Selasa, 29 Januari 2019

Bersungguh-Sungguh Menjalankan Ketaatan


/ Bersungguh-Sungguh Menjalankan Ketaatan / 

Iman seorang Muslim memang acapkali mengalami pasang-surut. "Al-Iman yazid wa yanqush (Iman itu bertambah dan berkurang),” demikian kata Baginda Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan antara lain oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman.

Karena itu, tak sedikit Muslim yang tidak selalu berada dalam puncak kesungguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala. Kebanyakan mereka bahkan sering berada dalam level terendah—titik nadir—ketaatan.

Di sinilah pentingnya setiap Muslim untuk selalu melakukan mujahadah an-nafsi (memerangi hawa nafsu) agar ia bisa selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan berbagai ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala. 

Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman (yang artinya): "Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami pasti akan Kami tunjuki ke jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah selalu beserta orang-orang yang berbuat kebajikan" (TQS al-Ankabut: 69).

Setiap Muslim wajib terus-menerus berada dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala selama hayat dikandung badan, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): "Beribadahlah engkau kepada Tuhanmu hingga datang al yaqin (maut) kepadamu." (TQS al-Hijr: 99).

Ketaatan sesungguhnya mencakup semua hal yang wajib dan yang sunnah. Yang wajib jelas tak boleh ditinggalkan. Yang sunnah pun jangan disepelekan. Keduanya merupakan sarana yang bisa mengantarkan pada taqarrub (pendekatan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. (HR al Bukhari).

Sayang, karena faktor kesibukan duniawi atau faktor kemalasan, banyak individu Muslim yang tidak selalu bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan ini. Padahal mereka sehat dan punya banyak waktu luang. Namun, semua itu sering tak termanfaatkan dengan baik, kecuali untuk urusan dunia ataupun hal yang sia-sia. Padahal Baginda Rasulullah ﷺ telah mengingatkan, "Ada dua kenikmatan yang sering tak dihargai oleh kebanyakan manusia: sehat dan waktu luang." (HR al Bukhari).

Terkait kesungguhan dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala ini tentu kita pantas malu dengan Baginda Rasulullah ﷺ. Meski beliau sudah dijamin masuk surga, ibadah beliau kepada Allah subhanahu wa ta‘ala sungguh luar biasa, seperti orang yang paling takut terhadap azab-Nya. 

Dalam hal ini, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha pernah bertutur :”Baginda Rasulullah ﷺ senantiasa menunaikan sholat malam hingga sering kedua kakinya bengkak bengkak (karena begitu lama beliau berdiri, pen.). Aku pun bertanya kepada beliau, "Mengapa engkau melakukan ini semua, duhai Rasulullah, padahal Allah benar-benar telah mengampuni dirimu, baik terkait dosa masa lalu maupun dosa yang akan datang?" Baginda Nabi ﷺ balik bertanya, "Tidak bolehkah kalau aku ini menyukai untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur?!" (Mutaffaq 'alaih).

Demikianlah Baginda Rasulullah ﷺ. Sebaliknya, diri kita yang tak dijamin masuk surga sering malah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala. Di sisi lain, kita tidak jarang malah 'rajin' melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Memang, tidak mudah kita meneladani ketaatan Baginda Nabi ﷺ. Sebab, jalan ke surga sering terhalang oleh berbagai onak dan duri, sebaliknya jalan ke neraka malah dihiasai oleh ragam syahwat (kenikmatan dan kesenangan dunia). Demikian sebagaimana sabda Baginda Nabi: "Neraka itu dihiasi oleh ragam kesenangan dunia (syahwat), sementara surga tertutupi oleh hal-hal yang tidak disukai."(Mutaffaq'aIaih).

Makna di balik ungkapan Baginda Nabi ﷺ ini adalah: Kita hanya mungkin selamat dari azab neraka jika kita banyak meninggalkan kesenangan dunia, balk yang mubah (halal), makruh, apalagi yang haram. Sebaliknya, kita hanya mungkin bisa masuk surga dengan justru melakukan banyak hal yang sering tidak kita sukai: kesungguhan dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan.

Di dalam banyak haditsnya Baginda Rasulullah banyak mendorong setiap Muslim untuk selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan. Beliau, misalnya, bersabda, 'Jenazah itu biasa diiringi oleh tiga hal: keluarganya; hartanya; dan amalnya. Dua hal akan kembali. Satu hal akan tetap tinggal, Keluarga dan hartanya kembali, sementara amalnya tetap tinggal (menyertai jenazah)." (Mutaffaq'alaih).

Hadits ini secara tersurat mengingatkan kita agar bersungguh-sunguh dalam memperbanyak amal salih karena itulah yang akan menjadi teman setia kita saat kita wafat dan menghadap Allah subhanahu wa ta‘ala kelak, bukan keluarga atau harta; kecuali—sebagaimana sabda Baginda Nabi ﷺ—anak-anak yang shalih, ilmu yang pernah diamalkan dan harta yang pernah disedekahkan sebagai amal jariah.

Baginda Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda, "Hendaklah engkau banyak bersujud. Sebab, tidaklah engkau bersujud satu kah kepada Allah, kecuali Dia mengangkat kedudukanmu satu derajat sekaligus menghapus dari dirimu satu kesolahan/dosa)." (HR Muslim).

Semoga kita termasuk orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala.

0 komentar:

Posting Komentar