Sabtu, 12 Januari 2019

Alquran Petunjuk bagi Manusia


/ Alquran Petunjuk bagi Manusia /

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib 

#InfoMuslimahJember -- Alquran adalah petunjuk dari Allah subhanahu wa ta'ala kepada seluruh manusia. Menunjukkan jalan yang benar dan batil, perkara yang halal dan yang haram, yang diridai dan dimurkai-Nya, dan yang mengantarkan ke surga atau ke neraka.

Layaknya petunjuk, maka Alquran harus dibaca dan dipahami. Sebab, bagaimana bisa mengamalkan isinya jika tidak membaca dan mengerti isinya? Meskipun tetap harus dicatat membaca Alquran adalah ibadah, meskipun pembacanya tidak mengerti isinya.

Sebagai petunjuk, Alquran juga wajib diamalkan dan diikuti segala ketentuannya. Banyak ayat memerintahkannya, seperti firman-Nya:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ 

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya." (QS al-A'raf [7] 3).

Justru poin inilah yang sangat penting dan menentukan, apakah seseorang mau menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidupnya.

Sebagai contoh, ada orang yang membaca ayat-ayat Alquran yang mengharamkan riba berulang-ulang, namun ia mengabaikan larangan tersebut. Riba terus dilakukan dan dilegalkan. Apakah orang yang seperti ini masih bisa dikategorikan menjadikan Alquran sebagai petunjuk?

Demikian juga ayat-ayat Alquran tentang haramnya orang kafir sebagai wali (pemimpin, pelindung, sekutu) bagi kaum Muslimin. Ayat-ayat ini dibaca, namun diabaikan. Tetap saja memilih dan mendukung orang kafir sebagai pemimpinnya. Malah menuduh orang yang mengatakan haramnya pemimpin kafir sebagai radikal dan intoleran. Apakah orang yang seperti ini masih bisa dikategorikan menjadikan Alquran sebagai petunjuk?

Alquran juga dengan tegas memerintahkan para penguasa menerapkan syariah secara kaffah, sekaligus melarang mereka menerapkan hukum selain-Nya. Namun kenyataannya, hukum dalam Alquran ditinggalkan. Sebaliknya justru menerapkan hukum warisan penjajah atau buatan manusia. Apakah orang yang seperti ini masih bisa dikategorikan menjadikan Alquran sebagai petunjuk?

Sebaliknya, justru orang-orang seperti inilah yang dikatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu:

رب تال للقرآن والقرآن يلعنه

"Tidak sedikit orang yang membaca Alquran sedangkan Alquran melaknatnya." (Imam al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, I/274).

Sebagai contoh, dalam Alquran disebutkan:

لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

"Maka akan kami jadikan laknat Allah bagi orang-orang yang dusta." (QS Ali Imran [3]: 616)

Dia ikut dilaknat karena ternyata termasuk sebagai pendusta.

Juga ketika disebutkan:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا 

"Ingatlah, bahwa laknat Allah bagi orang-orang yang zalim.(yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok." (QS Hud [11]: 18).

Dia pun ikut dilaknat karena memiliki sifat tersebut. Menghalangi tegaknya Islam dan mengkriminalisasi ajaran Islam, seperti Khilafah dan jihad. Dia pun termasuk orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala, yang disebutkan dalam QS al-Maidah [4]: 45 sebagai sebagai orang-orang zalim.

===

Kadar keislaman pemimpin sangat penting. Kemampuan membaca Alquran adalah salah satunya. Namun itu tidak boleh menjadi ukuran utama. Apalagi satu-satunya. Bagi pemimpin, kewajiban paling besar baginya adalah menerapkan seluruh isi Alquran. Sebab, banyak ayat Alquran yang hanya bisa dijalankan oleh pemimpin. 

Ayat-ayat tentang hudud dan jinayat jelas membutuhkan penguasa untuk menjalankannya. Demikian juga tentang kewajiban jihad dan berbagai hukum yang terkait dengannya. Pula, hukum tentang kewajiban menerapkan syariah dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain

Komitmen itulah yang harus ada pada pemimpin. Komitmen untuk menerapkan syariah secara kaffah dan sempurna dalam kehidupan. Jika itu tidak ada, maka sama halnya dengan menelantarkan Alquran yang menjadi pedoman kehidupan.

Jika pemimpin hanya diuji soal kemampuan membaca Alquran, maka tak ubahnya seperti rakyat jelata. Lebih parah lagi jika kemampuan membaca Alquran hanya dijadikan sebagai bahan kampanye untuk menarik pemilih. Padahal, dalam tindakan dan kebijakannya sebagai pemimpin Alquran diabaikan dan ditelantarkan. Bukankah itu adalah musibah? WaL-lah a'lam bi al-shawab,

===
—————————————
===

Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*

——————————

Follow kami di:





——————————

Grup WhatsApp: 08978632838

——————————

0 komentar:

Posting Komentar