Jumat, 04 Januari 2019

Khilafah; Solusi Perubahan Terbaik Menuju Kebahagiaan Hakiki


Khilafah; Solusi Perubahan Terbaik Menuju Kebahagiaan Hakiki


Siapa manusia yang tidak ingin bahagia? Pasti tidak ada. Semua manusia pasti ingin bahagia. Jika dia orang yang beragama, mana pasti dia ingin kebahagiaan dia bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Sebagaimana do’a yang senantiasa kita panjatkan: Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzab an-naar. Dan do’a itu akan terwujud tatkala kehidupan kita diatur dengan syari’ah Islam. Karena penerapan Syari’ah akan mewujudkan dua surga, surga dunia dan surga abadi di akhirat.

Namun saat ini, kehidupan umat Islam jauh dari kebahagiaan. Di Indonesia, Berbagai problem kehidupan menjerat masyarakat. Problem kemiskinan, ketidakadilan hukum, keamanan, berbagai masalah dekadensi moral dan berbagai masalah lain terus menghantui masyarakat. Di luar negeri, derita Palestina, Rohingya, Muslim Uyghur, Suriah dan lain-lain sangatlah menyayat hati. Apakah Islam tidak memiliki konsep penyelesaian terhadap masalah-masalah tersebut?  Tentu Islam mampu menyelesaikan dengan penyelesaian yang terbaik. 

Namun ironisnya, negara ditengah-tengah umat saat ini berpaling dari dari solusi-solusi Islam tersebut dan justru menerapkan sistem seluler neoliberalisme. Mereka justru menerapkan sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Rezim saat ini jauh dari ketulusan, kasih sayang dan empati terhadap penderitaan masyarakat. Sedikitpun tidak terlihat fungsinya sebagai raain (pemelihara urusan publik) dan junnah (perisai). Inilah hakikinya masalah tebesar umat Islam saat ini. Ketika mereka berusaha menjalankan syariah Allah pada masalah individual mereka, namun mereka dipaksa untuk lepas dari aturan-aturan Islam dalam masalah pengaturan kehidupan. Walhasil, kehidupan umat ini jauh dari kebahagiaan. Jauh dari predikat sebagai umat terbaik yang seharusnya disandang umat Islam. Tidakkah cukup ini sebagai pelajaran, betapa berbahayanya keberadaan sistem kehidupan sekuler berikut rezim pelaksananya. Sungguh patut kita renungkan peringan Allah SWT berikut, artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan merekaagar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(TQS Ar Ruum 41)

Karenanya, dalam kondisi seperti saat, maka dakwah tentang perlu dan wajibnya melaksanakan syariah kaffah dan khilafah sebagai institusi penerap syariah sangat diperlukan. Namun Barat menyadari bahwa tegaknya khilafah itu membahayakan bagi eksistensi penjajahan meraka di seluruh dunia. Karena itu Barat terus menerus melakukan upaya penyesatan terhadap umat dengan serangkain aksi “War On Radicalism” (WOR). Serangkaian agenda deradikalisasi digelar dengat sangat massif. Di Jember sendiri, kota tempat tinggal penulis, seminar-seminar atau kajian untuk mengkounter ide khilafah sangat sering diadakan. Sebut saja acara Kuliah Rakyat dengan tema “Negara dan Hukum Dalam perspektif Islam” yang menghadirkan Nadirsyah Hosen, Pengajar di Monash University Australis yang sangat getol mengkritisi ide khilafah. Bahkan pada waktu yang hampir bersamaan, Jember juga kedatangan seorang Syaikh dari Yordania yang juga mengkounter ide khilafah sekaligus mengkriminalisasi HTI sebagai kelompok islam yang paling getol mendakwahkan ide khilafah. Dengan berbagai agenda ini, mereka berharap umat justru phobi dengan khilafah dan kelompok-kelompok yang mendakwahkannya. Padahal jelas, Khilafah adalah ajaran Islam yang pasti akan mengantarkan pada kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat.  Dalam Surat Al-Baqarah:30 Allah SWT berfirman:“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,“Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah...” 
Saat menafsirkan ayat di atas, Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat seorang imam atau khalifah. Ia lalu menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) tersebut di kalangan umat dan para imam mazhab” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264). 

Walaupun memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada penolakan terhadap wajibnya khilafah karena sejarah menunjukkan banyak kasus pertumpahan darah sepanjang sejarah kekhalifahan. Bahkan tiga khaulafaur rasyidin yang justru tewas terbunuh. Namun kita perlu paham, bahwa kewajiban menegakkan khilafah bukanlah didasarkan pada argumentasi sejarah. Dalam Islam, yang menjadi dalil syari’at adalah Al-qur’an, As-sunnah, Ijma shahabat dan Qiyas. Namun bukan berarti sejarah lantas tidak kita perhatikan sama sekali. Sejarah dimasa lalu bisa kita ambil pelajaran dan kajian tentang pelaksanaan dari hukum-hukum syariat oleh manusia.

Selain sisi gelap khilafah yang sering di ekspos oleh barat dan antek-anteknya. Banyak fakta sejarah yang justru menunjukkan kegemilangan kekhilafahan Islam. Kesejahteraan kehidupan masyakat yang mencapai puncaknya dapat disaksikan sepanjang era peradaban Islam yang berlangsung selama 13 abad dan meliputi hampir dua per tiga dunia dalam segala aspek kehidupan. Produksi pangan berlimpah dan memenuhi kebutuhan semua populasi. Hal ini digambarkan oleh sejarawan Barat Cowell, dalam catatanya, bahwa keterampilan Muslim Spanyol dalam irigasi dan terasering, menghasilkan produktivitas pertanian jauh di luar kecerdasan. Tidak hanya itu, kebutuhan air bersih, rumah dan penerangan terpenuhi dengan begitu mengagumkan. Masyarakat hidup dalam rumah dan lingkungan yang sehat lagi asri. Sistem pendidikan khilafah benar-benar sukses mencetak output pendidikan dengan karakter dan jati diri keislaman yang sangat kuat, melahirkan para ilmuwan, pakar dan ahli dengan penemuan-penemuan jenius bernilai tinggi yang melampaui masanya. Akses pendidikan setiap individupun terjamin hingga kepelosok-pelosok negeri. Apa kunci keberhasilan para khalifah tersebut? tidak lain dan tidak bukan karena para khalifah hadir sebagai pelaksana hukumsyariah, pelaksana sistem kehidupan Islam yang berasal dari Al-Khaaliq pencipta manusia dan alam semesta. Karakter sebagai raain dan junnah begitu menonjol. Visi yang orisinil tampak darikesungguhan penyelanggarakan pemenuhan berbagai hajat hidup publik yang konsistem dalam bingkai syariah dan prinsip sohih yang diterapkan. Prinsip tersebut di antaranya adalah: 

Pertama, Penanggungjawab sepenuhnya dalam pengurusan hajat hidup publik Apapun alasan tidak dibenarkan negara hanya sebagai regulator. Ditegaskan Rasulullah saw, “Imam adalah perisai orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya” (HR Muslim).

Kedua, Pembiayaan Mutlak. Pembiayaan kemaslahatan publik wajib berlangsung di atas konsep anggaran mutlak, ada atau tidak ada kekayaan negara yang diperuntukan bagi pembiayaan kemaslahatan publik wajib diadakan negara, berapapun jumlahnya. Model pembiayaan ini niscaya ketika negara memiliki kemampuan finansial memadai, yaitu manakala kekayaan negaradikelola secara Islami. Salah satunya berasal dari harta milik umum yang tersedia berlimpah di negeri ini.Tidak dibenarkan keberadaan lembaga-lembaga unit pelaksana teknis fungsi negara seperti rumah sakit, sekolah, pendidikan tinggi sebagai sumber pemasukan kekayaan negara.

Ketiga, kekuasaan tersentralisasi, sementara administrasi bersifat desentralisasi. Ditegaskan oleh Rasulullah saw yang artinya, “Apa bila dibai’at dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya”. Aspek ini tidak saja membuat pemerintah memiliki kewenangan yang memadai sehingga keputusan bisa diambil cepat dan tepat dan implementasi yang cepat dan tepat pula, namun juga menutup celah terjadinya komersialisasi dan agenda penjajahan.

Keempat, pembangunan/ pengadaan/ penyelenggaraan kemaslahatan publik langsung oleh pemerintah. Apapun alasannya negara tidak dibenarkan mengadopsi model neoliberal kemitraan pemerintah swasta, KPS (Public Private Partnership, P3S). Karena varian apapun dari model KPS mengakibatkan pemerintah melakukan kelalaian seiring hilangnya kewenangan pentingnya. Dituturkan Rasulullah saw, yang artinya, “Apa bila dibaiat dua khilafah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya”(HR Muslim

Kelima, bebas dari agenda imperialisme yang diharamkan Allah swt apapun bentuknya. Allah swt menegaskan, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin” (TQS Al Maaidah:141).

Keenam, kendali mutu berpedoman pada tiga strategi utama. Yaitu: a. Kesederhanaan aturan; b. Kecepatan layanan; c.Dilakukan individu yang kompeten dan capable. Hal ini karena Rasulullah saw menegaskan, yang artinya, “SesungguhnyaAllah swt telah mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal...” (HR Muslim).

Sungguh Allah swt telah mengingatkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,...” (TQS Al A’raf: 96).

Pada tataran ini, dapat dipahami betapa pentingnya kembalinya kehidupan Islam, khilafah Islam, bahkan merupakan kebutuhan yang mendesak. Lebih dari pada itu, khilafah adalah ajaran Islam yang diwajibkan Allah swt kepada kita semua. Karenanya, bergabung pada perjuangan penegakan khilafah dan tidak termakan pada propaganda musuh-musuh Islam dan antek-anteknya adalah pilihan terbaik.[]

0 komentar:

Posting Komentar