Minggu, 16 Desember 2018

Menjadi Anshar yang Menolong Agama Allah



[CERMIN HATI] 

/ Menjadi Anshar yang Menolong Agama Allah /

Oleh: Ust. Rokhmat S. Labib

Menjadi penolong agama Alllah Swt merupakan sesuatu yang diperintahkan dalam Islam. Di antara dalil yang menunjukkannya adalah firman Allah Swt:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah"

Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada orang-orang Mukmin. Seruan ini melengkapi seruan sebelumnya yang menawarkan iman dan jihad sebagai al-tijârah (perniagaan) dengan keuntungan berupa terselamatkan dari azab yang pedih dan berbagai ganjaran lainnya yang menggiurkan. Dalam ayat ini, mereka diserukan untuk menjadi anshârul-Lâh.

Kata al-anshâr merupakan bentuk jamak dari kata al-nâshir (penolong). Ketika di-mudhaf-kan kepada lafzh al-Jalâlah, yakni Allah, tentu tidak bermakna hakiki. Sebab, Dia tidak membutuhkan pertolongan siapapun. Sebaliknya, Dialah yang Maha Penolong terhadap hamba yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, sebagaimana dijelaskan Fakhruddin al-Razi dan para mufassir lainnya, pengertian menjadi anshârul-Lâh adalah dengan menolong agama-Nya, juga, menolong para nabi dan kekasih-Nya. Demikian al-Jazairi dalam tafsirnya, Aysar al-Tafâsîr.

Mengomentari ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah Swt ini merupakan perintah terhadap hamba-Nya yang Mukmin untuk menjadi anshârul-Lâh dalam semua keadaan, baik dengan ucapan, perbuatan, jiwa, dan harta mereka. Juga untuk memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana kesediaan al-Hawariyyin yang memenuhi panggilan Isa.”

Penolong agama ALlah Swt seperti apa? Ayat ini kemudian memberikan gambaran tentang anshârul-Lâh yang diperintahkan dengan firman-Nya:

كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ

"Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia."

Artinya, kaum Mukmin diperintahkan untuk menjadi anshârul-Lâh (para penolong agama Allah) seperti halnya yang pernah dilakukan oleh para pengikut Nabi Isa as, yakni al-hawâriyyûn. Kata al-hawâriyyûn berasal dari kata al-hûr yang berarti al-bayâdh (warna putih).

Secara bahasa, al-hawâriyy berarti al-nâshih (pemberi nasihat), al-nâshir (pembantu, penolong), dan al-hamîm (sahabat karib). Nabi saw bersabda: 

إِنَّ لِكُلِّ نَبِىٍّ حَوَارِيًّا ، وَحَوَارِىَّ الزُّبَيْرُ

"Sesungguhnya setiap Nabi memiliki al-hawariyy, dan hawariyy-ku adalah al-Zubair." (HR al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, Ahmad dan al-Tirmidzi dari Ali).

Dalam Alquran, sebutan al-hawâriyyîn dilekatkan kepada para sahabat Nabi Isa as (lihat QS Ali Imran [3]: 52, al-Maidah [5]: 111, 112. Menurut para mufassir, mereka adalah orang-orang yang pertama kali beriman kepada Nabi Isa. Jumlah mereka ada dua belas orang. Ketika itu, Nabi Isa as bertanya kepada mereka: 

مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ 

"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku [untuk menegakkan agama] Allah?"

Pertanyaan bermakna: “Siapakah yang menjadi pembatuku dalam dakwah kepada Allah Azza wa Jalla?” Demikian penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Mendapat pertanyaan tersebut, mereka pun menjawab sebagaimana disebutkan dalam frasa selanjutnya: 

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ 

Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kami lah penolong-penolong agama Allah"

Jawaban mereka sangat tegas. Mereka menyatakan kesediannya menjadi penolong-penolong agama Allah Swt. Menurut Ibnu Katsir, jawaban mereka itu berarti, “Kamu menjadi penolong dan pembantumu atas perkara yang kamu diutusnya.” Dan oleh karena itu, Nabi Isa kemudian mengutus mereka sebagai pendakwah kepada manusia di negeri-negeri Syam, Bani Israil, dan Yunani.

Dari ayat ini dan penjelasan tersebut dapat dipahami, menjadi penolong yang agama yang dimaksudkan adalah mendakwahkan agama-Nya kepada seluruh manusia.

Di samping itu, juga memperjuangkannya dengan jihad fi sabilllah. Ini sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Qurthubi yang berkata: 

أكد أمر الجهاد، أي كونوا حوارى نبيكم ليظهركم الله على من خالفكم كما أظهر حواري عيسى على من خالفهم

"Dia menegaskan perintah berjihad. Artinya, jadilah kalian sebagai para pengikut nabimu, agar Allah Swt memenangkan kalian atas orang-orang yang menentang kalian sebagaimana para pengikut Isa atas orang yang menentang mereka."

Sebagaimana diketahui, dalam ayat sebelumnya ALlah Swt memerintahkan kaum Mukmin untuk berjihad di jalan-Nya dengan balasan pahala yang amat besar. ALlah Swt berfirman: 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (TQS al-Shaff [61]: 10-11).

Bertolak dengan penjelasan tersebut, maka menjadi penolong agama Allah Swt adalah mendakwahkan agamanya secara kaffah kepada seluruh manusia dan memperjuangkannya dengan jihad di jalan-Nya.

Semoga kita dimudahkan untuk menjadi ansharullah, para penolong agama ALlah Swt. WaL-lah a'lam bi al-shawab. []

===

Sumber: 

—————————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar