Selasa, 29 Januari 2019

Abu Bakar Ba’asyir Batal Dibebaskan, Bukti Rezim Suka PHP


Abu Bakar Ba’asyir Batal Dibebaskan, Bukti Rezim Suka PHP

Oleh. Ulfiatul Khomariah
(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)


Membingungkan! Seminggu yang lalu rakyat Indonesia dihebohkan oleh rencana Jokowi yang akan membebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir secara bebas murni dengan pertimbangan kemanusiaan. Wacana ini pun menjadi santapan hangat bagi kubu Jokowi untuk menaikkan citra positif capres nomer satu ini. Suara-suara sumbang juga mulai memenuhi telinga rakyat seperti “Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir adalah bukti Presiden cinta ulama”. 

Sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu Jubir (Juru Bicara) Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadily, ia menilai bahwa pembebasan narapidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir merupakan salah satu bukti Presiden Jokowi adalah sosok presiden yang mencintai ulama. “Tentu pemberian pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini sebagai bukti bahwa Presiden Jokowi merupakan figur yang memang pada dasarnya mencintai ulama, “Kata Ace, Jumat, 18/01/2019. (mediaindonesia.com).

Tak lama setelah kabar pembebasan itu tersiar, bermuncullah ketegangan dari berbagai pihak. Jika diperhatikan lebih teliti, ternyata rata-rata kubu Jokowi tidak setuju dengan pembebasan ABB ini. Hal itu terbukti dua hari setelah Jokowi setuju membebaskan ABB, pecahlah perselisihan dalam kabinet. Menko Polhukam Wiranto mengeluarkan pernyataan bahwa pembebasan itu masih memerlukan pertimbangan aspek-aspek lain terlebih dahulu. Sampai-sampai Wiranto menegaskan bahwa Presiden tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Panas! Keputusan Wiranto seketika menjadi petir yang mematahkan kredibilitas Jokowi. Kini Jokowi tak mampu berbuat apa-apa selain mengikuti saran Menko Polhukam tersebut. ABB yang seharusnya bebas murni kini harus berganti menjadi bebas bersyarat. Gara-gara persyaratan inilah, pembebasan ABB yang seharusnya bisa dilakukan pada 23 Desember 2018 gagal. Padahal sejak tahun 2017, keluarga ABB sudah mengajukan permohonan pembebasan karena telah memenuhi syarat menjalani 2/3 hukuman 15 tahun. Namun karena ABB tidak mau memenuhi persyaratan tersebut akhirnya beliau batal dibebaskan. 

Kini hal yang demikian terulang kembali. Bahkan lebih parahnya, pengumuman pembebasan itu sudah tersiar ke seantero jagad. Tak sedikit rakyat yang bahagia mendengarnya. Namun seketika rakyat kembali dibuat kecewa, terutama sang keluarga ABB tentu juga merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. ABB batal dibebaskan! Alasan kemanusian sudah tak berharga lagi jika dibandingkan dengan kepentingan rezim. Ini menjadi bukti bahwa rezim saat ini memang suka PHP sesuai dengan kepentingannya yang ingin dicapai. Mari kita buktikan!

Pertama, sangat aneh sekali jika Presiden tiba-tiba ingin membebaskan ABB tanpa memusyawarahkan dengan kabinet yang lainnya. Tentu ada sesuatu dibalik ini semua. Terlebih selama ini Presiden Jokowi mengalami krisis kepercayaan dari ummat dan terkenal dengan kediktatorannya terhadap ajaran Islam dan kriminalisasi terhadap ulama. Tak heran jika akhirnya kabar dibebaskannya ABB ini menjadi angin segar bagi kubu Jokowi untuk menaikkan citra Jokowi sebagai Presiden yang cinta ulama.

Sedihnya, tawaran pembebasan ternyata tidak mampu mengalahkan ideologi yang diemban oleh ABB. Dia tetap kokoh dengan pendiriannya, dan bahkan dia sudah menerawang bahwa ada agenda politik dibalik ini semua. Alhasil ABB meminta jikalau ingin dibebaskan, lebih baik nanti saja ketika pemilu sudah selesai. Ditambah lagi ABB tidak mau jika harus dibebaskan dengan bebas bersyarat. Melihat respon ABB yang demikian, tentu kubu Jokowi mengalami ketegangan tingkat tinggi. Harapan membebaskan ABB agar dicitrakan sebagai Presiden cinta ulama ternyata gagal. Alasan kemanusiaan juga sudah lewat dan hilang saat kepentingannya tak tercapai. 

Kedua, Ideologi Islam yang diemban oleh ABB menjadi ketakutan bagi ideologi kapitalis Barat. Kabar dibebaskannya ABB tentu akan menjadi polemik besar bagi Barat dan pasti mereka tidak akan tinggal diam apalagi membebaskan ABB begitu saja. Sebagaimana yang disampaikan oleh Fahri Hamzah, “Dugaan saya dunia Internasional tidak menerima baik, sebab sudah kadung citranya ABB ini di luar dicitrakan sebagai gembong paling dalam dari Jamaah Islamiyah,” kata Fahri di Kompleks, Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 23/01/2019.

Sebagaimana yang kita ketahui, selama ini ABB tidak pernah masuk penjara dengan tuduhan pelaku pengeboman, melainkan karena dakwahnya yang menginginkan tegaknya syariat Islam. Hal ini menjadi ketakutan bagi Barat apabila Islam kembali bangkit memimpin dunia. Sedangkan Indonesia sebagai negara berkembang dengan ideologi kapitalisnya akan terus disetir oleh negara adidaya yang sangat kental permusuhannya dengan Islam (AS). Terbukti dari bagaimana digencarkannya isu radikalisme di Indonesia dan ditawarkannya solusi Islam moderat ala Barat.

Tak cukup disitu, yang menjadi korban kejahatan rezim bukan hanya ABB saja. Namun siapapun yang mendakwahkan Islam dengan benar dan menyerukan tegaknya syariat Islam secara kaffah, maka akan segera dituding radikalisme, intoleran, teroris dan seabrek propaganda yang lainnya. Maka jangan heran jika dalam sistem saat ini seorang pemimpin sangat mudah mengumbar janji dan mudah pula mengingkari sesuai dengan kepentingan ideologinya. Harus menjadi catatan besar bagi kita semua, Barat tidak akan pernah membiarkan Islam tegak di muka bumi ini. Maka sangat mustahil menginginkan keadilan di Indonesia selama masih mengekor dan disetir oleh Barat.

ABB merupakan salah satu korban PHP dari banyaknya janji yang diingkari. Silahkan pembaca cari sendiri apa saja janji yang belum ditepati. Jika sudah seperti ini, masihkah kita akan memilih pemimpin ingkar janji? Masihkah kita berharap kepada rezim yang tak berkeperimanusiaan ini? Wallahu a’lam bish-shawwab...

0 komentar:

Posting Komentar