Sabtu, 12 Januari 2019

Bagaimana Imam Bukhori Menulis Kitab Shohih Al-Bukhori?


[KAJIAN SIROH]

Bagaimana Imam Bukhori Menulis Kitab Shohih Al-Bukhori?

Oleh : Wardah Abeedah

Siapa tak kenal Imam Bukhori? Ulama yang memiliki nama asli Muhammad bin Ismail ini terkenal dengan karya fenomenalnya, "Kitab Jami' al Shahih Al-Bukhori". 

Sebuah masterpiece yang berisi kumpulan lengkap hadits mulai dari bab iman hingga bab yang berkaitan dengan fiqh. Kitab ini menjadi rujukan kitab-kitab hadits berikutnya, pun menjadi rujukan para mujtahid dalam berijtihad. 

Wajar jika karya besar Imam Bukhari menjadi sumber rujukan. Hadits apapun yang beliau riwayatkan, beliau takhrij-kan, adalah "jaminan shahih".

Kedalaman ilmu ulama hadits ini bukan didapatkan dengan instan. Beliau telah berguru kepada 1.000 ulama dari berbagai penjuru kekhilafahan. Beliau juga telah mengelilingi dunia demi meneliti sanad dan mendengar sendiri hadits dari para perawinya. 

Ada kisah menarik yang patut kita ketahui terkait bagaimana beliau menuliskan Kitab Shahihnya. Beliau menghafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits dhaif. 

Setiap beliau akan menuliskan satu hadits dalam kitab tersebut, beliau akan meneliti kekuatan sanad atau jalur periwayatannya, lalu keshohihan matan atau isi haditsnya. Setelah beliau yakin bahwa tingkat keshahihan hadits tersebut paling tinggi atau kuat, beliau akan mandi bersuci, shalat dua rakaat, lalu menuliskan satu hadits. Terkadang beliau terjaga 15 kali dalam semalam selama beliau menulis Kitab Shahih Bukhari. Beliau terjaga, kemudian menulis hadits. Ya, ilmu tidak bisa didapat dengan banyak tidur. Ulama kita terdahulu telah meneladankan hal itu. 

Mengecek keshahihan hadits, lalu bersuci dan shalat dua rakaat, hal itu mungkin tidak terlalu berat jika hadits yang ditulis hanya berjumlah puluhan. Namun ada 7.000 lebih hadits dengan pengulangan dalam masternya kitab hadits ini. Maksud pengulangan disini, terkadang beliau memotong hadits dan meletakkan di dua bab berbeda. Jika tanpa pengulangan, tercatat ada sekitar 4.000 lebih hadits di dalamnya. Artinya, jumlah rakaat shalat yang beliau lakukan selama menulis Kitab Shohih Bukhari lebih dari 8000 rokaat.

 Inilah wujud kesungguhan Sang Imam dalam menjaga As-Sunnah. Keikhlasan atau amal yang dilakukan karena Allah begitu kuat. Ketawaddhuan dan kehati-hatian beliau dalam menyampaikan hadits dikarenakan kedalaman pengetahuan beliau akan posisi mulia As-Sunnah dalam Islam.

 Setiap huruf yang beliau ukir dalam kitabnya adalah sabda Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam yang berasal dari wahyu Allah. Beliau tahu betapa kelak kitab yang ditulisnya akan menjaga agama mulia ini. Beliau ingin Allah menuntunnya dan menjaganya dari kesalahan di setiap huruf yang ditulisnya.

 Sosok ulama besar ini sangat layak diteladani oleh setiap penuntut ilmu. Keikhlasan, kesungguhan, kewara'an dan muroqobahnya dengan melibatkan Allah adalah sifat-sifat yang harus melekat pada diri setiap thalibul ilmi (pencari ilmu)

Sosok ulama yang terkumpul ketiga sifat tadi, bahkan sifat-sifat mulia lainnya sangat mudah ditemudi di masa Khilafah Islamiyah tegak dahulu. Penerapan syariah Islam secara sempurna oleh negara mampu mencetak secara massal para ulama' yang lurus, serta para ilmuwan yang membawa peradaban Islam di masa itu menjadi gemilang. Predikat umat terbaik nyata terwujud selama berabad lamanya. Allahu a'lam bis showab

—————————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838

——————————
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar