Kamis, 17 Januari 2019

Menghina Pemimpin


[KAJIAN ISLAM]

/ Menghina Pemimpin /

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Soal: Ustaz, bagaimanakah tanggapan Ustaz terkait hadits di bawah ini? Nabi bersabda:

من أهان سلطان الله تبارك وتعالى في الدنيا أهانه الله يوم القيامة

===
Jawab:

Hadits tersebut ada di banyak tempat dalam kitab mashadir al-ashliyyah (kitab induk hadits), seperti Sunan al-Tirmidzi dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Di dalamnya ada satu rawi yang diperselisihkan ketsiqahannya yakni Sa'ad bin Aus. 

Dalam Sunan al-Tirmidzi sanadnya sbb:

حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مِهْرَانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ كُنْتُ مَعَ أَبِي بَكْرَةَ ...

Pandangan para ulama terkait Sa'ad bin Aus:

وقداختلفت عبارة أهل العلم في سعد بن أويس ، فضعفه يحيى ابن معين. وذكره البخاري في التاريخ الكبير ،ولم يذكر فيه شيئا. 

وذهب آخرون إلى توثيقه منهم ابن حبان، قال الحافظ الذهبي : ضعفه ابن معين، ووثقه غيره، وذكره ابن حبان في الثقات.

وأما الحافظ ابن حجر- رحمه الله- فقد خلص في الحكم عليه بأنه " صدوق له أغاليط "

Jadi, meskipun Sa'd bin Aus didhaifkan oleh banyak ulama hadits, tetapi minimal masih ditsiqahkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam al-Tsiqat. 

===

Imam al-Tirmidzi sendiri berkomentar, 

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Abu Isa (Imam Tirmidzi): "hadits ini hasan gharib." 

Hadits tersebut tidak hanya satu, ada juga dalam riwayat imam Ahmad dengan sanad sbb:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مِهْرَانَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

Tetapi dengan matan yang sedikit berbeda:

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, jika hadits tersebut diterima sebagai hadits maqbul (yakni hadits hasan sebagaimana penilaian sebagian ulama hadits) dengan alasan: (1) karena rawi Sa'd bin Aus masih ada yang tsiqahkan dan (2) terdapat jalur lain sebagai syawahid, maka pemahaman terhadap matan hadits tersebut harus tepat, sbb:

Pertama, Imam al-Tirmidzi menempatkan dalam bab Para Khalifah (al-Khulafa). Artinya, pemimpin yang dimaksud adalah khalifah, yakni pemimpin yang taat kepada Allah. 

Kedua, dalam redaksi Musnad Ahmad secara jelas diterangkan bahwa pemimpin tersebut adalah سُلْطَان اللَّهِ yakni pemimpin (yang taat) Allah.

===

Lengkapnya:

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa selama di dunia memuliakan pemimpin (yang taat) Allah, maka Allah akan memuliakannya pada hari Kiamat kelak. Dan barangsiapa selama di dunia menghinakan pemimpin (yang taat) Allah, maka Allah akan menghinakannya pada hari Kiamat kelak"

Jadi pemimpin yang tidak taat atau pemimpin yg bukan سُلْطَان اللَّهِ dikecualikan dari hadits tersebut. 

Ketiga, adapun yang Rasulullah larang adalah menghina pemimpin, dan ini adalah perkara yang ma'ruf 'inda ahlil 'ilmi. Bagaimanapun menghina pemimpin tdk dibenarkan. Menghina berbeda dengan melakukan muhasabah (koreksi) atas kebijakannya yang zalim atau menzalimi rakyat. Muhasabah al-hukkam tdk terkategori وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ. Muhasabah atas kezaliman penguasa kehujahannya ditegaskan dalam banyak hadits shahih. Misalnya hadits riwayat Abu Dawud dan Ahmad:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran terhadap penguasa yang zalim"

Dan masih banyak hadits shahih lainnya. 

Wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar