Selasa, 29 Januari 2019

Janji Allah, Tak Bisa Dihadang!



Kalau Allah sudah berjanji, maka janji-Nya itu pasti, karena, “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [TQS ar-Ra’d: 31]. Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Janji Allah itu pasti terwujud.” [TQSal-Muzammil: 18].
______________________________________

/ Janji Allah, Tak Bisa Dihadang! /

Oleh: KH. Hafidz Abdurrahman

Firman Allah, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan memberikan Khilafah kepada mereka di muka bumi, sebagaimana Dia telah memberikan Khilafah itu kepada orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [TQS. an-Nur: 55]

Allah memulai ayat tersebut dengan lafadz, “Wa’ada” [telah berjanji], dengan menggunakan fi’il madhi [dengan konotasi telah], yang bisa berarti janji-Nya itu pasti. Allah juga menyebut diri-Nya sebagai subjek [fa’il]-nya untuk menegaskan, bahwa yang berjanji adalah Dia, bukan yang lain. 

Kalau kalau Allah sudah berjanji, maka janji-Nya itu pasti, karena, “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [TQS ar-Ra’d: 31]. Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Janji Allah itu pasti terwujud.” [TQSal-Muzammil: 18].

Siapa yang diberi janji oleh Allah? Tak lain adalah orang Mukmin [al-ladzina amanu], yang melakukan amal shalih [wa ‘amilu as-shalihat], dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun [la yusyrikuna bi syai’a]. Inilah kriteria orang yang akan mendapatkan janji Allah. 

Karena itu, janji ini tidak akan diberikan kepada yang lain, selain orang Mukmin. Orang Mukmin pun tentu semuanya mendapatkan janji ini, kecuali yang beramal shalih. Konotasi amal shalih di sini, karena Allah menggunakan lafadz, as-shalihat, berbentuk ma’rifat dan jamak, tak ada lain kecuali amal perbuatan yang sesuai dengan terikat sepenuhnya dengan syarat Islam. Ini dikuatkan dengan kriteria ketiga, yaitu tidak menyekutukan Allah dengan yang lain [la yusyrikuna bi syai’a]. Artinya, tidak ada satu pun amalnya yang tidak terikat dengan yang lain, selain hukum Allah.

===

0 komentar:

Posting Komentar