Minggu, 21 April 2019

Isra’ Mi’raj dan Kepemimpinan Umat Islam


Isra’ Mi’raj dan Kepemimpinan Umat Islam

Oleh : Ustadz Rokhmat S. Labib


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (TQS al-Isra’ [17]: 1).

Ini merupakan ayat pertama dalam al-Isra’. Isinya menceritakan tentang diperjalankannya Rasulullah saw dari al-Masjid al-Haram yang berada di Makkah ke al-Masjid al-Aqsha di Palestina.

Perjalanan Isra’

Allah Swt berfirman: 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha

Kata subhâna merupakan bentuk masdar dari kata sabbaha, yang berarti nazzaha (mensucikan). Maknanya, sebagaimana dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam Zâd al-Masîr adalah al-tanzîh lil-Lâh min kulli sû’ (mensucikan Allah dari segala keburukan). Menurut al-Baghawi, dalam konteks ayat ini, kata tersebut bermakna al-ta’ajjub (menyatakan kekaguman dan ketakjuban).

Ibnu Katsir berkata, “Allah Swt memulai surat ini dengan mengagungkan diri-Nya dan menggambarkan kebesaran peran-Nya, karena kekuasaan-Nya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain Dia sendiri. Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, 5/5).

Diberitakan bahwa Allah Yang Maha Suci telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam. Tidak ada perbedaan di kalangan mufassir bahwa yang dimaksud dengannya ‘abdihi adalah Rasulullah saw. Kata ‘abdihi itu --bagi sebagian mufassir—sekaligus juga menunjukkan bahwa yang di-isra’-kan itu melibatkan ruh dan jasad beliau.

Kata al-isrâ’ sesungguhnya mengandung pengertian perjalanan di malam hari. Oleh karena itu, ketika disebutkan layl[an] (malam hari), maka bisa berfungsi sebagai ta’kîd (penegas). Bisa juga menunjukkan makna singkatnya tempo perjalanan itu. Bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya dari Makkah ke Syam hanya sebagian waktu malam. Padahal, dengan perjalanan biasa, jarak itu ditempuh selama empat puluh malam. Kata layl[an] yang berbentuk nakirah memberikan makna ba’dhiyyah (sebagian). Demikian Fakhruddin al-Razi dan al-Syaukani dalam tafsirnya.

Kata al-Masjid al-Harâm menunjuk kepada sebuah masjid di Makkah. Dalam suatu riwayat dikisahkan, pada malam itu beliau berada di Hijr Baitullah. Dalam riwayat lain, beliau tidur di rumah Ummu Hani’. Riwayat ini dianggap masih sejalan dengan ayat ini. Sebab, sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abbas, al-Haram itu semuanya adalah masjid.

Sedangkan al-Masjid al-Ashâ adalah Bayt al-Maqdis yang terletak di Palestina. Dijelaskan Ibnu Katsir, Baitul Muqaddas yang terletak di Elia (Yerussalem) merupakan tempat asal para nabi sejak Nabi Ibrahim as. Karena itulah para nabi dikumpulkan di Masjidil Aqsa pada malam itu, lalu Nabi saw mengimami mereka di tempat mereka dan negeri mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah al-imâm al-a’zham (imam terbesar) dan al-raîs al-muqaddam (pemimpin yang didahulukan). Semoga shalawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, 5/5). 

Lalu disebutkan: 
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ 
Yang telah Kami berkahi sekelilingnya
Bahwa di sekitar Masjid al-Aqsha itu diberkahi oleh Allah Swt. Berkah itu berupa melimpahnya materi, seperti air, tumbuhan, buah-buahan, dan sebagainya. Juga, berupa non materi, seperti banyaknya nabi yang diutus, diturunkannya malaikat, dan banyaknya tempat ibadah. Menurut al-Samarqandi, tanah yang berkahi itu meliputi beberapa kota di sekelilingnya, seperti Damaskus, Yordan, dan Palestina.

Kemudian Allah Swt menjelaskan tujuan perjalanan itu:
لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا 
Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami

Kata âyâtinâ adalah berbagai keajaiban yang menjadi tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt, di bumi dan di langit. Ditambahkannya kata min sebelum âyâtinâ menunjukkan bahwa tanda yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw itu hanya sebagian. Sebab, kata min di sini bermakna li al-tab’îdh (untuk menunjukkan sebagian).

Dalam banyak hadits shahih diceritakan, banyak kejadian menakjubkan yang beliau jumpai pada saat itu. Dari Makkah ke Baitul Maqdis beliau disertai Jibril menaiki kendaraan buraq. Sesampai di Masjid al-Aqsha, beliau dipertemukan dengan nabi-nabi terdahulu. Beliau pun shalat bersama mereka dan didaulat sebagai imamnya. Setelah itu, beliau mi’raj (naik) ke langit dunia bersama Jibril. Di setiap tingkatan langit, beliau disambut secara berturut-turut oleh Adam, Yahya dan Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Setelah itu, beliau naik ke sidrat al-muntahâ, lalu ke bait al-ma’mûr, kemudian menghadap Rabbnya. Beliau juga diperlihatkan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan surga dan siksa neraka. Juga, diberikan taklif shalat lima puluh waktu dalam sehari, hingga akhirnya tinggal lima waktu. Semua itu merupakan sebagian tanda kekuasaan-Nya yang diperlihatkan kepada beliau.

Kemudian ayat ini ditutup dengan firman-Nya: 
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat

Bahwa Allah Swt Maha mendengar semua ucapan hamba-Nya, dan Maha melihat semua perbuatan hamba-Nya.

Tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, sangat banyak diterangkan dalam Hadits.

Ujian Keimanan dan Alih Kepemimpinan

Peristiwa yang terjadi setahun menjelang hijrah itu –menurut sebagian riwayat-- tentu amat menggemparkan penduduk Makkah. Bagi sebagian orang, kejadian itu dianggap tidak rasional. Mereka pun menuduh Rasulullah saw telah berbohong. Provokasi itu cukup berpengaruh terhadap orang-orang yang lemannya. Bahkan ada di antara mereka yang murtad. Sebaliknya, bagi orang yang kuat imannya, kejadian itu justru makin memperkuat. Abu Bakar adalah salah satunya. Lantaran langsung membenarkan berita itu, beliau mendapatkan gelar al-shiddîq (yang membenarkan).

Menurut Rawwas Qal’ahji, pada peristiwa isra’ mi’raj itu terdapat tiga poin yang penting dipahami. 

Pertama, isra’-nya Rasulullah saw ke Baitul Maqdis dan shalatnya beliau di sana. Kedua, tampilnya Rasulullah saw sebagai imam bagi para nabi. Ketiga, pilihan Rasulullah saw terhadap gelas yang berisi susu, seraya menolak khamr.

Tampilnya Rasulullah saw menjadi imam bagi para nabi itu mengisyaratkan terjadinya alih kepemimpinan bagi umat manusia. Kepemimpinan yang sebelumnya dipegang Bani Israil dengan ditandai banyaknya nabi dari kalangan mereka dialihkan kepada beliau dan umatnya. Isra’nya beliau di Baitul Maqdis dan tampilnya beliau sebagai imam mengisyaratkan bahwa Baitul Maqdis dan sekitarnya termasuk bagian dari daerah kekuasaan negara yang akan beliau dirikan. Alasannya, tuan rumahlah yang berhak menjadi imam dalam shalat. 

Pilihan Rasulullah saw terhadap susu dan dibenarkan Jibril yang menyatakan bahwa pilihan beliau itu sesuai dengan fitrah mengandung maksud bahwa sistem yang diturunkan kepada beliau untuk memimpin manusia itu merupakan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia.

Ketiga, poin itu memang benar-benar terealisasi. Kurang lebih setahun kemudian, beliau berhasil mendirikan negara di Madinah. Ketika beliau dipanggil ke hadirat-Nya, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Islam. Baitul Maqdis dan sekitarnya pun dikuasai beberapa tahun kemudian. Tepatnya, ketika Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah. Dan itu terus berlangsung hingga khilafah Utsmaniyyah runtuh. Memang daerah itu sempat dikuasai pasukan salib, namun tentara Islam segera bisa merebutnya kembali.

Seharusnya, peringatan Isra’ Mi’raj yang rutin dilakukan setiap tahun itu menyadarkan tentang beberapa poin di atas. Jika kini umat Islam kehilangan khilafah sehingga tidak lagi menjadi pemimpin dunia; jika Baitul Maqdis yang seharusnya di bawah kekuasaan Islam justru dikangkangi institusi Yahudi, sementara umat Islam diam dan tidak merasa bersalah akan hal itu, maka peringatan Isra’ Mi’raj perlu dipertanyakan dampak yang dihasilkan. Akankah kita tidak tergerak untuk merubahnya? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

0 komentar:

Posting Komentar