Sabtu, 12 Januari 2019

Poligami VS Prostitusi


[ TRENDING TOPIK ]

/ Poligami VS Prostitusi /

Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S (Penulis Buku)

#InfoMuslimahJember -- Prostitusi selebriti kembali menjadi sorotan, pasca tertangkapnya dua orang artis di sebuah hotel di Surabaya. Tanggapan atas hal tersebut pun beragam. Ada yang mengecam, ada pula yang takjub atas mahalnya tarif kencan sang artis.

Sebelumnya, ramai soal poligami, pasca ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, menyampaikan secara terbuka penolakannya terhadap poligami. Ia bahkan mengatakan bahwa poligami merupakan wujud penindasan terhadap kaum perempuan.

Lantas apa hubungannya antara prostitusi dan poligami? Keduanya sama-sama menyangkut hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun berbeda. Jika poligami diperbolehkan oleh syariat, maka prostitusi jelas di haramkan.

Dengan demikian, sungguh tercermin betapa sistem kehidupan sekuler liberal yang diterapkan hari ini meniscayakan lahirnya pemutarbalikan dalam pemikiran. Yang boleh diharamkan, sedangkan yang haram dianggap biasa bahkan dilegitimasi oleh negara.

Bagaimana tidak, poligami yang jelas-jelas mubah (boleh) diserang dengan berbagai opini negatif tentangnya. Sehingga banyak orang yang pada akhirnya menghujat poligami. Padahal poligami merupakan sebuah kebolehan yang telah ditetapkan oleh syariat. Tidak ada satu manusia pun yang berhak mengharamkannya.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3].

Adapun prostitusi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah di negeri ini. Wanita penjaja seks dilabeli sebagai "pekerja" dan "penyedia jasa". Bahkan mereka tak dapat terjerat KUHP, karena memang tidak ada sanksi atas Pekerja Seks. Yang akan terkena sanksi adalah para muncikarinya. Inilah pemutarbalikan kebenaran yang sangat memprihatinkan.

Padahal, dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan yang diharamkan. Bahkan pelakunya harus dikenai sanksi tegas yakni dengan hukuman dera (cambuk) 100 kali bagi yang belum pernah menikah. Dan hukum rajam, jika sudah pernah menikah.

Maka wajarlah jika dalam sistem sekuler liberal hari ini, prostitusi kian menjamur. Betapa tidak, tempat-tempat lokalisasi seolah dilegalkan. Sungguh, sangat banyak tempat-tempat lokalisasi prostitusi terkenal dan cukup besar di seluruh penjuru Indonesia.

Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan nampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh, hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, segala perkara dapat didudukkan secara adil. Halal-haram menjadi jelas. Baik-buruk menjadi tak lagi relatif berdasarkan kepentingan manusia. Sebab dalam naungan sistem Islam, semua perkara hanya disandarkan pada aturan Allah saja. Wallahu a'lam

—————————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:





——————————
Grup WhatsApp: 08978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar