim dari beragam suku bangsa, budaya, bahasa, kulit, dan negara yang berbeda berbaur di dalam satu lautan. Mereka menghadapi aral dan rintangan bersama-sama, dan melakukan banyak ibadah bersama-sama pula, di dalam ketaatan kepada Allah.

Prinsip persatuan dan kebersamaan ini kemudian membuat takut para penjajah sehingga mereka memberikan gelar “haji” kepada siapa saja yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji dalam rangka mempermudah pengawasan. Bila ada ‘pemberontak’ yang timbul di suatu wilayah, maka Belanda tinggal meng-eksekusi haji yang ada di wilayah tersebut.

Pada masa sekarang, persatuan ummat ini pun tetap ditakuti, karena sejatinya penjajahan belum berakhir, meskipun tak lagi dibawah todongan senjata oleh Belanda atau Jepang. Negeri ini sebenarnya masih terjajah oleh imperialis kapitalis yang tampak maya meskipun sebenarnya nyata. Kapitalisme asing adalah penjajah yang kurang lebih sama kejamnya atau bahkan lebih dibanding penjajah kolonialis. Bila dahulu kala kolonial menjarah kekayaan alam Nusantara yang ada di atas tanah (teh, lada, kopi, rempah dll), masa kini kapitalisme juga menjajah kekayaan alam hingga ke bawah tanah (emas, timah, tambang, dll). Belum lagi penjajahan di bidang sosial dan agama.

Namun, seperti zaman dahulu kala, Islam selalu mampu menjawab dan menjadi titik kebangkitan ummat. Kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman kafir kolonialis lahir dari semangat jihad dengan dorongan keimanan semata. Pun pula di masa sekarang, kemerdekaan dari cengkeraman kapitalisme akan kembali terjadi karena bangkitnya ummat, karena terjalinnya ukhuwah Islamiyah yang tanda-tandanya insyaAllah dimulai dari aksi 212. 

Secara tidak langsung, 212 memberi sumbangsih besar dalam membangun opini skala dunia, bahwa umat Islam selalu siap bersatu demi membela dan berjuang untuk Islam. Persatuan di bawah bendera Islam inilah yang akan menjadi aset kebangkitan umat, kemudian membebaskan dunia dari penjajahan kapitalisme dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Allahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar