Sabtu, 12 Januari 2019

‘Banjir’ Narkoba Ditengah Kabar Gembira



[SUARA Muslimah]

‘Banjir’ Narkoba Ditengah Kabar Gembira

Oleh : Rahmawati Ayu K., S.Pd (Praktisi Pendidikan, tinggal di Jember)

Prestasi demi prestasi diraih kota Jember. Penghargaan Kabupaten Ramah Anak, Kabupaten Terbaik Sektor Pelayanan Publik dan Ramah Investasi, dan beberapa prestasi membanggakan lainnya. Penghargaan tersebut tentu akan memacu semangat rakyat Jember, agar berusaha lebih baik lagi. Namun betapa mirisnya. Di saat Jember mendapat kabar gembira dengan meraih prestasi skala nasional, kota ini juga dikategorikan darurat narkoba bahkan hingga kalangan pelajar. Bahkan awal Desember lalu, Satreskoba (Satuan Reserse narkoba) Polres Jember kembali mengamankan pengedar sabu, yang salah satunya perempuan (www.radarjember.id).

Seperti yang disampaikan Bupati Faida ketika membuka seminar pencegahan narkoba akhir November lalu, “Seperti yang dicanangkan Presiden Jokowi, fokus bangsa kita adalah menangani darurat narkoba karena setiap harinya ada puluhan orang mati karena narkoba. Di Jember sendiri, narkoba juga sudah masuk ke lingkungan pelajar,”. 

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam seminar yang digelar di Aula PB Sudirman tersebut, sepanjang tahun 2017 tercatat sebanyak 22 pelajar putra dan 8 pelajar putri yang tersangkut kasus narkoba. Sedangkan di Jawa Timur, diperkirakan terdapat sekitar 800 ribu pengguna aktif narkoba dari total 39 juta penduduknya. “Bisa jadi ini fenomena gunung es, yang tidak terungkap lebih banyak,” tutur bupati yang berlatar belakang pendidikan dokter itu. 

Karena efek destruktifnya yang dipandang luar biasa, Pemkab Jember menurut Faida lebih menekankan aspek edukasi pencegahan dalam kebijakan penanggulangan bahaya narkoba di tingkat pelajar. Sekalipun demikian, bagi mereka yang berkeinginan untuk lepas dari ketergantungan akan narkoba, beberapa layanan kesehatan seperti RSD Soebandi sudah menyediakan layanan rehabilitasi narkoba. 

“Tapi sebesar apa pun biaya pengobatan, akan lebih efektif jika konsentrasi ke aspek pencegahan. Pencegahan perlu lebih serius karena membutuhkan regulasi, manajemen, dan edukasi,” papar Faida. 

Hukum Bisa Dibeli

Secara nasional, penyelundupan narkoba yang berhasil masuk ke Indonesia diperkirakan jumlahnya jauh lebih besar dibanding keberhasilan aparat membongkar kasus-kasus seperti ini, kata seorang mantan pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN). Menurut mantan Direktur Penindakan BNN Benny Mamoto, dari survey BNN, keberhasilan aparat penegak hukum mengungkap penyelundupan narkoba ‘baru sekitar 10%’. (www.bbc.com
Kenyataan ini, sambungnya menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan wilayah sasaran penyelundupan jaringan narkoba internasional, karena permintaan konsumsi narkoba masih tetap tinggi. Dan ketika permintaan tetap tinggi, maka para sindikat internasional akan terus “menggelontorkan dengan 1001 macam cara, 1001 macam jalur, 1001 macam modus, agar narkoba sampai ke pasar Indonesia”.
Di sisi lain pemerintah Indonesia, melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani, tidak memungkiri bahwa Indonesia saat ini mendapatkan ‘banjir narkoba yang tiap hari terus meningkat’. 

Kenyataan Indonesia merupakan ‘surga bagi peredaran narkoba’, menurut Benny antara lain karena Indonesia dianggap para pengedar adalah pasar yang bagus dan hukum bisa dibeli. Ini sesuai hasil wawancaranya dengan pengedar asal Iran.
Untuk itulah, Benny meminta pemerintah melakukan evaluasi secara komprehensif untuk menjawab kenapa narkoba masih terus diselundupkan ke wilayah Indonesia.

Bagaimana Jalan Keluarnya?
Saat peringatan Hari Antinarkoba Internasional, 26 Juni 2016, Presiden Joko Widodo sudah meminta jajaran penegak hukum di Indonesia bertindak tegas dengan menembak pengedar narkoba. Sejumlah kalangan kemudian membandingkan kebijakan Presiden ini dengan kebijakan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte yang sangat tegas dengan narkoba.
Dengan sudut pandang berbeda, menurut Ricky Gunawan Direktur LBH Masyarakat, salah satu solusi tepat menyelesaikan masalah narkoba adalah dengan langkah dekriminalisasi narkoba. Artinya, pemakaian narkoba diperlakukan sebagai persoalan kesehatan, bukan kriminal. 

Pro kontra dalam penanganan kasus narkoba terus berlanjut. Namun hingga saat ini belum terbukti mampu membendung tingginya laju peredaran narkoba. Solusi hanya tambal sulam, tidak tuntas.

Mengapa demikian? Karena solusi muncul dari akal pemikiran manusia. Manusia memiliki jangkauan akal yang terbatas. Tidak memahami apa yang akan terjadi di kemudian hari atau apa yang terjadi di belahan bumi yang lain. Sesama manusia pun memungkinkan terjadi perbedaan dan perselisihan dalam berpikir. Jika solusi persoalan manusia dikembalikan pada manusia itu sendiri, tentu tidak akan pernah selesai.

Lantas bagaimana? Islam sebagai solusi sempurna dari Sang Pencipta, meniscayakan manusia kembali pada aturanNya. Segala persoalan telah ada jalan keluarnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu...” (QS. Al Maidah: 3)

Jelas, Islam melarang segala sesuatu yang dapat merusak akal dan badan termasuk narkoba. Jika individu dibentengi dengan ketaatan pada syariat, masyarakat yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, disertai sanksi hukum negara yang tegas pada persoalan narkoba, Insya Allah masalah ini akan terselesaikan. Allahu a’lam.

Artikel ini tayang di Radar Jember, 2 Januaru 2019

---------------------------------------
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:
——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar