Sabtu, 23 Maret 2019

RUU P-KS, Upaya Sistemik Penghancuran Institusi Keluarga



RUU P-KS, Upaya Sistemik Penghancuran Institusi Keluarga

Oleh : Etti Budiyanti*

Indonesia darurat kekerasan seksual. Itulah kesimpulan dari Komnas Perempuan. Angka tindak kekerasan seksual dari tahun ke tahun semakin tinggi. Tahun 2014 tercatat 4.475 kasus, tahun 2015 tercatat 6.499 kasus dan tahun 2016 tercatat 5.785 kasus. Korban anak-anak dan perempuan mencapai 83 persen.

Tentunya, ini sangat ironi, Indonesia yang dikenal akan budaya sopan santun justru menyimpan kasus kekerasan seksual yang melimpah.

Hal inilah yang mendorong lahirnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Dari namanya terkesan Undang-Undang ini sangat baik dan melindungi perempuan, tapi kalau kita mau peduli dan mencermati klausul demi klausul dalam RUU ini, justru penghancuran keluargalah yang menjadi incarannya. Ngeri sekali.

Dalam RUU P-KS ini terdapat klausul tentang *kontrol sosial*. Inilah yang mengerikan. Setiap orang tidak boleh mengontrol hak seksual orang lain.

Dari klausul tersebut akan memberikan dampak, antara lain :

1. Orang tua tidak boleh mengontrol hak seksual anaknya, artinya tatkala anak ingin melakukan hubungan seksual, orang tua tidak boleh mengontrol hasrat seksual anak. Dan ketika orang tua mengontrol hasrat seksual anak, maka orang tua bisa dipidanakan.

2. Apabila seorang suami, dia minta dilayani oleh istrinya, kemudian istrinya tidak mau melayani, maka tatkala suami memaksa istri berhubungan intim dengannya, si suami bisa dikenakan pidana karena dia telah melakukan kontrol sosial dengan memaksa istri.

3. LGBT akan dilegalkan di Indonesia. Karena tatkala seorang laki-laki memiliki hasrat seksual kepada laki-laki lain, itu adalah hak dia untuk menyalurkan hasratnya. Maka tatkala ada orang yang menegur atau tidak suka, orang yang menegur itu justru yang akan dipidana dengan tuduhan melakukan kontrol sosial. Begitu pula bila terjadi kasus wanita menyukai wanita lain.

Hal prinsipil itulah, yang sangat mengerikan apabila RUU ini disahkan. RUU yang sangat bernuansa liberal yang menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya dalam mengatur kehidupan dunia. Kaum liberal yang selalu berslogan my body my authority. Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. 

Dalam Islam, kita terikat oleh aturan dari Allah SWT ketika menjalani kehidupan ini, karena apapun yang kita lakukan akan dihisab, yang akan mengantarkan kita hendak ke surga atau neraka.

Ide-ide RUU P-KS ini bila diterapkan sangat menghancurkan keluarga muslim. Allah SWT sudah mengatur bagaimana menjalani kehidupan keluarga yang selalu menumbuhkan ketakwaan seluruh personal keluarga.

Dampak dari pelaksanaan RUU P-KS ini sangat bertentangan denga Islam, antara lain :

1. Orang tua tidak boleh mengontrol hasrat seksual anak.
Allah SWT berfirman yang artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." TQS. At Tahrim ([66]:6).
RUU P-KS mengakibatkan orang tua tidak bisa lagi mengontrol akhlak anak sementara dalam Islam orang tua berkewajiban mengontrol anaknya supaya tidak masuk neraka.

2. Seorang suami akan dipidanakan apabila memaksa istri melayaninya. 
Padahal menurut Islam, malaikat akan mengutuk istri yang tidak mau melayani suaminya sampai fajar. Melayani suami merupakan kewajiban istri dan akan mendapatkan pahala yang besar. Ide RUU P-KS ini kental dengan paham feminisme di mana istri memiliki hak prerogatif atas tubuhnya. 

3. LGBT akan dilegalkan. Padahal Allah sangat melaknat kaum Sodom yang telah melakukan perbuatan pelaku LGBT.

Demikianlah kengerian yang akan muncul apabila RUU P-KS ini disahkan. Islam sudah mengatur bagaimana agar Islam bisa diterapkan. Ketakwaan individu, kontrol masyarakat serta negara dengan segenap regulatornya yang menerapkan syariah Islam, merupakan tiga pilar agar terwujud negeri baldatun thoyyibatun warrobun ghofur. Maka kembali kepada kehidupan Islam adalah solusi semua permasalahan hidup termasuk upaya prefentif dan kuratif kekerasan seksual. Sehingga institusi keluarga bisa terselamatkan.

Wallahu a'lam bishshowwab.

0 komentar:

Posting Komentar