Senin, 24 Desember 2018

Lagi! Kasus Pembuangan Bayi Semakin Tak Terkendali



Lagi! Kasus Pembuangan Bayi Semakin Tak Terkendali

Oleh: Puput Hariyasi, S.Si

Hari ini tak sedikit para ibu yang kehilangan hati nurani. Tega membuang bayinya sendiri. Disaat keluarga lain terus menanti untuk memiliki sang bayi. Kasus pembuangan bayi semakin tak terkendali. Terhitung sepanjang tahun 2017 sebanyak 178 bayi dibuang. Dengan urutan prestasi teratas disabet oleh Jakarta, disusul peringkat kedua Jawa Timur dan Jawa Barat menempati peringkat ketiga (Tribunwow.Com).

Bagaimana dengan Jember? Jember sebagai bagian dari kota di Jatim tak perlu diragukan lagi. Dalam empat tahun terakhir selalu menjadi penyumbang setia dalam setiap tahunnya. Terbaru, kasus pembuangan bayi terjadi di bawah Jembatan Semanggi. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini pertama kali ditemukan oleh ibu-ibu yang akan cuci-cuci. Siapa pelakunya, masih menjadi misteri. Menurut Kapolsek Sumbersari Kompol Nurhadi diduga merupakan hasil hubungan gelap (Detiknews.Com).

Masih di bulan yang sama September 2018, pekan sebelumnya masyarakat Jember tepatnya di desa Balung Kulon juga dikejutkan oleh pengakuan seorang remaja SMA yang mengaku menemukan bayi di sebuah rumah kosong. Setelah ditelisik ternyata adalah anaknya sendiri dari hasil zina yang baru saja dilahirkan oleh pacarnya. 

Kemudian masih di tahun yang sama 2018, ditemukan bayi yang terbungkus kresek di pinggiran sungai di Dusun Krajan, Desa Kasiyan, Kecamatan puger. Mundur setahun kebelakang di tahun 2017, sungai kecil di depan kampus Institut Agama Islam Negeri Kabupaten Jember menjadi saksi bisu ditemukannya bayi yang dibungkus tas plastik ditemukan oleh seorang pencari rongsokan bernama Asnawi (55). Kembali atret di tahun 2015, cukup viral pembuangan bayi dilakukan oleh anak SMP yang baru saja melahirkan bayinya. Ini hanyalah sekelumit fakta yang muncul dipermukaan, sementara yang tak ter-ekspos bisa jadi jauh lebih besar. 

Meroketnya jumlah pembuangan bayi tentu menjadi keprihatinan tersendiri. Terutama di kota Jember yang dikenal sebagai kota santri. Selain kota santri, Jember merupakan kota pendidikan. Sebutan sebagai kota pelajarpun tak berlebihan mengingat lembaga pendidikan perguruan tinggi di sini layak diperhitungkan. Baik lembaga pendidikan swasta, negeri maupun yang berbasis Islam. Semuanya ada di sini. Sehingga tak semestinya menjadi contoh tindakan-tindakan amoral yang memalukan. 

Berulangnya kasus pembuangan bayi ini juga sangat layak untuk dicermati. Dengan harapan kejadian serupa tidak terulang kembali. Apalagi terlanjur sering pelakunya adalah para generasi muda baik masih berstatus pelajar maupun mahasiswi. Beberapa kejadian juga menunjukkan bahwa motifnya selalu didominasi oleh kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). 

Faktor penyebab KTD hingga berujung pada pembuangan bayi juga bisa disebabkan oleh beberapa hal. Baik karena faktor kemiskinan bagi keluarga yang tak mampu dan kawatir tak sanggup untuk membiayai anak-anak mereka. Ataupun hasil hubungan gelap karena aktivitas perzinahan yang merajalela. Lebih-lebih seks bebas yang dilakukan para generasi muda, dan fakta menunjukkan point inilah yang lebih mendominasi.

Menunjukkan kondisi generasi ada pada garis merah. Salah siapa dan siapa yang harus bertanggungjawab dalam hal ini. Cara pandang komprehensif perlu untuk dihadirkan agar tidak menghakimi salah satu pihak. Pertama adalah si pelaku karena dia telah menabrak norma agama, pondasi keimanannya lemah. Yang kedua adalah lemahnya penjagaan keluarga. Tercetaknya generasi yang lemah iman dipicu oleh lemahnya peran keluarga dalam menancapkan ketakwaannya. Banyak keluarga yang abai terhadap pendidikan agama putra-putrinya. 

Banyak dari mereka yang broken home. Atau kalaupun tidak broken home keluarga yang terhimpit kemiskinan sehingga mengharuskan orang tua full time di luar rumah menambah penghasilan keluarga, sehingga berefek pada lemahnya penjagaan terhadap putra-putrinya. Jikalau pun orang tua mereka mampu dari sisi ekonomi, juga tidak menjadi jaminan anak-anaknya aman jika mereka tidak memiliki ilmu dalam mendidik anak. Bahkan banyak juga orang tua yang berasumsi membahagiakan anak dengan memberinya limpahan materi saja.

Selain keluarga juga pergaulan yang semakin bebas, dirangsang oleh tayangan media yang diluar batas kewajaran. Mudahnya akses pornografi dan pornoaksi. Sinema ber-aroma percintaan selalu menebarkan virus “liberalisme” yang bernafaskan kebebasan begitu cepat mereka adobsi dari berbagai tayangan yang menggiurkan. Mengagungkan kesenangan yang bersifat sesaat tanpa memikirkan bahaya yang ditimbulkan.

Lembaga pendidikan juga patut untuk instropeksi diri, melakukan evaluasi ditengah program yang massif digalakkan misalnya Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang disinergiskan dengan Program Pendidikan Karakter (PPK). Ada apa dengan kurikulum pendidikan kita, mengapa belum mampu menghentikan tindak kriminalitas bahkan semakin meroket.

Diperparah lemahnya sanksi hukum yang diberlakukan. Satu contoh, pada kasus anak SMA berinisia AL (17) dari Balung Kulon yang mengaku menemukan bayi padahal itu adalah bayinya sendiri dari hasil zina. Dia tidak dihukumi sebagai seorang pezina karena terkategori anak dibawah umur karena masih 17 tahun. Dan memang seperti itulah kriteria anak yang tertuang dalam konvensi hak anak (KHA). Sehingga tidak diberlakukan penahanan badan. Tentu lemahnya sanksi ini tidak menjadikan generasi muda ini jera. 

Tentu kita tidak ingin kondisi seperti ini terus berlarut-larut. Bukti cinta kita terhadap negeri ini termasuk juga Jember adalah dengan memberikan curahan perhatian dan penawaran solusi yang akan mampu mensolusi secara hakiki. Apalagi penduduk Indonesia mayoritas muslim dan Jember sendiri dikenal dengan kota seribu pesantren tentu layak menjadikan Islam sebagai rujukan.

Penerapan Islam kaffah adalah pilihan terbaik. Sumber hukumnya tak perlu diragukan lagi karena berasal dari Dzat yang Maha Sempurna. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Anbiya 107 yang patut untuk kita renungkan;

“Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”. 
Islam akan menjaga generasi dengan pengamanan serba berlapis mulai dari keluarga Islami yang akan menanamkan pondasi keimanan yang kokoh, masyarakat menjadi kontrol sosial. Negara menghapus segala konten pornoaksi dan pornografi. Menjadikan media sebagai wasilah untuk menebarkan cahaya dan keagungan Islam. Menerapkan sanksi tegas bagi pelaku zina. Dalam Islam seseorang yang sudah baligh layak untuk mendapatkan hukuman atas kemaksiatan yang dia lakukan, patokannya bukan lagi umur. Sehingga mampu memberikan efek jera selain juga hukuman Islam mampu menebus dosa.

Menerapkan kurikulum pendidikan yang berbasis akidah Islam. Menerapkan regulasi sistem pergaulan Islam, memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan, meminimalisir ikhtilat campur baur, melarang khalwat (berdua-dua an dengan non mahram), mewajibkan menutup aurat secara sempurna, menundukkan pandangan, dll. Demikianlah Islam menjaga generasi, dan mempersiapkan mereka menjadi calon pemimpin di masa depan. 

0 komentar:

Posting Komentar