Sabtu, 02 Februari 2019

Tabloid yang Mulai Layu, Mekar Lagi Menjelang Pemilu. Ada Apa??



Tabloid yang Mulai Layu, Mekar Lagi Menjelang Pemilu. Ada Apa??
(Mahasiswa FISIP Ilmu Komunikasi UT Jember dan Seorang Professional Blogger)

Bisnis media cetak telah mulai meredup kurang lebih dari satu dekade yang lalu. Turunan media ini seperti tabloid, majalah, koran dan buku merupakan beberapa jenis media cetak yang mulai tergerus oleh penetrasi media online.

Di Indonesia sendiri minat membaca –surat kabar- penduduk berusia 10 tahun ke atas terus menurun dari tahun ke tahun. Dalam konteks pembaca dan pasar maka coverage media cetak makin berkurang. Dengan kata lain, penduduk sedikit demi sedikit telah kehilangan minatnya pada media cetak. Bisnis ini pun menjadi layu.

Tetapi belakangan ini, di sejumlah kota di Jawa Timur seperti Jember dan Situbondo –juga berbagai kota lain di Indonesia-, sebuah tabloid ‘kembali’ menjadi pusat perhatian. Ribuan eksemplar tabloid Indonesia Barokah diamankan oleh bawaslu (badan pengawas pemilu) dan kepolisian setempat.

Tabloid ini pun semakin menjadi primadona ketika petinggi-petinggi negara mulai memberikan komentar. Contohnya ketua umum Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla yang menyarankan agar imam masjid yang menerima tabloid tersebut untuk membakarnya. Hal ini dikarenakan memang tujuan pengiriman atau penyebaran tabloid tersebut adalah imam masjid dan pondok pesantren.

Usut punya usut, tabloid ini dianggap telah menimbulkan keresahan masyarakat. Tabloid ini dianggap memecah belah ummat dan disinyalir berisi kritikan serta merugikan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden, dalam hal ini capres dan cawapres nomor urut 02.

Menjelang pemilu yang akan menentukan pemimpin bangsa untuk periode 5 (lima) tahun mendatang, kampanye memang digalakkan oleh kubu capres dan cawapres terpilih. Tujuannya supaya rakyat bisa mengenali calon pemimpin mereka beserta visi dan misinya, dengan harapan rakyat melakukan pemilihan secara tepat.

Masa kampanye sebenarnya tak ubahnya seperti perang. Sangat lazim masing-masing kubu berusaha untuk menonjolkan pihaknya dan menjatuhkan lawannya. Konsultan Politik dari Parameter Konsultindo, Agus Aribowo, mengatakan ada cara dalam politik untuk menumbangkan lawan yang kuat. Ia mengatakan dalam bahasa ilmiahnya adalah bermain dengan current issue (tribunnews.com).
Meskipun begitu memainkan isu –yang sedang hangat- seperti ini bisa berujung pada dua hal : pertama, hal itu bisa jadi akan meledak dan besar. Kedua, hal itu bisa jadi akan meredup begitu saja.

Di dalam dunia politik, ada istilah black campaign dan negative campaign. Masih kata Agus Aribowo, keduanya merupakan dua hal berbeda, black campaigne adalah kampanye yang dilakukan dengan menyebarkan fitnah. Sementara negative campaign adalah kampanye yang dilakukan dengan menebar fakta. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama yakni dalam rangka menjatuhkan lawan.

Kampanya masif pada jaman sekarang dilakukan di berbagai media komunikasi yang ada, terutama media komunikasi online atau daring seperti media sosial, portal berita dan televisi. Meskipun tidak menutup kemungkinan dengan melakukan kampanye via luring seperti dengan menyebar tabloid.

Kericuhan penyebaran tabloid Indonesia Barokah yang jelas bertujuan memecah belah ummat dan menjatuhkan lawan dari kubu petahana menunjukkan betapa suara ummat Islam begitu penting sehingga ada upaya gigih untuk menyebarkannya pada para imam masjid dan pondok pesantren secara massif.

Tak pelak pro-kontra pun terus berdatangan dari berbagai pihak. Upaya penyelidikan asal muasal tabloid ini pun dilakukan. Namun karena dari penelusuran yang dilakukan bawaslu, tidak ditemukan darimana asal-muasal tabloid itu, maka tabloid itu dinyatakan tidak melanggar aturan kampanye. Pernyataan ini pun mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak.

Ayzumardi Azra, seorang cendekiawan muslim berpendapat bahwa tabloid itu bisa merusak dan mengganggu suasana kondusif jelang pemilu 2019. “Iya secara teknis bisa aja itu bukan pelanggaran. Itu boleh jadi mendorong munculnya lagi tabloid-tabloid semacam itu. yang mendiskreditkan, mendelegitimasi, menyebarkan hoax terhadap capres lain. Saya kira polisi harus mengusut siapa yang menerbitkan, mencetak dan menyebar. Supaya tidak mengganggu pilpres.” Paparnya (detiknews.com).

Sementara wakil ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid menganggap bawa alasan yang disampaikan oleh bawaslu sebagai suatu hal yang “lucu”. Hal ini diungkapkan dalam unggahan twitternya ketika menanggapi berita mengenai hal tersebut.

Namun sepertinya keriuhan yang ditimbulkan oleh kemunculan tabloid ini tidak membuat pemerintah ‘tertarik’ untuk mengambil tindakan. Entah karena tabloid tersebut berisi diskredit dari pihak oposisi sehingga merasa tidak ada kerugian bagi petahana atau karena merasa bahwa adanya tabloid pemecah ummat ini dianggap sebagai isu yang ‘tidak genting’.

Tetapi yang pasti sikap rezim yang melakukan pembiaran terhadap penyebaran tabloid Indonesia Barokah dan pro kontra keberadaan tabloid menggambarkan lemahnya rezim menyelesaikan masalah.
Hal ini berbeda bila dipandang dari sudut pandang Islam, dimana adanya larangan menyebarkan berita hoax dan propaganda memecah belah ummat maka pemerintah atau penguasa seharusnya memperhatikan konten dan penyebaran suatu informasi secara massif pula. Sehingga tidak sampai menimbulkan keresahan masyarakat. 

Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar