Kamis, 14 Februari 2019

Jangan Sombong! Yang Gaji Kamu Siapa?


[ SUARA MUSLIMAH ]

// Jangan Sombong! Yang Gaji Kamu Siapa? //
Oleh. Ulfiatul Khomariah
(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Menggemparkan! Sindiran Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara soal gaji masih asyik diperbincangkan oleh netizen dengan cuitan #YangGajiKamuSiapa. Tagar ini mendadak menjadi trending di media sosial, bahkan sempat masuk trending topik dunia. Tercatat setidaknya ada 85.700 cuitan yang menggunakan tagar ini.

Kegaduhan di dunia maya itu bermula dari ucapan Rudiantara di acara Kominfo Next yang berlangsung di Hall Basket Senayan, Jakarta, Kamis, 31 Januari 2019. Dalam acara tersebut, Rudiantara meminta pegawainya untuk memilih stiker Pemilu 2019. Ada dua desain stiker yang disediakan. Stiker dengan suara terbanyak akan dipasang di kantor Kominfo.

Pertanyaan voting Rudiantara soal preferensi desain stiker, apakah nomor satu atau nomor dua itu sontak memancing sorak sorai pegawai Kominfo. Setelah dilakukan voting, Rudiantara memutuskan desain yang dipilih ialah yang kedua karena mendapatkan suara terbanyak. Namun, dia lantas memanggil seorang perempuan yang memilih desain nomor dua dan menanyakan alasannya. Alhasil, jawaban perempuan itu menjurus ke pilpres 2019.

Mendengar jawaban perempuan tersebut, Rudiantara nampaknya heran. Sebab, dia menanyakan masalah alasan memilih desain stiker, bukan terkait dengan Pilpres. Sesaat setelah meminta pegawainya itu kembali ke tempat duduk, Rudiantara melanjutkan pertanyaannya di atas panggung yang ditujukan kepada perempuan yang memilih stiker nomor dua tersebut. “Bu, Bu, yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Bukan keyakinan ibu? Ya sudah makasih,” katanya.

Pernyataan Rudiantara ini sontak menjadi perbincangan hangat, bahkan menjadi trending topik dunia. Meskipun sebelumnya Rudiantara sudah menegaskan bahwa pemilihan stiker itu tidak terkait dengan Pilpres. Namun, sikapnya yang demikian sangat syarat dengan kepentingan politik. Bisa kita lihat dari bagaimana penyiapan stiker, mengapa hanya ada dua stiker yang disediakan? Apalagi stiker ini dilabeli dengan angka 1 dan 2, maka wajar bila hal itu dihubungkan dengan capres paslon nomor 1 dan nomor 2.

Sementara tindakan Rudiantara yang menyindir pegawai perempuan itu menuai kontroversi di tengah masyarakat. Pertanyaan “Yang Gaji Kamu Siapa?” sungguh tidak pantas jika dilontarkan oleh seorang pejabat publik kepada rakyat sipil. Sangat bahaya sekali jika seorang pejabat publik membangun perspektif bahwa uang negara yang berasal dari rakyat itu adalah uang penguasa sehingga mengintimidasi pegawainya dengan pertanyaan yang intimidatif.

Seharusnya sebagai pejabat publik mampu bijak dalam bersikap. Terlebih tahun ini merupakan tahun politik, dimana setiap permasalahan pasti dikait-kaitkan dengan politik. Bahkan berbeda pilihan warna saja bisa syarat dengan politik. Jikalaupun Rudiantara ingin bersikap netral, tentu harus berfikir terlebih dahulu mengapa pemilihan stikernya kok hanya ada dua, lalu mengapa harus ada pernyataan “yang gaji kamu siapa?” kepada seorang pegawai yang memilih stiker nomor dua tersebut.

Hal ini menjadi bukti bahwa tidak ada yang netral dalam masalah politik, terlebih rezim saat ini memang sangat terlihat sekali kecenderungannya. Meskipun sudah sering disampaikan kepada masyarakat bahwa lembaga eksekutif harus netral dalam pilpres, tapi faktanya tidak demikian. Ditambah lagi, pertanyaan seorang menteri yang mengungkit masalah siapa yang menggaji selama ini pasti akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri beserta jajarannya.

Sungguh tidak pantas jika pertanyaan “yang gaji kamu siapa” dilontarkan kepada rakyat sipil. Karena ketika pejabat negara dipilih untuk menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyat, disitulah mereka berhak untuk mendapatkan hasil dari kerjanya berupa upah/gaji. Dan sudah pasti yang memberikan mereka upah/gaji bukanlah pemerintah, melainkan negara. Gaji yang selama ini mereka dapatkan sumber pendapatannya dari rakyat, yakni dengan menyedot pajak dari rakyat. Sedangkan pemerintah hanya sebagai fasilitator saja. 

Maka dari itu, sangat tidak pantas jika ada seorang pejabat negara mendiskreditkan bawahannya, menanyakan dengan nada tinggi “yang gaji kamu siapa?”. Sombong! Padahal gaji yang selama ini mereka peroleh asalnya dari rakyat. Ini menjadi bukti bahwa rezim saat ini menjadikan kekuasaan sebagai cara untuk berbuat semena-mena kepada rakyat. Hei para pemegang kekuasaan, jangan sombong! Seharusnya kami yang berhak bertanya, memangnya yang gaji kalian siapa? 

Wallahu a’lam bish-shawwab

0 komentar:

Posting Komentar