Selasa, 29 Januari 2019

Antara Mahram dan Batasan Saffar Perempuan



[KAJIAN FIQH]

Apakah boleh wanita melakukan safar sehari semalam atau lebih tanpa mahram?Apakah mungkin mengestimasi safar sehari semalam dengan jarak, jadi kita katakan misalnya, bahwa yang menjadi standar adalah perjalanan sehari semalam menggunakan onta dan bukan perjalanan berjalan kaki atau menggunakan pesawat. Lalu kita estimasi perjalanan itu sejauh 50 kilometer, misalnya. Dan berikutnya kita jadikan batasannya berupa jarak tersebut dan bukan waktu untuk wajibnya disertai mahram? Apakah ini boleh?
_____________________________________

/ Antara Mahram dan Batasan Safar Perempuan /

#MuslimahNewsID -- Pembatasan dengan waktu dalam riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban dinyatakan dengan “tsalâtsa ayyâm aw tsalâtsa layâlin –tiga hari atau tiga malam-, yawmayn –dua hari-, yawmun wa laylatun –sehari semalam-, laylatun –semalam-“, dengan menghimpun (mengkompromikan) dalil-dalil maka hukum syara’nya bahwa seorang wanita hendaknya tidak melakukan safar dengan perjalanan yang minimal, kecuali bersama mahram, yakni janganlah seorang wanita melakukan safar dengan perjalanan semalam. 

Sebab tidak adanya perjalanan semalam merealisasi tidak adanya perjalanan dua hari, tiga hari. Dan di dalam bahasa arab, al-laylah digunakan untuk menyebut sehari penuh yakni sehari semalam. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam surat Maryam:

﴿قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيّاً﴾

“Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (TQS Maryam [19]: 10).

Dan di dalam surat Ali Imran:

﴿قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزاً﴾

“Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat” (TQS Ali Imran [3]: 41).

Jelas dari dua ayat tersebut bahwa kata layâlin adalah ayyâmin. Dan orang Arab berkata, “aku menulisnya sekian malam berlalu dari bulan anu” yakni sekian hari berlalu. Dan ini berarti bahwa orang Arab menggunakan kata laylah untuk menyebut sehari penuh.

Dengan begitu, maka haram bagi seorang wanita melakukan safar sehari semalam kecuali bersama mahram. Dan ini apa yang kami ambil di an-Nizhâm al-Ijtimâ’iy.

===

Dalil-dalil yang Dinyatakan Tentang Jarak

Ada riwayat Abu Dawud yang membatasi safar menurut jarak dengan kadar satu barîd, dan satu barîd adalah empat farsakh, yakni sekira 22 km. Riwayat tersebut tidak membatasi safar dengan waktu “sehari semalam”. 

Riwayat ini marjuh (dilemahkan) karena sebab-sebab berikut:

(1) Riwayat tersebut membatasi safar dengan jarak. Dan ini berarti bahwa waktu tidak ada nilainya. Jadi wanita itu memerlukan mahram jika dia bepergian 22 km baik dia tempuh dalam sehari atau dua hari. Adapun hadis-hadis lainnya membatasi safar dengan waktu yakni sehari semalam, baik dalam sehari semalam itu dia menempuh seratus atau ratusan kilometer. 

Artinya, pemberlakukan hadis jarak menghapus waktu, sedangkan pemberlakukan hadis waktu menghapus jarak. Jadi keduanya kontradiksi. Dan ketika terjadi kontradiksi maka harus dilakukan tarjih. Dan jelas bahwa hadis-hadis al-Bukhari, Muslim dan hadis-hadis shahih lainnya, semuanya lebih rajih dari riwayat Abu Dawud yang hanya satu, yang menyatakan barîd. Ini dari satu sisi.

===

(2) Dari sisi lain, riwayat Abu Dawud itu mudhtharib. Riwayat tersebut sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa dari Jarir dari Suhail dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«لاَ يَحِلُّ لِاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ بَرِيْداً إِلاَّ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ»

“Tidak halal bagi seorang wanita yang mengimani Allah dan Hari Akhir melakukan safar satu barîd kecuali disertai oleh mahramnya”.

Abu Dawud sendiri menukil dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari Abu Hurairah empat hadis yang di dalamnya mengatakan sehari semalam. Demikian juga Abu Dawud menukil dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari bapaknya dari Abu Hurairah, dua hadis di mana yang pertama mengatakan laylah (semalam) dan yang kedua “yawman wa laylatan (sehari semalam)“.

===

Hadis Abu Dawud yang kami sebutkan sebelumnya: Abu Dawud telah mengeluarkan: telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id ats-Tsaqafi, telah menceritakan kepada kami al-Layts bin Sa’ad dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari bapaknya bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ، إِلَّا وَمَعَهَا رَجُلٌ ذُو حُرْمَةٍ مِنْهَا»

“Tidak halal bagi seorang wanita muslimah melakukan safar sejauh perjalanan semalam, kecuali bersamanya seorang laki-laki mahramnya”.

===

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dan an-Nufailiy dari Malik, dan telah menceritakan kepada kami Bisyrun bin Umar, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Sa’id bin Abiy Sa’id. Al-Hasan berkata: dalam hadisnya dari bapaknya, kemudian mereka sepakat dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ، تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ يَوْماً وَلَيْلَةً»

“Tidak halal bagi seorang wanita yang mengimani Allah dan Hari Akhir melakukan safar sehari semalam”.

Lalu dia menyebutkan maknanya. Abu Dawud berkata: “dia tidak menyebutkan al-Qa’nabiy dan an-Nufailiy dari bapaknya. Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dan Utsman bin Umar dari Malik seperti yang dikatakan oleh al-Qa’nabiy.

===

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa dari Jarir dari Suhail dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: lalu dia menyebutkan semisalnya, namun dia berkata “barîdan –satu barid-“.

Jadi semua riwayat Abu Dawud dari jalur Sa’id bin Abiy Sa’id, “kadang kala dari bapaknya dan yang lainnya langsung” dari Abu Hurairah, menyebutkan pembatasan dengan waktu “yawman wa laylatan –sehari semalam-“. Perlu diketahui bahwa Ahmad telah meriwayatkan hadis dari jalur yang sama dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari bapaknya dari Abu Hurairah, dan ia menyebutkan “yawmun tâmm –sehari penuh-“. Satu riwayat Abu Dawud dari jalur yang sama dari Sa’id bin Abiy Sa’id dari Abu Hurairah mengatakan “barîd –satu barid-“.

Semua riwayat ini merajihkan bahwa Abu Hurairah menceritakan kepada Sa’id bin Abiy Sa’id (atau bapaknya), Abu Hurairah menceritakan kepadanya “yawman wa laylatan (sehari semalam), dan tidak menyebutkan barîd (satu barid).

Dengan begitu, yang rajih adalah apa yang kami sebutkan di an-Nizhâm al-Ijtimâ’iy “yamwan wa laylatan –sehari semalam-“, yakni:

«لاَ يَحِلُّ لِاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ باللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ»

“Tidak halal bagi seorang wanita yang mengimani Allah dan Hari Akhri melakukan safar dengan perjajalan sehari semalam kecuali bersama mahramnya”.

===

Ini dari sisi apa yang kami katakan seraya harus memperhatikan perkara-perkara berikut:

Yang pertama, kami katakan, yang rajih dan tidak kami katakan, pandangan kami yang dipastikan. Ini pertama.

Yang kedua, kami katakan, boleh wanita melakukan safar kurang dari sehari semalam tanpa mahram, dan kami tidak mengatakan wajib. Oleh karena itu, jika seorang wanita ingin tidak melakukan safar dengan perjalanan setengah hari kecuali bersama mahram maka itu haknya. Yang penting adalah janganlah wanita itu melakukan safar dengan perjalanan sehari semalam kecuali disertai mahramnya.

Yang ketiga, bahwa pensyaratan oleh hadis agar disertai mahram untuk wanita selama safarnya menunjukkan atas keharusan terjaganya wanita dan terpeliharanya dia, dan dia harus aman. 

Oleh karena itu, tidak boleh bagi wanita melakukan safar jika dia tidak aman atas dirinya kecuali dengan disertai mahram, maka janganlah dia melakukan safar sampai meskipun waktunya hanya satu jam di siang hari. Jadi keamanan atas dirinya merupakan syarat yang lain.

Yang keempat, bahwa tidak boleh bagi wanita itu melakukan safar kecuali jika diizinkan oleh suami atau walinya berapapun jangka waktunya hingga meskipun dia ditemani oleh mahram, hal itu karena dalil-dalil syar’iy tentang yang demikian.

Wallahu a'lam

===
Dikutip dari: Hukum-Hukum Rinci Tentang Safar Perempuan; Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim ‘Atha` bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir Atas Pertanyaan di Laman Facebook Beliau “Fiqhiyun”

0 komentar:

Posting Komentar